Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Suhrawardi, Filsuf Islam Dinasti Ayyubi, Gagasan Iluminasi dan Misteri Kematiannya

Tasropi • Senin, 27 Mei 2024 | 17:25 WIB
Ilustrasi Abu al-Futuh Yahya bin Habasy bin ‘Amirak as-Suhrawardi al-Kurdi/ SUHRAWARDI
Ilustrasi Abu al-Futuh Yahya bin Habasy bin ‘Amirak as-Suhrawardi al-Kurdi/ SUHRAWARDI

RADARSEMARANG.ID, KHAZANAH Pemikiran Islam zaman kejayaan sedemikian dinamis. Banyak para filsuf lahir pada zaman ini, salah satunya yaitu Suhrawardi al-Maqtul, yang juga dikenal sebagai Sheikh al-Ishraq.

Filsuf dengan nama lengkap Abu al-Futuh Yahya bin Habasy bin ‘Amirak as-Suhrawardi al-Kurdi ini  lahir pada tahun 1153 M./549 H., di Suhraward, sebuah kampung dikawasan Jibal, Iran. 

Suhrawardi, filsuf Islam era Dinasti Ayyubi ini pernah belajar kepada seorang faqih dan teolog terkenal yang bernama Majduddin al-Jaili, guru Fakhruddin al-Razi.

Kemudian di Isfahan dia belajar logika kepada Ibnu Sahlan al-Sawi, penyusun kitab Al-Basha’ir al-Nashiriyyah.

Selain itu ia juga banyak bergaul dengan para sufi, hingga ia puas bergaul dengan mereka, ia pun pergi ke Halb dan belajar keapada al-Syafir Iftikharuddin.

Di kota ini namanya mulai terangkat, akhirnya ia pun terkenal akan keilmuannya. Hal ini membuat para fuqaha iri terhadapnya, dan ada pula yang ingin mengecamnya.

Atas dasar ini, ia segera dipanggil Pangeran al-Zhahir putranya Salahuddin al-Ayubi, ketika itu bertindak sebagai penguasa di Halb.

Pangeran kemudian melangsungkan suatu pertemuan dengan dihadiri para teolog maupun fuqaha.

Di sini ia mengemukakan argumen-argumentasinya yang kuat, karena terlihat sebuah aura kepintaran dari diri Suhrawardi, akhirnya al-Zhahir menjadi dekat dengannya, dan ia pun diberi sambutan yang baik dari al-Zhahir.

Suhrawardi telah meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga melalui karyanya yang terkenal, "Hikmat al-Ishraq" atau "The Philosophy of Illumination".

Dalam karya ini, Suhrawardi mengembangkan konsep-konsep filsafat teosofis yang menggabungkan unsur-unsur mistis dan metafisika dengan penekanan pada pengalaman spiritual.

Salah satu konsep utama yang dibahas dalam karyanya adalah konsep cahaya dan kegelapan, yang menjadi landasan pemikiran dalam aliran filsafat teosofis.

Suhrawardi lebih terkenal dengan julukan al-Maqtul karena ia menemui kematian tragis melalui eksekusi di Aleppo pada 587 H/1191 M dan karena itulah ia terkadang disebut guru yang terbunuh, Asy-Syahid.

Meskipun situasi dan kondisi di sekitar kematian Suhrawardi masih menjadi objek spekulasi, namun informasi tentang kehidupannya begitu luas.

Filosof berpengaruh ini hidup hanya sekiar tigapuluh delapan tahun. Pada 579 H/1183M ia bertolak ke Aleppo, tempat ia menyelesaikan karya utamanya Hikmah al-Israq pada 582 H/1186M.

Penulis biografi utamanya, Syams Al-Din Muhammad Syahrazuri, menyatakan dalam Nuzhah Al-Arwah-nya bahwa Suhrawardi berumur tigapuluh tahun saat menuntaskan karya filsafat utamanya yang lain, Al-Masyari wa al-Mutarahat (yang diselesaikan pada 579 H/1183M ).

Pada mulanya Suhrawardi belajar filsafat dan teologi kepada Majd Al-Din Al-Jilli di Maraghah, kemundian mengembara ke Ishafan untuk belajar kepada Fakhr Al-Din Al-Mardini pada 1198 M / 594H yang konon telah meramalkan kematian muridnya.

