RADARSEMARANG.ID — KH Ma’ruf Khozin dalam buku kecil berjudul Mana Dalil Nishfu Syaban menjelaskan, Puasa Nisfu Syaban dianjurkan untuk dikerjakan karena termasuk hari-hari purnama atau ayyamul bidh (tanggal 13-14-15 Hijriyah) yang dianjurkan untuk berpuasa di setiap bulan.
Dalil puasa Nisfu Syaban disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah.
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Dari [Ali bin Abu Thalib] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila malam nisfu Syaban (pertengahan bulan Syaban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rezeki maka Aku akan memberinya rezeki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar.“
Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah yang dilakukan tiga hari dalam tiap bulan ketika rembulan sedang purnama yakni, tanggal 13, 14 dan 15 tiap bulan qamariyyah. Ayyamul Bidh artinya hari-hari putih.
Dalil disunnahkannya puasa Ayyamul Bidh ini tertuang dalam hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam At Tirmidzi dan Imam Nasai, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“Hai Abu Dzar, “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR Tirmidzi dan an Nasai)
Imam Bukhari menulis sebuah bab di dalam Kitab Shahihnya dengan judul : “puasa hari-hari bidh (hari putih/purnama)”, hari ke 13, 14 dan 15).
Dinamai ayyamul bidh terkait dengan kisah Nabi Adam AS ketika diturunkan ke muka bumi.
Riwayat Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari sehingga menjadi hitam/gosong.
Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya untuk berpuasa selama tiga hari (tanggal 13, 14, 15).
Ketika berpuasa pada hari pertama, sepertiga badan Nabi Adam As menjadi putih.
Puasa hari kedua, sepertiganya lagi menjadi putih.
Puasa hari ketiga, sepertiga sisanya menjadi putih.
Bagaimana Hukumnya Menggabungkan Niat Puasa Ayyamul Bidh dengan niat puasa qadha Ramadan
Sahabat Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib ra berbeda pendapat tentang masalah qadha’ puasa Ramadan dilakukan pada 10 pertama bulan Dzulhijjah.
Sahabat Umar menganggapnya hari itu (10 pertama Dzulhijjah) adalah hari terbaik untuk beribadah, maka qadha puasa Ramadan pada tanggal itu termasuk waktu terbaik.
Adapun Ali bin Abu Thalib melarangnya (puasa qadha Ramadan dilakukan 10 pertama Dzulhijjah).
Dari Imam Ahmad sendiri ada dua riwayat.
Pendapatnya Ali bin Abu Thalib dilandasi dari alasan bahwa qadha Ramadan di bulan Dzulhijjah itu meninggalkan fadhilah puasa sunnahnya.
Alasan ini pula yang diberikan oleh Imam Ahmad.
Meski ada yang berkata juga bahwa fadhilah puasa sunnah tetap didapatkan meski niat puasa qadha Ramadan.
Karena itu, bagi Muslim yang masih punya utang Puasa Ramadan boleh dilakukan berbarengan dengan puasa sunnah Ayyamul Bidh.
Nah, berikut ini bacaan niat puasa ayyamul bidh sekaligus qadha Ramadhan.
Namun, niat Puasa Qadha Ramadan ini tidak boleh dicampur dengan niat puasa sunnah.
Sebab, qadha atau mengganti puasa wajib seperti Puasa Ramadan itu hukumnya wajib.
Niat qadha Puasa Ramadan ini harus dilakukan pada malam hari atau saat makan sahur.
Syarat ini mendasarkan pada Hadits Rasulullah SAW.
“من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له”-
“Siapa yang tidak menetapkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya”.
Niat Puasa Ayyamul Bidh Sekaligus Qadha Ramadan
نويت صوم غد عن قضاء فرض رمضان لله تعالى.
Nawaitu Shauma Ghadin ‘An Qadha’i Fardi Ramadhani Lillaahi Ta’Ala.
Artinya : Saya niat berpuasa besok dari mengqadha’ fardu ramadhan Lillaahi Ta’ala.
Sedangkan Puasa Senin Kamis adalah amalan sunnah dengan banyak keutamaan. Semasa hidupnya, Rasulullah SAW tak pernah melewatkan puasa ini.
Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Amal-amal perbuatan itu diajukan ke hadapan Allah pada hari Senin dan Kamis. Oleh karenanya, aku ingin agar amal-amal perbuatanku itu diajukan saat aku sedang berpuasa.” (HR At-Tirmidzi)
“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Niat Puasa Senin Kamis
Berikut bacaan niat puasa Senin Kamis:
1. Niat Puasa Senin
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu sauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Senin, sunnah karena Allah Ta’ala.”
2. Niat Puasa Kamis
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu sauma yaumal khomiisi sunnatan lillahi ta’ala.
Baca Juga: Jadwal Haul, Biografi, Manaqib Habib Hasan bin Thoha bin Yahya Syekh Kramat Jati Semarang
Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Kamis, sunnah karena Allah Ta’ala.”
Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh
Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh bagi Muslim yang menjalankannya sangat banyak.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Dimulai Juli Ini, Sistem Pendidikan di Sekolah Rakyat Kata Mensos Gus Ipul
Karena itu, Muslim dianjurkan untuk tidak menyia-nyiakan menjalankan puasa sunah yang dilakukan tiga hari dalam tiap pertengahan bulan.
