RADARSEMARANG.ID, Semarang - Hipertensi atau darah tinggi masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Jawa Tengah.
Penyakit yang kerap disebut silent killer ini tidak hanya berbahaya karena tekanan darah tinggi, tetapi juga karena menjadi pemicu berbagai komplikasi mematikan seperti stroke dan serangan jantung.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah jumlah kasus hipertensi di Jateng pada 2025 mencapai 5.07.175 orang.
Angka tersebut menurun dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 5.632.593 orang.
"Data orang yang periksa hipertensi di FKTP (fasilitas kesehatan tingkat pertama) 2025, 5.070.175 orang," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng Heri Purnomo saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang.
Terpisah Ketua Pokja Hipertensi PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) dr. Bagus Andi Pramono menyampaikan hipertensi ini menjadi penyakit dengan penyebab kematian tertinggi.
Sebab, hipertensi bukan sekadar penyakit tunggal, melainkan faktor risiko utama yang memicu kerusakan organ lain.
Menurutnya banyak kasus kematian akibat stroke atau serangan jantung ternyata memiliki akar masalah dari hipertensi yang tidak terkontrol.
"Hipertensi penyebab kematian nomor satu, bukan yang langsung. Tapi banyak pasien yang meninggal akibat stroke dan serangan jantung yang ketika diruntut memiliki penyakit hipertensi," ungkap dr Bagus dalam acara pembukaan Omron Experience Center (OEC) Semarang, Rabu (4/2).
Menurutnya, penyakit hipertensi sering tidak disadari oleh penderitanya. Sebab tidak menimbulkan gejala langsung. Namun dampaknya bisa fatal.
“Jadi, ketika seseorang mengalami hipertensi, bukan hanya hipertensi saja yang akan dialami oleh pasien itu. Tapi juga komplikasi-komplikasi itu yang juga akan lebih penting,” ujarnya.
Hipertensi juga dapat merusak pembuluh darah kecil yang tersebar di seluruh organ tubuh. Kerusakan itu bisa terjadi di otak, mata, jantung, hingga ginjal. Bahkan dapat menyebabkan kebutaan dan gagal ginjal jika tidak ditangani.
Karena itu, dr. Bagus menekankan pentingnya kontrol tekanan darah dengan target yang semakin rendah.
Selain itu, untuk mencegah penyakit hipertensi, masyarakat juga diimbau untuk menjaga pola hidup sehat dengan mengonsumsi buah dan sayur, serta tidur tepat waktu.
“Ketika mempunyai hipertensi, maka tidak bisa tidak harus dikontrol dengan target tertentu. Yang sekarang semakin turun sekitar 120/80,” bebernya.
Sementara Direktur Omron Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe mengatakan, OEC merupakan bagian dari strategi mendekatkan akses pemantauan tekanan darah bagi masyarakat.
“Melalui misi global Going for Zero, Omron berkomitmen untuk menurunkan risiko stroke dan serangan jantung,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemantauan rutin menjadi kebutuhan penting agar hipertensi bisa dicegah sejak dini.
“Pemantauan tekanan darah secara rutin menjadi kebutuhan penting yang perlu ditopang oleh layanan yang mudah diakses, cepat, dan andal,” pungkasnya.
Berlokasi di Datascrip, Ruko Peterongan Plaza Blok A-10, Jl. MT. Haryono No. 719, Wonodri, Semarang, OMRON Experience Center menyediakan layanan purna jual, termasuk servis dan kalibrasi alat.
Selain itu, pelanggan juga bisa mencoba berbagai perangkat kesehatan seperti tensimeter digital, monitor komposisi tubuh, nebulizer, perangkat manajemen nyeri, dan termometer digital, sehingga pelanggan bisa memutuskan tipe mana yang tepat untuk mereka sebelum melakukan pembelian pada toko alat kesehatan, apotek, atau kanal resmi online. Hingga saat ini, OEC OMRON telah hadir di 12 kota, termasuk Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Jakarta, Palembang, Medan, Makassar, Padang, Bali, Balikpapan, dan Manado. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi