RADARSEMARANG.ID, Magelang – BPJS Kesehatan Cabang Magelang menyapa puluhan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tidar (Untidar), Senin (15/9/2025), di aula setempat. Acara BPJS Kesehatan Goes to Campus ini bertujuan untuk merangkul mahasiswa dan memperluas pemahaman, serta meningkatkan kesadaran mereka terhadap pentingnya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Acara ini juga menjadi rangkaian peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-57 BPJS Kesehatan yang mengusung tema “JKN Milik Bersama, Mewujudkan Indonesia Semakin Sehat ”.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Magelang Maya Susanti berkesempatan memberikan kuliah umum kepada mahasiswa terkait dengan pelaksanaan program JKN di Indonesia. Khususnya di wilayah kerjanya yang meliputi, Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo.
“Kita harapkan setelah ini, adik-adik mahasiswa bisa menyebarluaskan informasi program JKN kepada yang lain, dan paling penting, diri mereka sendiri juga terlindungi program JKN, dan informasi ini harus kita sampaikan sedini mungkin,” ungkap Maya.
Menurut Maya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan program JKN. Mereka merupakan generasi yang kritis dan adaptif, serta memiliki kemampuan jaringan sosial yang luas. Selain itu, mahasiswa saat ini sangat melek terhadap teknologi, sehingga diharapkan dapat menyebarluaskan penggunaan kanal layanan program JKN yang berbasis digital, seperti aplikasi Mobile JKN.
Kehadiran BPJS Kesehatan di kampus mendapatkan sambutan hangat dari mahasiswa. Mereka antusias mengajukan berbagai pertanyaan menarik, termasuk mengenai manfaat apa saja yang bisa didapatkan oleh mereka ketika menjadi peserta JKN.
Melalui kesempatan ini, Maya menjelaskan secara rinci manfaat program JKN. Bahwa program ini tidak hanya memberikan perlindungan bagi peserta ketika sakit saja. Dalam kondisi sehat, program JKN bisa dimanfaatkan untuk pencegahan penyakit, seperti skrining kesehatan gratis.
Tidak hanya itu, BPJS Kesehatan juga menjamin alat kesehatan, seperti kacamata. “Adik-adik yang memiliki gangguan kesehatan mata, bisa gunakan JKN-nya untuk mendapatkan kacamata gratis,” imbuhnya.
Ia berharap, penjaminan alat kesehatan seperti kacamata dapat mendukung kegiatan belajar mahasiswa. Penggunaan kacamata diyakini bisa memengaruhi kemampuan akademik, karena dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi, serta mencegah penurunan nilai akibat kesulitan membaca atau melihat sesuatu.
Dijelaskannya, penjaminan alat kesehatan sesuai dengan Permenkes Nomor 3 Tahun 2025 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan pada Program JKN, alat kesehatan kacamata kelas 3 mendapat subsidi Rp 165.000, kelas 2 Rp 220.000, dan kelas 1 Rp 330.000. Kacamata dapat diberikan berdasarkan resep dari dokter spesialis mata. Dan pengajuan klaimnya paling cepat 2 tahun sekali.
Selain itu, Maya juga menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki keistimewaan dalam program JKN. Sampai batas usia 25 tahun, mahasiswa masih bisa ditanggung oleh orang tuanya. Namun jika sudah memasuki usia 26, meski masih berstatus mahasiswa, wajib beralih status kepesertaan menjadi peserta mandiri atau pekerja bukan penerima upah (PBPU).
Dekan Fakultas Ekonomi Prof Dr Izza Mafruhah, SE, Msi, mengapresiasi inisiatif BPJS Kesehatan hadir di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kegiatan ini sangat baik karena program JKN menjadi salah satu pembangun indeks daya saing manusia atau Human Development Index (HDI). Kesehatan menjadi poin penting dalam sendi kehidupan manusia, karena telah menjadi kebutuhan primer.
“Saat ini teknologi kesehatan semakin maju, obat-obatan semakin bagus, dan kebutuhan kesehatan semakin tinggi di tengah penyakit degeneratif yang sangat bervariatif,” ujarnya.
Karenanya, program JKN tidak hanya penting dimiliki oleh tiap individu, tapi juga menjadi program yang menularkan semangat gotong-royong, terutama pada generasi muda. “Karena konsep (JKN, Red) sangat bagus, yakni konsep gotong-royong. Yang sehat membantu yang sakit, yang kaya membantu yang miskin,” ujarnya.
Dengan pengetahuan yang cukup mengenai program JKN, mahasiswa bisa menularkan informasi baik ini tidak hanya kepada orang tua, teman, dan saudara saja. Tapi juga kepada masyarakat luas.
“Ketika mereka KKN, informasi itu bisa diberikan kepada masyarakat sekitar. Dan ketika sudah mulai bekerja, dia akan menyisihkan sebagian pendapatannya digunakan untuk membayar iuran,” pungkasnya. (put)
Editor : H. Arif Riyanto