Lawan Rasa 'Deg-degan', Wanita Asal Ngaliyan Ini Sukses Jalani Skrining Payudara

Miftahul A’la • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 17:11 WIB
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus saat meninjau Program Speling dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di dua lokasi, yaitu Desa Seboto, Salatiga.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus saat meninjau Program Speling dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di dua lokasi, yaitu Desa Seboto, Salatiga.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pemerintah berkomitmen menjadikan kesehatan masyarakat sebagai salah satu program prioritas. Hal ini terlihat dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang terus digencarkan dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Hanya satu tujuan utama program ini. Menjadikan masyarakat sehat, bebas penyakit dan bisa lebih enjoy menikmati hidup. Program special memberikan layanan deteksi dini, pemeriksaan kesehatan, dan skrining penyakit secara cuma-cuma kepada seluruh masyarakat Indonesia. Mulai bayi baru lahir hingga lansia. Program dibiayai penuh negara, dan masyarakat cukup membawa KTP tanpa perlu terikat domisili atau kepesertaan BPJS Kesehatan.

Antusiasme warga meramaikan program kesehatan tersebut sangat terlihat saat deteksi dini kanker payudara bagi perempuan di Hall dan Aula Balai Kota Semarang, Senin (10/8). Ratusan Perempuan berbondong-bondong memanfaatkan layanan skrining kanker payudara gratis yang digelar Pemerintah Kota Semarang.

Kegiatan ini digelar tiga hari berturut-turut, 10 - 12 Agustus 2026 dalam rangkaian Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang mengusung tema "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

Satu persatu warga tertib dan senang dengan program Kesehatan tersebut. Program ini skrining untuk kanker payudara, deteksi kanker leher rahim, skrining TB dengan X-ray portable, pemeriksaan mata dan gigi, hingga donor darah.

Salah satu Perempuan yang memanfaatkan program tersebut adalah Silfia Nurul. Perempuan 30 tahun mengaku langkah kakinya terasa sedikit lebih berat saat menuju lokasi skrining kanker payudara. Di dalam dadanya, ada gemuruh yang tak bisa ia sembunyikan. Rasa cemas, takut, dan ragu bercampur menjadi satu.

Bagi seorang wanita asal Wonosari, Ngaliyan ini, menghadapi meja pemeriksaan medis untuk pertama kalinya bukanlah perkara mudah. "Niatnya memang pengen tahu, istilahnya deteksi dini lah. Cukup deg-degan apalagi ini saya baru pertama kali," ucapnya jujur.

Bagi Nurul, rasa "deg-degan" adalah harga kecil yang harus ia bayar demi sebuah kepastian. Ia sadar, mengabaikan ketakutan jauh lebih baik daripada mengabaikan kesehatan tubuhnya sendiri.  Ketakutan yang sempat menggelayuti pikirannya seketika runtuh saat tim medis menyelesaikan pemeriksaan. Lembar hasil skrining itu membawa kabar baik: Nurul dinyatakan sehat. Tidak ada benjolan, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Senyum lega langsung mengembang di wajahnya. Beban berat di pundaknya seolah luruh seketika. “Rasa lega ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari komitmen jangka panjang. Insyaallah nanti akan saya lakukan rutin," tegasnya.

Hal sama dirasakan Ana, warga Kelurahan Sekayu, yang mengikuti skrining untuk pertama kalinya hari ini. Ia mendapat informasi kegiatan ini dari komunitasnya. "Sangat membantu, karena memang terutama untuk perempuan usia di atas 50 tahun itu penting banget pemeriksaan payudara. Selama ini belum pernah periksa karena biayanya memang besar," ujar Ana.

Kisah Nurul dan Ana adalah potret keberanian sederhana dari sudut Kota Semarang. Karena memang Kanker payudara menempati urutan pertama terkait jumlah kanker terbanyak di Indonesia serta menjadi salah satu penyumbang kematian pertama akibat kanker.

Data Globocan tahun 2020, jumlah kasus baru kanker payudara mencapai 68.858 kasus (16,6%) dari total 396.914 kasus baru kanker di Indonesia. Sementara itu, untuk jumlah kematiannya mencapai lebih dari 22 ribu jiwa kasus.

