Puluhan pemuda dengan badan bertato terlihat duduk bersantai. Ada yang ditato di wajah, lengan dan punggung. Mereka datang ke Pondok Pesantren An-Najach Magelang dengan satu tujuan. Bertaubat. Menghapus tato di anggota badan.
Meski penuh tato, mereka disambut dengan baik. Tim Hapus Tattoo Pondok Pesantren An-Najach Magelang lantas mengoleskan salep atau krim. Krim spesial inilah yang dinilai efektif dan meminimalkan rasa sakit saat menghilangkan tato. “Tahun ini, kami memiliki program hapus tato gratis selama Ramadan,” aku salah satu Tim Hapus Tattoo Pondok Pesantren An-Najach Magelang Ahmad Agus Rifai.
Sebenarnya, program hapus tato sudah berlangsung sejak 2017. Praktik hapus tato muncul berawal dari adanya salah satu santri yang memiliki tato. Santri tersebut berusaha bertaubat dan berusaha menghilangkan tato dengan berbagai macam cara metode penghilangan tato. "Sudah mencoba laser, obat-obatan, dan metode lainnya," ujar santri asal Grabag, Kabupaten Magelang itu.
Kondisi itu membuat sang santri berpikir keras bagaimana menciptakan obat alternatif penghapus tato. Lalu dengan pengetahuannya mencoba menggabungkan beberapa obat kimia dan meraciknya hingga berwujud salep. "Warnanya hitam pekat dan beliau mencoba dan membuktikan sendiri dioleskan ke tubuh yang bertato," ujar Agus.
Agus menjelaskan, proses hapus tato dimulai dengan melihat ukuran tato terlebih dahulu. Sebab jika ukurannya besar butuh beberapa kali olesan atau proses. Lalu pada bagian tubuh pasien bertato ditempel selotip di setiap tepinya. Fungsinya agar membatasi antara kulit bertato dan tidak. "Supaya obatnya hanya mengenai pada bagian kulit yang ada tatonya" jelas Agus
Setelah itu baru dioleskan salep atau obat khusus penghilang tato ala Pondok Pesantren An-Najach. Lalu diamkan selama 15 menit dan dioleskan lagi. "Ditunggu 15 menit lagi lalu dibilas dengan air bersih," terangnya.
Meskipun memberikan efek sakit, namun salep penemuannya dinilai lebih solutif daripada metode lainnya. Jika metode lain prosesnya hingga beberapa kali, dengan obat oles ala An-Najach hanya satu kali proses. "Hasilnya langsung bisa dilihat sekitar dua minggu kemudian," terangnya.
Untuk hasil obat oles tersebut bervariatif. Tergantung dari letak tato. Sebab, beberapa bagian tubuh memiliki kerapatan pori-pori yang berbeda. Kalau di tangan biasanya lebih mudah. Tetapi jika di bagian punggung dada atau perut biasanya agak sulit. “Begitu pula dari segi ukuran tato. Semakin besar tato, semakin lama juga untuk menghilangkannya,” tambahnya.
Senang Melihat Orang Bertaubat
Raut bahagia terlihat dari muka Ahmad Agus Rifai. Tim Hapus Tattoo Pondok Pesantren An-Najach Magelang itu mengaku senang ketika bisa membantu orang menghilangkan tato di tubuhnya.
Kebahagiaan terbesarnya adalah ketika melihat orang-orang yang secara tampilan dinilai buruk, berniat bertaubat menjadi lebih baik. "Bagi kami komitmen membantu menghilangkan tato adalah hal yang menyenangkan. Ini bagian dari syiar agama Islam," akunya.
Agus Rifai mengatakan tidak ada syarat khusus bagi pasien yang ingin menghilangkan tato. Bisa dari daerah manapun. Jika masih di lingkup Jawa Tengah diwajibkan datang ke lokasi. Namun, jika di luar Jawa Tengah obat khusus tersebut bisa dikirimkan. Pondok Pesantren An-Najach juga menyediakan tim santriwati untuk melayani hapus tato bagi perempuan. “Kebanyakan pesertanya mantan preman atau anak muda yang iseng-iseng saja. Paling muda ada yang masih umur 12 tahun," jelas Agus.
Pasien yang hendak menghapus tato tidak selalu datang setiap hari. Terkadang sehari bisa tiga atau enam orang. Bahkan, sehari tidak ada sama sekali juga pernah. "Kalau Ramadan kali ini ada 33 pasien dengan tim penghapus tato sejumlah 17 orang," tuturnya.
Tujuannya bukan seberapa banyak orang. Tetapi praktik hapus tato secara gratis merupakan implementasi syariat Islam. Bahwa tato hukumnya haram. "Maka ini merupakan bentuk membantu guru kami dalam mencegah kemungkaran dan syiar Islam," akunya. (mia/fth) Editor : Agus AP