Berikut keutamaan puasa Ayyamul Bidh:
1. Seperti Puasa Sepanjang Tahun
Menjalankan ibadah puasa sunnah Ayyamul Bidh seperti berpuasa selama setahun.
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari).
2. Tiket Surga Ar Rayan
Ahli puasa akan mendapatkan pintu khusus untuk masuk surga saat di akhirat nanti. Ahli puasa akan masuk melalui pintu Ar-Rayyan, termasuk orang yang melakukan puasa Ayyamul Bidh.
إن في الجنة بابًا يقال له: الريان، يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل منه أحد غيرهم. يقال: أين الصائمون؟ فيقومون لا يدخل منه أحد غيرهم، فإذا دخلوا أغلق فلم يدخل منه أحد
“Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang namanya “Ar-Rayyan,” yang akan di masuki oleh orang-orang yang sering berpuasa kelak pada hari kiamat, tidak akan masuk dari pintu itu kecuali orang yang suka berpuasa. Di katakan : Manakah orang-orang yang suka berpuasa? maka mereka pun berdiri dan tidak masuk lewat pintu itu kecuali mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itu di tutup sehingga tidak seorang pun masuk melaluinya lagi. (HR Bukhori dan Muslim).
3. Puasa dengan mengikuti anjuran Rasulullah SAW
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk melakukan puasa sunnah tersebut.
Dalam hadis disebutkan bahwa, anjuran ini jangan sampai ditinggalkan selama hidup.
Wasiat tersebut disampaikan oleh Rasulullah untuk dijalankan agar kita mendapatkan manfaatnya.
4. Puasa dengan mencontoh kebiasaan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW tidak hanya menganjurkan untuk berpuasa tiga hari dalam sebulan, tetapi beliau juga menjalankannya sepanjang hidupnya.
Berdasarkan cerita Mu’adzah al-Adawiyah ra, ia pernah bertanya pada Aisyah ra, ”Apakah Rasulullah berpuasa tiga hari setiap bulan?”. Jawab Aisyah, ”Benar.” Ia bertanya lagi, ”Bulan apa saja?”. Aisyah menjawab, ”Tak peduli bulan yang mana saja.” (HR. Muslim).
Apabila kita melaksanakannya, kita telah mencontoh kebiasaan Rasulullah SAW sehari-hari yang sudah jelas baik dan bermanfaat.
Rasulullah SAW juga berkomitmen untuk melaksanakan puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 dan tidak pernah meninggalkan amalan ini dalam kondisi apapun.
Meskipun sedang di rumah maupun bepergian, Rasulullah tetap menjalani puasa sunnah Ayyamul Bidh.
Hukum Menggabung Puasa Sunnah
Mengutip buku Amalan Ibadah Bulan Dzulhijjah yang ditulis Hanif Lutfi, menggabung puasa sunnah satu dengan yang lainnya diperbolehkan ketika bersamaan dalam satu hari.
Pendapat ini disebutkan juga oleh ulama Syafi’iyyah, Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmu’,
“Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan nama puasa di niat) dalam puasa rawatib seperti puasa ‘Arafah, puasa Asyura, puasa Bidh (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa enam hari Syawwal seperti ta’yin dalam salat rawatib,” jelas Iman an-Nawawi.
Sesuai dengan itu Prof Dr Wahbah Az Zuhaili dalam Kitab Fiqhul Islam wa Adilatuhu menuturkan bahwa niat ibadah yang sama-sama sunnah kemudian digabungkan maka hukumnya sah.
Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, berikut jadwal puasa Ayyamul Bidh Juli 2025.
Rabu, 9 Juli 2025 / 13 Muharram 1447 H
Kamis, 10 Juli 2025 / 14 Muharram 1447 H
Jumat, 11 Juli 2025 / 15 Muharram 1447 H
Bacaan Niat Puasa Ayyamul Bidh
نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ayyâmil bîdl lillâhi ta'âlâ
Artinya: "Saya niat puasa Ayyamul Bidh (hari-hari yang malamnya cerah), karena Allah ta'âlâ."
Bolehkah Puasa Ayyamul Bidh Tidak 3 Hari?
Puasa Ayyamul Bidh dianjurkan untuk dikerjakan selama tiga hari berturut-turut.
Lalu, bagaimana jika muslim hanya mengerjakan puasa tersebut satu atau dua hari saja?
Syaikh Ibn Baz dalam kitab Fatawa Ibn Baz menyebut kebolehan puasa Ayyamul Bidh meski hanya satu hari.
"Jika tidak memungkinkan, boleh tidak berpuasa pada tanggal 13 Hijriah.
Jadi ia berpuasa pada tanggal 14 dan 15 Hijriah," kata Syaik Ibn Baz yang diterjemahkan Syed Muhammad Soleh al Munajid pada buku buku Supaya Ramadhan Sempurna.
Tetapi perlu dipahami, puasa Ayyamul Bidh lebih utama jika dikerjakan tiga hari sesuai ajaran Rasulullah SAW. Dengan begitu, keutamaan yang diraih muslim menjadi lebih sempurna.
Keistimewaan Puasa Ayyamul Bidh
Berikut beberapa keutamaan puasa Ayyamul Bidh yang dikutip dari buku Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi yang diterjemahkan Fedrian Hasmand. - Laksana puasa setahun
- Wasiat dari Rasulullah SAW
- Sunnah Rasulullah SAW semasa hidupnya
- Mengistirahatkan organ tubuh agar tidak cepat rusak. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi