Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ulama Dunia Tarekat Naqsyabandiyah Syekh Muhammad Hisham Kabbani Wafat

Falakhudin • Jumat, 6 Desember 2024 | 14:55 WIB
ULAMA Dunia Tarekat Naqsyabandiyah Syekh Muhammad Hisham Kabbani
ULAMA Dunia Tarekat Naqsyabandiyah Syekh Muhammad Hisham Kabbani

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Syekh Muhammad Hisham Kabbani, seorang ulama yang dihormati di kalangan umat Muslim, telah berpulang pada Kamis, 5 Desember 2024 di usia 79 tahun. 

Berita duka ini disampaikan melalui akun Instagram resmi beliau, menyisakan kesedihan mendalam di hati umat Islam di seluruh dunia.

“Dengan patah hati kami menginformasikan kepada Anda bahwa malam ini Cinta Hidup Kami, Guru Kami, al-Qutb al-Mutasarrif, Maulana Syaikh Muhammad Hisham Kabbani (qaddas Allahu sirruhu) meninggal dari kehidupan duniawi ini ke al-Rafeeq al-’Alaa,” tulis akun Instagram @Hishamkabbani.

Melalui unggahan tersebut, seluruh murid dan pengikut Syekh Kabbani diimbau untuk melaksanakan salat Ghaib, membaca Surah Yasin, Surah Al-Mulk, Tahlil, Sholawat, Khataman Khawajikan, serta bersedekah dengan memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, dengan niat agar pahala amal tersebut dihadiahkan kepada Syekh Kabbani.

Syekh Muhammad Hisham Kabbani dilahirkan di Beirut, Libanon, pada 28 Januari 1945/14 Shafar 1364 dari pasangan Al-Hajj Muhammad Salim Al-Qabbani Al-Husayni dan Al-Haja Yusra Utsman Al-’Alayli Al-Hasaniyya. 

Seperti Maulana Syekh Nazim, Syekh Hisyam ialah keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Hasani dan Husaini serta kedua orangtuanya. 

Silsilah keluarganya yang bermartabat terkenal dan terdokumentasi dengan baik di Libanon dan Suriah. 

Silsilahnya ada pada keturunan ulama muqri’ dan munsyid Damaskus Syekh Muhammad Arabi Al-Qabbani Al-Azhari. 

Keluarga Qabbani di Timur Tengah juga didokumentasikan dalam Mu’jam al-Usar al-Dimashgiyya, kamus besar keluarga Damaskus yang ditulis oleh rektor Institut Abu al-Nur di sana, Sayyid Muhammad Al-Sawwaf.

Selain silsilah kenabian yang disebutkan, Syekh Hisyam berasal dari salah satu keluarga besar Suni di Beirut. 

Paman dari pihak ibu, Syekh Ahmad Mukhtar Utsman ‘Alaylī (1316-1404/1899-1984) memimpin Dar al-Fatwa di Libanon selama 22 tahun (1962-1984) dan merupakan salah satu ahli hukum Syafii terbesar di Syam. 

Baca Juga: Klarifikasi Gus Miftah ke Penjual Es Teh Bakulan Usai Viral di Media Sosial

Sedangkan dari paman lain, Syekh Abd Allah ‘Alayli ialah seorang tokoh intelektual terkemuka di dunia Arab. 

Yang paling penting, Maulana Syekh Nazim mengungkapkan bahwa Grandsyekh telah menyebut Syekh Hisyam sebagai Pertolongan Allah (Madad al-Haqq) dan Bukti yang dipersembahkan dari Allah (Hujat Allah Al-Mukhlis) di antara gelar-gelar spiritual lain. 

Syekh Hisham kemudian belajar kedokteran di Universitas Louvain (Belgia). 

Setelah itu beliau pindah ke Jeddah dan bekerja bersama saudaranya dokter Dr Mahmud Kabbani (wafat 2018) dalam mengelola rumah sakit di sana. 

Baca Juga: Naik Derajat Dalam Waktu Semalam, Ternyata ini Amalan Sunhaji Penjual Es Teh Bakulan Asal Magelang yang Sedang Viral

Di rumah sakit yang sama, Syekh Hisham kadang-kadang bekerja dengan tamu yang terkenal seperti Dr. Samer Al-Nass, Syekh Rasht Qabbani sang Mufti Libanon, dan Badr Al-Din Ahmad Hassun sang Mufti Suriah. 

