Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seri Sejarah Indonesia, 14 Mei 1962, Percobaan Penembakan Terhadap Presiden Soekarno

Tasropi • Rabu, 15 Mei 2024 | 06:37 WIB
HARGAI PENDIRI : Megawati Soekarnoputri didampingi Puan Maharani, Prabowo Subianto, serta Jenderal Andhika Perkasa saat meresmikan patung Soekarno di komplek Akademi Militer Magelang, Jumat (7/2).(DOKUMENTASI PENHUMAS AKMIL MAGELANG)
HARGAI PENDIRI : Megawati Soekarnoputri didampingi Puan Maharani, Prabowo Subianto, serta Jenderal Andhika Perkasa saat meresmikan patung Soekarno di komplek Akademi Militer Magelang, Jumat (7/2).(DOKUMENTASI PENHUMAS AKMIL MAGELANG)

RADARSEMARANG.ID, PROKLAMASI Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak menjadikan Indonesia bebas dari ancaman bahaya.

Bangsa ini masih berjuang keras mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ancaman bahaya itu justru muncul dari dalam. Dari anak bangsa sendiri.

Pasalnya, muncul berbagai gerakan kelompok tertentu yang berusaha memecah belah bangsa ini dengan ambisi ideologi tertentu.

Satu di antaranya pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). 

Latar belakang pemberontakan DI/TII yang diketuai Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, yakni karena ketidakpuasannya terhadap kemerdekaan Indonesia yang masih dibayang-bayangi Belanda. 

Kartosoewirjo ingin mendirikan negara atas dasar agama yaitu Negara Islam Indonesia.

Sejumlah percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno pun dilakukan, salah satunya yang pernah terjadi pada 14 Mei 1962.

Peristiwa itu bertepatan pada pelaksanaan Salat Idul Adha di lapangan rumput antara Istana Negara dengan Istana Merdeka, Jakarta.

Menurut buku Kesaksian tentang Bung Karno, suasana sebelum salat tampak baik-baik saja.

Namun, dari baris keempat tiba-tiba terdengar teriakan diiringi bunyi tembakan. Aksi penembakan terhadap Presiden Soekarno pun dilakukan. 

Dari beberapa kali tembakan, tidak ada satupun peluru yang berhasil mengenai tubuh Soekarno. Timah panas justru menyerempet bahu seorang ulama sekaligus Ketua DPR saat itu, Zainal Arifin.

Dua korban salah sasaran lainnya, yakni Soedrajat dan Soesilo yang mengalami luka-luka. Keduanya merupakan anggota Detesemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden. 

Penembakan saat Idul Adha - 14 Mei 1962 Pada 14 Mei 1962 juga terjadi percobaan pembunuhan Soekarno saat hari Idul Adha.

Kala itu, Bung Karno hampir saja tertembak tembakan dari pelaku yang bernama Bachrum. Saat itu, Bachrum berhasil mendapatkan posisi duduk di saf depan dalam barisan jemaah salat Idul Adha di Masjid Baiturahim.

Setelah melihat target yakni Soekarno, Bchrum mencabut pelatuk pistolnya yang disembunyikan di balik jasnya ke arah tubuh Soekarno.

Beruntung, tembakan Bachrum meleset dari Bung Karno dan peluru malah menyerempet Ketua DPR GR KH Zainul Arifin. Akhirnya Bachrum divonis hukuman mati, tapi kemudian mendapatkan grasi.

Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967 (1999), mengatakan, sebenarnya telah mendapat informasi mengenai rencana pembunuhan itu satu hari sebelumnya.

Berdasarkan informasi itu, ia menempatkan beberapa anggotanya di sejumlah pos di sekitar jemaah, serta memperketat pintu masuk.

Saat shalat Idul Adha waktu itu, Ketua PBNU KH Idham Chalid bertindak sebagai imam, sementara khotibnya adalah wakil menteri Pertama Bidang Pertahanan dan Keamanan/KSAD Abdul Harris Nasution.

Ketika mendirikan Shalat Id yang dimulai sekitar pukul 7.50 WIB tersebut, Sukarno berada di barisan terdepan jamaah.

Di sebelah kirinya ada Abdul Harris Nasution. Di Samping Nasution ada KH Zainul Arifin. Di Samping Kiai Zainul ada KH Saifuddin Zuhri.

Keempat penembak Bung Karno itu belakangan divonis mati. Mereka adalah Sanusi Firkat, Djajapermana, Kamil, dan Napdi.

Tetapi ketika disodorkan dokumen untuk membubuhkan tandatangan eksekusi, Bung Karno tidak sampai hati.

Soekarno waktu itu meyakini bahwa pembunuh yang sesungguhnya adalah orang-orang yang menjadi dalang di balik peristiwa itu.

Editor : Tasropi
#Bung Karno #hukuman mati #Proklamasi Kemerdekaan #Darul Islam #ketua pbnu