RADARSEMARANG.ID - Rabu Wekasan adalah tradisi jawa yang masih dilestarikan oleh banyak kalangan masyarakat hingga kini.
Tradisi yang juga dikenal sebagai Rebo Wekasan ini dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Banyak yang meyakini di hari Rabu Wekasan penuh dengan potensi musibah, hingga berbagai ritual dilakukan untuk memohon perlindungan.
Meskipun tradisi ini masih kuat dipegang oleh sebagian masyarakat, ada juga yang mempertanyakan dasar kepercayaannya.
Beberapa ulama menganggap keyakinan Rabu Wekasan adalah warisan kepercayaan lokal yang bercampur dengan ajaran agama sebagai hari yang penuh dengan bala
Namun, bagi sebagian banyak orang, tradisi Rabu Wekasan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual mereka.
Biasanya, sebagian besar masayarakat jawa melakukan serangkaian amalan khusus di malam Rabu Wekasan agar terhindar dari bala musibah.
Hal tersebut juga pernah disampaikan oleh ulama kharismatik almarhum KH Maimoen Zubair atau yang dikenal dengan Mbah Moen.
Saat masih hidup, almarhum Mbah Moen Zubair menyampaikan bahwa, “Sebagian ulama ahli kasyaf mengatakan, pada hari Rebo Wekasan itu tempat tumpuan bala dan cobaan”.
“Makanya kalau Rebo Wekasan disuruh sholat empat rakaat,” ucap almarhum Mbah Moen Zubair yang dikutip dari channel YouTube @ppalanwarsarang
Almaghfurlah KH Maimoen Zubair juga memberikan pandangan yang mendalam dan amalan Rabu Wekasan.
Beliau menjelaskan bahwa, pada hari Rabu Wekasan dianjurkan untuk melakukan shalat empat rakaat.
Setiap rakaat membaca surah Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas lima kali, Al-Falaq satu kali, dan An-Nas satu kali.
“Kalau kamu mau membaca (Al-Kautsar) 17 kali, maka kamu akan hidup enak, dan orang yang memusuhimu akan tertumpas,” terangnya.
Setelah itu, almarhum Mbah Moen menjelaskan pentingnya membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 5 kali dengan merujuk pada ayat pertama dan kedua dari surah tersebut.
Adapun bunyinya yaitu "qulhuallahu ahad" dan "allahuasshomad," yang berarti, "Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa.’ Allah adalah tempat meminta segala sesuatu."
Almarhum Mbah Moen menekankan bahwa, semua tujuan harus diarahkan kepada Allah, dan mendekatkan diri kepada-Nya merupakan hal yang sangat baik.
Lebih lanjut lagi, almarhum Mbah Moen juga menjelaskan tentang pengertian Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan.
Menurut almarhum Mbah Moen, penamaan Rebo Wekasan berkaitan dengan bulan Safar. Dalam bahasa Arab berarti kuning, melambangkan keadaan pucat atau kosong.
Beliau menjelaskan “Nah kalau pucat itu kosong. Makanya menurut bahasa Arab shifrun itu kosong. Jadi seakan-akan bulan yang kosong itu bulan Safar. Seakan-akan Allah menciptakan bumi itu bulan Safar”.
Almarhum Mbah Moen menambahkan bahwa, apabila dengan merenungkan peristiwa penciptaan, seseorang akan terhindar dari berbagai macam bahaya dan malapetaka.
Hal itulah yang menjadi alasan di balik pelaksanaan ritual Rebo Wekasan yang diadakan setiap tahunnya.
Wallahu a’lam.
Editor : Baskoro Septiadi