Pendidikan:

- Sarjana Kimia, American University of Beirut 

- Studi Kedokteran, Louvain, Belgia 

- Gelar Syariah Islam, Damaskus

Kontribusi Utama:

1. Mendirikan ISCA untuk menyebarkan Islam moderat dan melawan radikalisme.

2. Menginisiasi konferensi lintas agama dan memimpin upaya melestarikan tradisi Sufi di seluruh dunia.

3. Menginisiasi program rehabilitasi ekstremisme di Indonesia bersama PBNU dan pemerintah. 

Di Mekah, beliau berteman dengan Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki. 

Dr. Mahmud kemudian berinisiatif mendaftarkan seluruh keluarga Kabbani dalam US Green Card lottery yang membuat Syekh Hisyam dan keluarganya mendapat kesempatan untuk pindah ke AS.

Atas arahan Maulana Syekh Nazim, ia memutuskan untuk pindah ke AS dan mendarat di New York pada 1990 dan pindah ke California.

Dengan mengirimkan Syekh Hisyam ke Amerika Serikat, Maulana Syekh Nazim memintanya untuk mengambil alih kepemimpinan spiritual (quțbiyya) di wilayah tersebut. 

Dan secara alami, ajaran sufinya meluas hingga ke seluruh dunia yang ia lakukan dalam waktu sangat singkat.

Syekh Muhammad Hisham Kabbani, yang lahir pada 28 Januari 1945, adalah seorang ulama besar Sufi asal Lebanon yang kemudian bermukim di Amerika. 

Selama perjalanan dakwahnya, beliau dikenal luas karena keberaniannya mengkritik ekstremisme kekerasan yang meresahkan umat Muslim di seluruh dunia.

Ia secara aktif mengingatkan para pemimpin Muslim dari Afghanistan hingga Inggris untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap radikalisasi. 

Baca Juga: Tahun 2025: Habis Generasi Alpha Lahirlah Generasi Beta Simak Penjabarannya Ini

Meski begitu, pandangan dan kritiknya terhadap ekstremisme sempat memicu kontroversi di kalangan beberapa komunitas Muslim di Amerika.

Selain keterlibatannya dalam dunia dakwah, Syekh Kabbani juga memiliki latar belakang pendidikan yang kuat. 

Beliau menempuh studi teknik kimia di Universitas Amerika di Beirut, lalu melanjutkan pendidikan kedokterannya di Belgia. 

Tak hanya itu, perjalanan intelektualnya mengarah pada bidang hukum di Universitas Damaskus.

Namun, yang paling mencolok adalah kiprah beliau dalam dunia spiritual, di mana ia memimpin Tarekat Naqsyabandiyah Haqqani di Amerika.

 

Syekh Kabbani juga terlibat aktif dalam berbagai pertemuan internasional, termasuk di Spanyol, Malaysia, dan Indonesia, bahkan pada tahun 2003, ia hadir dalam pertemuan umat Islam di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Keterikatannya dengan Nahdlatul Ulama (NU) juga sangat kuat. 

Pada tahun 2002, dalam acara penutupan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di Jakarta.

Syekh Kabbani menyatakan bahwa dirinya merupakan bagian dari NU karena banyak kesamaan prinsip dalam ajaran dan pandangannya.

Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan Ketua PBNU, Rozy Munir. 

Ketika beliau meninggal, Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla menyampaikan duka cita mendalam atas kehilangan salah satu guru besar Sufi ini, khususnya kepada murid-murid Syekh Kabbani di Indonesia. (fal/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Rozy Munir #ekstremisme kekerasan #Islam moderat #Universitas Damaskus #Dr Mahmud Kabbani #US Green Card lottery #American University of Beirut #new york #KH Ulil Abshar Abdalla #Mufti Libanon #Universitas Louvain #International Conference of Islamic Scholars #komunitas muslim di amerika #Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki #Syekh Kabbani #NAHDLATUL ULAMA (NU) #Maulana Syekh Nazim #Syekh Muhammad Hisham Kabbani #Tarekat Naqsyabandiyah Haqqani #ketua pbnu