Juga diketahui bahwa Zahir Al-Farsi, seorang logikawan, memperkenalkan Suhrawardi dengan Al-Basha’ir karya logikawan termashur, Umar Ibn Sahlan Al-shawi.

Karya Umar ini cukup penting karena termasuk karya pertama yang menyimpang dari pembagian baku sembilan bagian logika yaitu, sembilan buku dari Organon dan mengakui dua bagian: logika formal dan logika material.

Suhrawardi kemudian menggunakan sistem yang yang lebih sederhana ini dalam logika tiga-bagiannya, yang terdiri dari semantik, logika formal dan logika material.

Suhrawardi menyusun kebanyakan risalah utamanya selama sepuluh tahun, waktu yang tidak cukup panjang baginya untuk mengembangkan dua gaya filsafatnya yang khas, gaya Peripatetik.

Kemudian risalahnya disusun gaya iluminasionis—seperti yang ditunjukan oleh beberapa sarjana.

Sebenarnya dalam setiap karya utamanya Suhrawardi membuat rujukan silang yang jelas pada risalah-risalahnya yang lain.

Ini membuktikan bahwa tulisan-tulisannya disusun kurang lebih bersamaan, atau bahwa karyanya diperbaiki ketika diajarkan dengan mempertimbangkan karya-karya yang lain.

Keberhasilan Suhrawardi melahirkan aliran Illuminasionis ini berkat penguasaannya yang mendalam tentang filsafat dan Tasawuf ditambah kecerdasannya yang tinggi.

Dalam kitab Thabaqat al-Athiba’ menyebutkan bahwa Suhrawardi sebagai seorang tokoh pada jamannya dalam ilmu-ilmu hikmah.

Ia begitu menguasai ilmu-ilmu Filsafat, sangat memahami Ushul Fiqih, begitu cerdas pikirannya, dan begitu fasih ungkapan-ungkapannya.

Saat di Aleppo di usianya yang masih belia, Suhrawardi telah menguasai pengetahuan filsafat dan tasawuf begitu mendalam serta mampu menguraikannya secara baik.

Bahkan, Thabaqat al-Athibba’ menyebut Suhrawardi sebagai tokoh zamannya dalam ilmu-ilmu hikmah.

Ia begitu menguasai ilmu filsafat, memahami ushul fiqih, begitu cerdas dan begitu fasih ungkapannya.

Segera setelah kedatangan di Aleppo, Suhrawardi mulai mengabdi pada pangeran Al-Malik al-Zhahir Ghazi, gubernur Aleppo—yang juga dikenal dengan malik Zhahir Syah, putra sultan Ayyubiyyah Shalah Al-Din.

Sultan ini dikenal dengan pahlawan besar perang salib. Pada saat itu Suhrawardi menjadi penasehat pangeran, dan disana dia sering berdiskusi atau sekedar memaparkan pemahaman filosofisnya.

Karena Suhrawardi semakin terkenal, hal ini menimbulkan kecemburuan terhadap orang-orang sekitar istana yaitu para Fuqaha, Wajir dan Hakim Aleppo.

Mereka melayangkan surat kepada Shalahhudin al-Ayyubi, dengan alasan Suhrawardi mengajarkan pemahaman-pemahaman sesat, “zindiq” (anti agama), karena berlawanan dengan pemikiran para fuqaha.

Sultan Shalahudin pun memerintahkan pangeran agar penasehatnya dibunuh.

Namun, tuduhan-tuduhan kontroversial itu ditepis oleh gubernur Aleppo, sehingga hukuman mati berubah menjadi hukuman penjara.

Hukuman mati ataupun penjara, jelas itu suatu kesalahan telak terhadap ketakbersalahan Suhrawardi.

Meskipun kehidupan  dan misteri kematiannya mengundang kontroversi,  satu hal yang pasti Suhrawardi mempunyai pengaruh besar pada pemikiran filosofis berikutnya, terutama pada pemikiran Mulla Sadra.

 

Editor : Tasropi
#Suhrawardi #Dinasti Ayyubi #tasawuf #aliran filsafat #filsuf islam #hukuman mati #perang salib