RADRSEMARANG.ID, Safari Gigi adalah inovasi Realitas Berimbuh atau Augmented Reality(AR) yang berisikan materi tentang pengenalan kesehatan gigi dan lingkungan kesehatan gigi di laboratorium kesehatan gigi, Poltekkes Kemenkes Semarang.
Augmented Reality ini berbasis gambar di mana jika gambar ini dipindai menggunakan aplikasi Safari Gigi, maka akan tampil video edukasi gigi dengan target dan bahasa penjelasan untuk anak – anak.
Adapun basis aplikasi iniadalah berbasis aplikasi padasmartphone Android.
Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Semarang Bekali Mahasiswa RMIK Strategi Digital Marketing
Teknologi AR memungkinkan objek atau informasi digital ditampilkan melalui perangkat gawai dan dipadukan dengan lingkungan nyata.
Pendekatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena anak tidak hanya menerima informasi melalui penjelasan atau media cetak, tetapi juga dapat melihat dan berinteraksi dengan materi edukasi secara lebih visual dan menarik.
Inovasi ini telah mendapatkan persetujuan paten sederhana dengan nomor IDS000013874 dengan judul “Sistem Edukasi Kesehatan Gigi Berbasis Realitas Berimbuh”.
Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Semarang mengembangkan inovasi edukasi kesehatan gigi menggunakan teknologi AR untuk wisata edukasi gigi.
Sebagai bentuk penerapan inovasi tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan di SD Negeri Kramas, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
Kegiatan melibatkan siswa dan pihak sekolah sebagai mitra. Konsep wisata edukasi gigi dirancang agar proses pembelajaran berlangsung dalam suasana yang menyenangkan melalui beberapa aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan gigi.
Siswa mendapatkan informasi mengenai bagian dan fungsi gigi, makanan dan minuman yang berpengaruh terhadap kesehatan gigi, cara menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta pentingnya pemeriksaan gigi secara berkala.
Dalam pelaksanaannya, teknologi AR digunakan sebagai salah satu media untuk membantu siswa memahami materi kesehatan gigi. Siswa dapat menggunakan aplikasi dengan bantuan perangkat gawai untuk mengakses objek dan informasi digital yang telah disiapkan.
Penggunaan teknologi tersebut memberikan pengalaman visual yang dapat membantu siswa memahami materi yang sebelumnya mungkin sulit dibayangkan apabila hanya disampaikan melalui penjelasan verbal.
Selain penggunaan aplikasi, kegiatan dikemas dalam bentuk wisata edukasi gigi sehingga siswa dapat belajar melalui pengalaman dan aktivitas yang lebih beragam. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan perhatian dan keterlibatan siswa selama proses edukasi.
Guru juga dilibatkan dalam kegiatan sebagai pendamping siswa sehingga edukasi kesehatan gigi tidak hanya berlangsung selama kegiatan pengabdian, tetapi dapat terus diperkuat di lingkungan sekolah.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah mengikuti wisata edukasi gigi. Sebelum kegiatan, sebanyak 15 siswa (22,1%) berada pada kategori pengetahuan baik, 33 siswa (48,5%) berada pada kategori cukup, dan 20 siswa (29,4%) berada pada kategori kurang. Setelah mengikuti kegiatan, jumlah siswa dengan kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 41 siswa (60,3%), sedangkan kategori cukup menurun menjadi 15 siswa (22,1%) dan kategori kurang menjadi 12 siswa (17,6%).
Melalui inovasi ini, teknologi tidak hanya menjadi sarana hiburan bagi anak, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk membangun pengetahuan dan kesadaran kesehatansejakdini. Belajar kesehatan gigi menjadi lebihmenarik, pengalaman menjadi lebih berkesan, dan diharapkan dapat tumbuh menjadi kebiasaan.(dk)
Beberapa Tampilan Menu Aplikasi Safari Gigi
Kegiatan Wisata Edukasi Gigi Menggunakan Aplikasi Safari Gigi
Penulis :
Salikun, S.Pd., M.Kes., Dr. Bambang Sutomo, S.SiT., M.Kes., Luci Fitriyanti, S.Tr.Kes., M.Tr.TGM
- Dosen Sarjana TerapanTerapi Gigi, Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Semarang