RADARSEMARANG.ID - Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang istimewa dan disebut syahrullah atau bulan Allah, menjadi bulan baik untuk melaksanakan berbagai jenis ibadah.
Namun justru banyak kepercayaan yang menyimpang terkait malam tahun baru islam atau malam 1 suro yang harus dihindari oleh orang muslim demi iman yg sempurna dan tidak menyimpang kepada kemusrikan.
Ada yang beranggapan bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dan sebagai.
Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis.
Buya Yahya juga mengatakan jika mempercayai adanya bulan penuh musibah itu sama saja kita mencela waktu.
"Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu. Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik," tulis Ustad Muhammad Abduh
"Dalam Hadits Qudsi, Allah itu senang dengan yang berprasangka baik supaya dapat kebaikan. Hari Allah semuanya baik, hari jelek hanya ada satu, yakni saat anda bermaksiat. Menikah itu hari baik, syukuran. Nggak tahu kenapa, di Jabar juga ada Bulan Kapit, di Jatim ada Bulan Suro yang dianggap malapetaka, padahal kebalikannya, yakni bulan penuh rahmat," ucap Buya Yahya dikutip dari akun YouTube @Al-Bahjah TV.
Buya Yahya juga menambahkan bahwa tahun baru Islam atau 1 suro bulan yang dimuliakan oleh Allah, sebaiknya dilakukan untuk berpuasa.
Dari 12 bulan Allah, empat di antaranya bulan haram salah satunya adalah Muharram, itu adalah bulan yang dimuliakan, bukan bulan petaka.
Baca Juga: 11 Tradisi Malam Satu Suro 2025/1 Muharram 1447 H di Jawa Tengah dan Yogyakarta
"Jangan dipercaya. Itu adalah suudzon pada Allah. Bulan Muharram itu justru istimewa, malah lakukan puasa. Sebaik-baik puasa setelah Bulan Ramadhan adalah di Muharram. Dulu Nabi menyuruh para sahabat berpuasa, 10 Muharram hendaknya puasa. Sunnah berpuasa di 9 atau 11 Muharram untuk membedakan hari agung kaum Yahudi. Wallahu A'lam bishawab," lanjut Buya Yahya.
Editor : Baskoro Septiadi