Padahal sekitar 43% kematian akibat kanker bisa dikalahkan manakala pasien rutin melakukan deteksi dini dan menghindari faktor risiko penyebab kanker.  Selain angka kematian yang cukup tinggi, penanganan pasien kanker yang terlambat menyebabkan beban pembiayaan yang kian membengkak. Pada periode 2019-2020, pengobatan kanker telah menghabiskan pembiayaan BPJS kurang lebih 7,6 triliun rupiah.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan skrining kanker payudara gratis ini menyasar kelompok perempuan rentan yang selama ini kesulitan mengakses pemeriksaan karena biaya. "Paling banyak kelompok rentan ada ibu-ibu dari ojek online, ada ibu-ibu yang sepuh, sudah tidak punya pendapatan," ujar Agustina.

Agustina menambahkan, tanpa skrining, banyak kasus kanker baru terdeteksi setelah masuk stadium lanjut. Karena itu ia meminta Dinas Kesehatan menindaklanjuti setiap temuan hasil skrining dan menjamin penanganannya tetap gratis melalui skema Universal Health Coverage (UHC). "Saya perintahkan Dinas Kesehatan jika ada temuan gejala dalam proses deteksi ini, saya minta ada tindak lanjut. Dan itu harus ditutup dengan UHC, supaya tidak perlu mengeluarkan pembiayaan," kata Agustina.

Tidak hanya di Kota Semarang, program CKG juga terus digencarkan di Jawa Tengah. Jawa Tengah bahkan mendapat apresiasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI karena menjadi provinsi dengan jumlah peserta Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terbanyak di Indonesia.

Selain keberhasilan edukasi kepada masyarakat, kolaborasi dengan program milik Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Dokter Spesialis Keliling (Speling), turut mendongkrak minat masyarakat untuk memeriksakan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah dr Zulfachmi Wahab mengungkapkan, pada 2025 jumlah warga Jawa Tengah yang mendaftar CKG mencapai 14.587.365 orang, sedangkan yang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan sebanyak 14.293.190 orang. Sementara pada 2026, jumlah warga yang mendaftar CKG mencapai 11.004.804 orang, dan yang telah terlayani sebanyak 10.787.321 orang.

Adapun capaian program Speling sejak 2025 hingga 10 Juni 2026 telah melayani 107.083 orang, menjangkau 454 kecamatan dan 1.138 desa, dengan jumlah layanan dokter spesialis keliling mencapai 1.248 kali.

“Kolaborasi program Pak Presiden, yakni CKG, dan program prioritas Pak Gubernur Jawa Tengah, Speling, berdampak luar biasa bagi masyarakat,” tuturnya.

Menurut Zulfachmi, kolaborasi CKG dan Speling saling melengkapi. CKG melakukan pemeriksaan kesehatan dasar berdasarkan kelompok usia, mulai dari skrining penyakit menular maupun penyakit metabolik seperti diabetes, kolesterol, hipertensi, hingga kanker.

Untuk terus mengakselerasi pemeriksaan kesehatan masyarakat, pada 2026 Dinkes Jawa Tengah telah merencanakan kegiatan Speling di sekitar 1.000 desa, dengan target 100.000 penduduk terlayani. Pemprov Jawa Tengah akan terus mengembangkan inovasi layanan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat. Langkah tersebut dilakukan, agar minat masyarakat untuk memeriksakan kesehatan semakin meningkat.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, mengatakan program CKG di 38 provinsi telah melayani 42.297.657 orang. Adapun provinsi dengan jumlah peserta CKG tertinggi adalah Jawa Tengah. “Saya perhatikan jumlah tertinggi tetap di Jawa Tengah. Artinya edukasi ke masyarakat sudah cukup baik karena sudah 10 juta lebih. Jawa Timur 6,8 juta, Jawa Barat 5,2 juta, padahal penduduk Jawa Barat lebih tinggi dibanding Jawa Tengah. Artinya CKG di Jawa Tengah berjalan cukup baik,” papar Benjamin, pada rapat dengan DPR RI, Selasa (9/6/2026) lalu.

Editor : Miftahul A’la
kanker payudara semarang cek kesehatan gratis CKG