RADARSEMARANG.ID, Tegal - Suasana berbeda kini terasa di Pos Kesehatan Desa (PKD) Sumingkir, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal. Setiap Senin, Rabu, dan Sabtu, ruangan yang biasanya sepi kini riuh rendah dengan celoteh anak-anak dan semangat para ibu.
Ini adalah wajah baru dari komitmen Desa Sumingkir dalam membangun fondasi generasi penerus melalui Program SPRING (Early Stimulation in Primary Health Service Integration), yang merupakan inisiatif kolaboratif Pemerintah Kabupaten Tegal dengan Tanoto Foundation.
Program SPRING merupakan layanan stimulasi perkembangan anak usia 0–6 tahun. Di balik dinamika kelas stimulasi anak usia dini ini, ada peran vital bidan desa, para kader, dan dukungan penuh pemerintah desa.
Bidan Desa Sumingkir Siti Mafruroh merupakan motor penggerak di lapangan. Sebagai Koordinator Program SPRING, ia menceritakan, pondasi program ini diletakkan melalui pelatihan intensif selama lima hari pada Desember 2025 lalu.
Kegiatan dihadiri oleh Kepala Desa Sumingkir Khasan Ali, Kepala Puskesmas Kedungbanteng Muhtamar, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal dr. Ruszaeni, dan Project Manager SPRING Tanoto Foundation Rakhmawati.
Pada kesempatan itu, para peserta mendapatkan beragam pembelajaran. Mulai dari peningkatan kualitas pengasuhan anak usia dini, stimulasi perkembangan anak, komunikasi antarpribadi (KIE), peningkatan akses layanan PAUD, dan lain sebagainya.
"Pelatihan diikuti 35 peserta dari berbagai unsur. Untuk kader posyandu dan tenaga kesehatan, pelatihan teknis berlangsung empat hari di PKD kami, setelah sebelumnya mendapat materi umum selama dua hari di Puskesmas,” jelas Siti.
Menurutnya Program SPRING ini menjadi bagian dari penguatan integrasi layanan primer (ILP), yakni untuk melengkapi layanan posyandu yang selama ini lebih terbatas oleh waktu dan jumlah sasaran.
Pelatihan itu, menurutnya, menjadi bekal berharga. Kader tidak hanya memahami teori perkembangan otak anak usia 0-6 tahun, tetapi juga dilatih secara praktis membuat dan mengelola kelas stimulasi berdasarkan kelompok usia.
“Mereka diajarkan cara stimulasi, penyuluhan, dan penggunaan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) serta Alat Permainan Edukatif (APE) yang sesuai tahapan usia,” imbuhnya.
Hasil pelatihan itu kini diimplementasikan dalam kegiatan nyata. Sejak Januari 2026, PKD Sumingkir secara rutin menggelar kelas stimulasi terbagi dalam enam kelompok usia, diantaranya 0-1 tahun, 1-2 tahun, 2-3 tahun, 3-4 tahun, 4-5 tahun, dan 5-6 tahun.
“Satu kelas diisi 10 sampai 12 ibu beserta anaknya, sebagai percontohan. Kita ambil perwakilan dari empat posyandu yang ada,” ungkapnya.
Setiap sesi berlangsung sekitar satu jam dan difokuskan pada praktik stimulasi perkembangan anak. Pembelajaran pun disesuaikan dengan usia masing-masing anak. Tak hanya anak yang dilatih, orang tua juga dilibatkan aktif. Bahkan, setiap pertemuan disertai tugas rumah agar stimulasi dilanjutkan di lingkungan keluarga.
"Setiap usia beda perlakuannya. Semua sudah ada panduannya di buku KIA dan buku pedoman dari SPRING. Kader tinggal menyesuaikan dengan umur anak,” jelasnya.
Kini, Program SPRING sudah berjalan tiga kali pertemuan. Menariknya dengan pembelajaran yang baru tiga kali ini, perubahan kecil sudah terlihat. Siti bercerita, anak-anak yang awalnya pasif mulai berani bersosialisasi dan mencoba alat permainan edukatif. Sementara orang tua mulai memahami pentingnya stimulasi dini.
"Sudah kelihatan bedanya, anak yang awalnya malu-malu, sekarang sudah mulai aktif bersosialisasi dan bisa memainkan APE sesuai usianya. Yang lebih menggembirakan, para ibu mulai paham dan aktif bertanya. Orang tua tidak hanya datang ke PKD. Mereka juga mulai punya ‘PR’ untuk mempraktekkan stimulasi di rumah menggunakan buku KIA,” kata Siti.
Komitmen tidak hanya datang dari tenaga kesehatan tapi juga pemerintah desa. Di bawah pimpinan Kepala Desa Sumingkir Khasan Ali, memberikan dukungan struktural dan finansial yang konkret. Ia menegaskan stimulasi perkembangan anak menjadi bagian penting dari prioritas pembangunan desa.
"Program ini berbeda dengan program kesehatan sebelumnya. Bukan hanya fisik, tapi juga perkembangan otak anak sejak dini,” kata Khasan Ali.
Ia menyebutkan, Desa Sumingkir mengalokasikan anggaran kesehatan 2026 sekitar Rp 100 juta dari dana desa. Anggaran tersebut mencakup layanan Posyandu ILP, pelayanan kesehatan dasar, serta dukungan Program SPRING.
“Untuk bidang kesehatan memang kami anggarkan cukup besar. Termasuk untuk mendukung kegiatan SPRING,” ujarnya.
Khasan Ali menekankan hasil Program SPRING tidak bisa dilihat dalam waktu singkat. Menurutnya, stimulasi anak adalah investasi jangka panjang untuk masa depan desa.
"Kita tidak bisa melihat hasilnya satu dua bulan. Ini investasi masa depan anak-anak desa," tegasnya.
Melalui kolaborasi kader, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa, pihaknya berharap Program SPRING di Desa Sumingkir ini menjadi fondasi kuat dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
“Kader ini pejuang. Harus terus disemangati, saya lebih mendorong secara moral bahwa teruslah berbuat baik, dan kita harus selalu menebar kebaikan untuk masa depan generasi desa,” pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi