RADARSEMARANG.ID, HARI ini empat abad lalu tepatnya tanggal 30 Mei 1619 Jan Pieterszoon Coen berhasil merebut Jayakarta dari Kesultanan Banten dan mengubah namanya menjadi Batavia.
Pada mulanya Coen mau mengubah nama kota Jayakarta menjadi Nieuw Hoorn seperti kota kelahirannya, tetapi usul itu ditolak pimpinan VOC di Belanda.
Nama Batavia diberikan untuk menghormati Suku Batavi yang dianggap sebagai leluhur bangsa Belanda dan digunakan sampai tahun 1942.
Penduduk Batavia memberi julukan Mur Jangkung pada J. P. Coen, tetapi tidak jelas apa yang menyebabkan ia diberi julukan tersebut.
Secara fisik, ia memang bertubuh kurus dengan tinggi di atas rata-rata. Pendapat lain menyebutkan bahwa julukan tersebut berasal dari karya sastra Jawa pra-kolonial berjudul Moer Djang Koeng di mana orang pribumi melafalkannya sebagai Mur Jangkung.
Beberapa persoalan yang harus dihadapi oleh J. P. Coen pasca resmi menjabat sebagai Gubernur Jenderal diantaranya yaitu protes keras Maluku terhadap monopoli VOC, naiknya harga lada di Banten akibat ulah para pedagang Inggris dan Cina.
Terlebih adanya perlawanan dari laskar pendukung Mataram Islam, dan konflik dengan Kesultanan Banten di Jayakarta yang melibatkan Inggris.
Sementara itu orang-orang Inggris tidak diam, mereka marah atas perlakuan orang Belanda terhadap pedagang Inggris di Maluku.
Sebagai tindakan balas dendam mereka merebut sebuah kapal Belanda De Swarte Leeuw yang berisi penuh dengan muatan dagang.
Setelah itu pertempuran antara Belanda dan Inggris dimulai. J.P Coen berhasil memenangkan pertempuran melawan orang Inggris.
Setelah menang melawan Inggris, Coen meratakan Jayakarta dan membangun benteng Belanda di kota itu.
Di atas puing-puing kota Jayakarta ia membangun kota baru yang dinamakannya menjadi Batavia.
Pengalaman Coen saat mendampingi Laksamana Pieterszoon Verhoeven yang berujung pada pembantaian puluhan orang Belanda oleh warga Banda membuatnya bertekad untuk membalas dendam.
Pada tahun 1621, sebanyak 13 kapal angkut dan beberapa kapal pengintai bertolak ke Banda.
Coen memimpin langsung armadanya yang membawa sedikitnya 1.600 tentara, 300 narapidana dari Jawa, beserta 100 orang ronin (samurai tak bertuan dari Jepang), 285 budak belian dan 40 awak kapal.
Pasukan Coen menghabisi hampir semua penduduk di Kepulauan Banda yang pada saat itu berjumlah sekitar 15 ribu penduduk.
Diperkirakan kurang dari 1.000 penduduk saja yang selamat dari pembantaian tersebut.
Penyerahan kekuasaan dan masa jabatan kedua
Patung Jan Pieterszoon Coen di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), Batavia sekitar tahun 1942, setahun sebelum dihancurkan tentara Jepang.
Di tahun 1623, ia menyerahkan kekuasaan kepada Pieter de Carpentier dan pulang ke Belanda. Oleh pimpinan Kompeni (VOC) ia disuruh kembali ke Hindia Belanda dan menjadi gubernur jenderal kembali. Maka ia pun tiba di Batavia di tahun 1627.
Pada masa jabatannya yang kedua ia terutama berperang melawan Kesultanan Banten dan Mataram.
Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung menyerang Batavia sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1628 dan 1629.
Kedua serangan tersebut gagal merebut Batavia, tetapi dalam serangan tersebut Coen tewas secara mendadak di tanggal 21 September 1629, empat hari setelah istrinya, Eva Ment, melahirkan seorang putri yang juga meninggal.
Makam J. P. Coen, yang sekarang menjadi bagian Museum Wayang, Jakarta
Jan Pieterszoon Coen meninggal di Batavia pada tanggal 21 September 1629.