RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Pemerintah menargetkan kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia turun hingga 50 persen pada 2029. Target tersebut dikejar dengan memperkuat upaya pencegahan, setelah capaian pengobatan TBC di sejumlah daerah dinilai sudah tinggi.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) mengatakan capaian pengobatan TBC di sejumlah provinsi telah menembus lebih dari 90 persen, bahkan ada yang mencapai 95 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pasien TBC yang ditemukan sudah banyak yang mendapatkan pengobatan hingga sembuh. Persoalan yang masih perlu diperkuat justru berada di sisi pencegahan.
"Kalau ditemukan kasusnya diobati sampai sembuhnya tinggi di Indonesia. Yang kita ingin memperbaiki adalah di hulunya. Jadi pencegahannya yang kita akan perjuangkan," ujarnya dalam kunjungan bertema “Jejak Perjuangan Menuju Eliminasi Tuberkulosis: Apresiasi bagi Pasien, Penggerak, dan Pemerhati” di RSUP Dr. Kariadi Semarang, Rabu (16/9/2026).
Ia menyebut capaian pencegahan TBC antardaerah masih timpang. Ada provinsi yang telah mencapai sekitar 60 persen, tetapi ada pula yang capaian pencegahannya masih 0 persen.
Baca Juga: Bursa Transfer Liga 2 September 2026 Memanas, Ini Daftar Pemain Baru yang Mulai Bergabung
"Kalau nggak dicegah ya datang sakit terus. Nah ini kita perbaiki sehingga diharapkan tahun 2029 kasus TB di Indonesia bisa turun 50 persen," katanya.
Wamenkes menyebut penanganan TBC membutuhkan keseimbangan antara menemukan dan mengobati pasien dengan mencegah munculnya kasus baru. Upaya tersebut tidak bisa hanya mengandalkan Kementerian Kesehatan dan dinas kesehatan.
"Kemampuan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kota adalah mengobati dan menemukan, tapi untuk menggerakkan masyarakat perlu lintas sektor," ujarnya.
Karena itu, pemerintah melibatkan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa, TNI, Polri, hingga pemerintah daerah dalam upaya pencegahan TBC.
Wakil Menteri Dalam Negeri menegaskan pencegahan TBC membutuhkan kolaborasi seluruh tingkatan pemerintahan. Mulai pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga desa dan kelurahan harus memiliki langkah yang searah.
"Pada prinsipnya pencegahan yang tadi disampaikan oleh Pak Wamenkes ini hanya bisa terlaksana kalau kita kolaborasi," katanya.
Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah diperlukan agar program pencegahan dapat berjalan hingga tingkat masyarakat.
"Kehadiran kami untuk meyakinkan bahwa pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota sampai kecamatan dan desa kelurahan itu satu frekuensi," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr Kariadi, dr Akhmadi Agus menyebut selain penguatan percepatan penanggulangan TB kegiatan ini menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada pasien yang telah berjuang menjalani pengobatan hingga tuntas.
Ia menyampaikan eliminasi TB membutuhkan penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan. Mulai dari promosi kesehatan, pencegahan, penemuan kasus secara dini, diagnosis dan pengobatan yang berkualitas, hingga pemantauan kepatuhan pengobatan dan pengendalian penularan.
Sebagai rumah sakit rujukan, lanjutnya, RSUP Dr. Kariadi melayani lebih dari 7.000 pasien TB rawat inap, rawat jalan, dan IGD setiap tahun. RSUP Dr. Kariadi juga menjadi rumah sakit rujukan pengobatan TB resisten obat (TB-RO), dengan 511 pasien TB-RO dilaporkan telah sembuh setelah menjalani pengobatan. Dalam mendukung percepatan diagnosis, hampir 9.000 pemeriksaan penunjang TB dilayani setiap tahun.
Ia memaparkan data pelayanan tahun 2025 menunjukkan total keberhasilan pengobatan TB-RO sebesar 83,39%, dengan keberhasilan regimen jangka pendek mencapai 100% dan regimen jangka panjang 66,78%.
"Laboratorium TB RSUP Dr. Kariadi terpilih bersama delapan rumah sakit lainnya di Indonesia untuk mengikuti Program Peningkatan Sarana dan Alat Kesehatan Layanan Prioritas Tuberkulosis yang diarahkan untuk meningkatkan standar Laboratorium TB menjadi BSL-2+," katanya.
Ia berharap dengan ini semakin memperkuat kapasitas diagnostik dan pelayanan TB, khususnya untuk kasus yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi