Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ibnu Rusyd, Pemikir Islam yang Lebih Dikagumi di Barat Dibandingkan oleh Dunia Islam Sendiri

Tasropi • Jumat, 31 Mei 2024 | 16:23 WIB
Ilustrasi Ibnu Rusyd dan Karya-karyanya..
Ilustrasi Ibnu Rusyd dan Karya-karyanya..

RADARSEMARANG.ID,  FILSUF yang di dunia barat mendapat sebutan Averroes ini lahir di Kordoba, Andalusia (sekarang Spanyol) pada 520 H / 1126 M. Dengan nama lengkap Abu Al-Walid Muhammad bin Ahmad Ibnu Rusyd.

Lahir dari keluarga para hakim terkenal; kakeknya adalah qadhi al-qudhat (hakim kepala) dan ahli hukum terkenal di Kordoba.

Sejak dari kakeknya, keluarga Ibnu Rusyd telah tercatat sebagai tokoh-tokoh keilmuan. Kakeknya pernah menjabat sebagai Qadhi di Cordova dan menghasilkan karya-karya ilmiah yang berpengaruh di Spanyol.

Ia juga seorang dokter dan telah mengarang kitab di bidang kedokteran yang berjudul Al-Kulliyat fi Ath-Thibb. Kitab ini dianggap setara dengan kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina.

Ibnu Rusyd memiliki nama asli Abu Al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd. Disebutkan dalam buku Untold Islamic Historic karya Abdul Syukur Al-Azizi, Ibnu Rusyd lahir pada tahun 1198 M di Kordoba, Spanyol.

Ibnu Rusyd lahir dalam keluarga ahli fikih. Ayahnya adalah seorang hakim di Kordoba, sedangkan kakeknya adalah ahli fikih terkenal.

Lingkungan yang sangat mendukung itu membuat Ibnu Rusyd memiliki ketertarikan tinggi terhadap ilmu pengetahuan.

Sejak kecil, ia dididik untuk menjadi anak yang taat beragama Islam. Ia tekun mempelajari Al-Qur'an, hadits, dan fikih.

Selain itu, ia mempelajari ilmu duniawi lain seperti matematika, astronomi, logika, filsafat, dan kedokteran sehingga ia mampu menciptakan berbagai karya tulis yang fenomenal.

Ibnu Rusyd terkenal di peradaban barat sebab tulisannya yang berisi tentang kritik terhadap karya-karya Aristoteles.

Sebagai pemikir Islam pengaruh Ibnu Rusyd ke dunia Barat justru jauh lebih besar dibanding dunia Islam.

Ibnu Rusyd menulis banyak tafsir terhadap karya-karya Aristoteles, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan bahasa Latin dan beredar di Eropa.

Terjemahan karya-karya Ibnu Rusyd memicu para pemikir Eropa Barat untuk kembali mengkaji karya-karya Aristoteles dan pemikir Yunani lainnya, setelah lama diabaikan sejak jatuhnya kekaisaran Romawi.

Pendapat-pendapat Ibnu Rusyd juga menimbulkan kontroversi di dunia Kristen Latin, dan menginspirasi sebuah gerakan filsafat yang disebut Averroisme.

Ia juga berkomentar pada karya-karya filsuf muslim lain, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, dan Imam Ghozali.

Ibnu Rusyd sempat difitnah sebagai filsuf yang sesat dan kafir. Hingga membuatnya diasingkan ke Maroko dan karya-karyanya banyak dimusnahkan.

Namun sejarah mengatakan, Ibnu Rusyd sudah menulis sekitar 78 judul kitab di berbagai bidang ilmu.

Banyak ulama pada waktu itu yang tidak cocok dengan filsafat Ibnu Rusyd. Mereka juga berusaha menyingkirkan Ibnu Rusyd dan memfitnah bahwa ajarannya menyimpang dari Islam.

Ibnu Rusyd kemudian diasingkan oleh khalifah pada waktu itu. Sejumlah orang terkemuka kemudian meyakinkan sang khalifah bahwa Ibnu Rusyd bersih dari fitnah. Akhirnya, Ibnu Rusyd pun dibebaskan.

Perjalanan tak berhenti sampai di situ. Ibnu Rusyd kembali diasingkan di Afrika Utara, tepatnya di daerah Maroko.

Di negeri Maghribi inilah Ibnu Rusyd menghabiskan sisa-sisa umurnya hingga akhirnya wafat pada tanggal 19 Safar 595 H atau bertepatan pada tanggal 10 Desember 1198 M.

Editor : Tasropi
#ibnu rusyd #averroes #Imam Ghozali #pemikir Islam