RADARSEMARANG.ID - Pengobatan kanker di Kota Semarang memasuki babak baru. Tanpa kemoterapi, kini Rumah Sakit (RS) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) mulai menerapkan metode Cryosurgery sebagai alternatif penanganan kanker dengan teknik minimal invasif.
Metode tersebut diperkenalkan dalam The 10th International Conference of the Asian Society of Cryosurgery (ASC-10) & Council Transition Meeting di PO Hotel Semarang. Kegiatan yang berlangsung pada 17-18 Oktober itu dihadiri perwakilan dari 30 negara di ASEAN, Asia, hingga Eropa.
Rektor Unimus Prof Masrukhi mengatakan, penerapan Cryosurgery di RS Unimus menjadi yang pertama di Kota Semarang. Metode tersebut diharapkan memberikan pilihan pengobatan baru bagi pasien kanker.
“Alhamdulillah bersamaan dengan International Conference on Cryosurgery, Rumah Sakit Unimus juga di launching pengobatan kanker dengan Cryosurgery. Tidak dengan kemoterapi ya,” kata Prof Masrukhi.
Menurutnya, Cryosurgery dilakukan dengan mendeteksi lokasi kanker menggunakan laparoskopi. Setelah lokasi tumor diketahui, jaringan kanker kemudian ditembak menggunakan suhu sangat rendah hingga minus 180 derajat Celsius.
“Dan ini sudah tentu menjadi harapan baru bagi teman-teman kita yang diberikan cobaan oleh Allah SWT menderita kanker itu bisa alternatifnya dengan Cryosurgery. Jadi kalau saya perhatikan itu Cryosurgery itu si kanker itu dideteksi berada di mana melalui laparoskopi itu kemudian ditembak didinginkan sampai minus 180 derajat. Nah itu kanker sudah aman di situ,” ujarnya.
Ia berharap metode tersebut dapat memberikan pengalaman pengobatan yang lebih nyaman bagi pasien dibandingkan kemoterapi. RS Unimus juga diharapkan mampu memberikan layanan tersebut bagi masyarakat lebih luas.
“Pertama di Semarang (Cryosurgery), Insyaallah di Rumah Sakit Unimus. Jadi Insyaallah lebih nyaman daripada yang selama ini pengobatan kanker dengan kemoterapi," ungkapnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam menyambut penerapan metode tersebut. Menurutnya, Cryosurgery dapat menjadi pilihan penanganan bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki risiko kanker.
Pihaknya pun terus melakukan skrining, sebab dua tahun terakhir, kasus kanker di Kota Semarang mengalami peningkatan. Ia menilai Cryosurgery memiliki peluang untuk mendukung penanganan kanker karena menggunakan tindakan minimal invasif.
“Ini (Cryosurgery) membuka peluang yang sangat baik tentunya untuk masyarakat yang memang memiliki risiko, atau pada saat ini mungkin masuk di moderate atau di high risk ada kemungkinan tata laksananya itu lebih bagus dengan dilakukan Cryosurgery ini,” ujarnya.
Ia menyebut penindakan dengan menggunakan Cryosurgery tidak perlu melakukan pembedahan. Sehingga risikonya pun lebih kecil.
“Tindakannya adalah minimal invasif. Jadi, minimal invasif itu berarti tindakannya tidak heboh dibuka gitu ya, nah ini kemudian angka kesembuhannya juga lumayan tinggi kalau dari apa yang tadi sudah disampaikan oleh para pakarnya. Mudah-mudahan ini membuka peluang yang sangat bagus,” imbuhnya.
Hakam mengungkapkan, beban kanker di Kota Semarang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kanker payudara menjadi kasus tertinggi dengan angka mencapai 3.636 kasus.
“Terutama adalah kanker payudara, angkanya di angka 3.636,” katanya.
Setelah kanker payudara, sejumlah jenis kanker lainnya juga menunjukkan angka cukup tinggi. Di antaranya kanker tiroid, kolorektal, oral atau orofaring, ovarium, serta kanker serviks yang mencapai sekitar seribuan kasus.
Kasus kanker juga terkonsentrasi di sejumlah wilayah. Semarang Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 1.094 kasus. Berikutnya Tembalang 1.002 kasus, Ngaliyan 933 kasus, Banyumanik 929 kasus, dan Pedurungan sekitar 827 kasus.
Hasil skrining kesehatan gratis selama hampir dua tahun juga menunjukkan masih ditemukannya masyarakat dengan risiko kanker. Untuk kanker paru, tercatat sembilan orang dengan risiko sangat tinggi, 117 orang medium risk, dan 9.872 orang berisiko rendah.
Sementara skrining kanker serviks menemukan 16 kasus suspek kanker. Pada skrining payudara, ditemukan dua orang dengan very high risk dan empat simple case.
Untuk risiko kanker kolorektal, sebanyak 8.986 peserta masuk kategori risiko rendah. Kemudian lima orang berisiko tinggi dan 13 orang high risk negatif tes.
Hakam berharap kehadiran Cryosurgery dapat memperkuat upaya penanganan kanker di Kota Semarang. Menurutnya, teknologi tersebut memiliki keunggulan dalam menghancurkan jaringan tumor dengan tindakan minimal invasif.
“Dengan kehadiran inovasi cryosurgery tentunya membawa keberkahan tersendiri karena pastinya punya teknologi yang bagus di dalam menghancurkan jaringan tumor, minimal invasif, dan berpotensi mempercepat pemulihan, serta hal-hal positif yang lain,” jelasnya.
Ia juga berharap Cryosurgery dapat dikembangkan lebih luas di Kota Semarang. Penguatan skrining dan deteksi dini dinilai penting agar pasien dapat memperoleh penanganan lebih cepat.
Sementara Direktur RS Unimus M. Riza Setiawan mengatakan, penerapan Cryosurgery akan segera masuk pada tahap tindakan langsung. Salah satunya melalui live surgery penanganan kanker payudara.
“Untuk kasus pertama akan ada live surgery untuk kanker payudara dan Insyaallah ke depan juga sudah ada pasien-pasien yang memang kontak ke kami untuk dilakukan tindakan ini,” jelasnya.
RS Unimus, lanjut dia, juga telah menyiapkan sumber daya manusia untuk mendukung layanan tersebut. Lima dokter telah diberangkatkan ke Tiongkok untuk mengikuti workshop Cryosurgery.
“Sudah siap. Kami sudah memberangkatkan lima dokter ke Cina untuk mengikuti workshop Cryosurgery dan juga tenaga-tenaga kesehatan kita yang lain,” ujarnya.
Untuk pembiayaan, Riza menyebut RS Unimus telah menerima pasien kanker yang menggunakan BPJS. Namun, khusus tindakan Cryosurgery saat ini belum dapat menggunakan BPJS.
Konferensi ASC-10 sendiri mempertemukan para pakar kanker dan onkologi dari berbagai negara. Inisiator Cryosurgery di Indonesia Prof Xu Kecheng PhD dan Prof Dr Yenny Thamrin turut memberikan apresiasi terhadap pengembangan metode tersebut di Indonesia.
Keduanya kini juga bergabung sebagai dosen di Unimus. Kehadiran mereka diharapkan memperkuat pengembangan keilmuan sekaligus pelayanan kanker melalui Cryosurgery di RS Unimus. Mereka pun ikut berkontribusi dalam pengembangan pelayanan kanker di Indonesia. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi