Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Penjelasan Pareidolia, Kondisi Psikologi saat Melihat Objek Barang Memiliki Bentuk Visual Makhluk Hidup

Aby Genta Putra Prasetya • Senin, 18 November 2024 | 15:19 WIB
Jepretan awan yang memperlihatkan bentuk wajah.
Jepretan awan yang memperlihatkan bentuk wajah.

RADARSEMARANG.ID - Pernah merasa kaget atau ketakutan dengan bentuk tumpukan baju di kamar yang menyerupai sosok menyerupai manusia?, fenomena ini merupakan fenomena umum yang kerap dialami kebanyakan orang.

Hal ini lebih dikenal oleh kalangan medis sebagai fenomena Pareidolia, yang berasal dari bahasa Yunani dari kata 'para' yang berarti samping dan 'eidos' yang memiliki arti gambar atau bentuk.

Fenomena ini bukanlah sebuah gangguan kejiwaan yang berasal dari diagnosis klinis. Namun, hal ini berasal dari kecenderungan otak manusia yang memang secara alamiah memberikan makna dimana pun ia berada.

Paling umum, fenomena ini dapat berupa hal sederhana seperti melihat gambaran hewan pada awan, ataupun noda di baju yang mirip seperti wajah manusia.

Penelitian awal tentang fenomena ini muncul di awal tahun 1800-an. Gustave Fechner seorang filsuf dan psikolog asal Jerman menerbitkan penelitian yang membahas kecenderungan manusia untuk melihat bentuk makhluk hidup pada sebuah objek.

Otak manusia memang memiliki pola untuk mengenali dan menerapkan makna dari apa yang dilihatnya. Dalam beberapa kasus yang sempat populer, kasus pareidolia paling fenomenal meliputi sebuah gambar Yesus diatas roti panggang yang gosong.

Lalu ada potret susuan bebatuan di bulan yang menyerupai manusia dan yang paling menghebohkan adalah lakunya sebuah potongan cemilan rasa jagung Cheetos yang berbentuk gorilla Harambe dan berhasil dijual dengan harga $99.900 di Ebay.

Penyebab Fenomena Pareidolia Pada Manusia

Fenomena pareidolia ini disebabkan oleh mispersepsi yang disebabkan oleh stimulus tidak bermakna atau ambigu lalu dipersepsikan oleh kita sebagai dengan makna.

Pareidolia hadir dengan cepat, tidak terpaksa dan bebas dari kapasitas. Manusia terkadang tidak menyadari bahwa persepsinya disesatkan oleh pareidolia, namun pareidolia bukan hanya suatu hal yang imajiner karena dalam strukturnya memiliki dasar realitas fisik.

Gambar yang dihasilkan pareidolia aslinya tidak mengandung wajah ataupun wujud makhluk hasil intrepertasi kita, ia dihasilkan berkat kemampuan otak sebagai alat substansi manusia dalam menginterpretatifkan fitur-fitur yang kemudian membentuk sebuah wujud (wajah, hewan) secara tiba-tiba.

Pareidolia bukanlah sesuatu yang berbahaya, efek samping yang dihasilkan oleh fenomena ini hanya rasa terkejut atau kaget yang menyentak, kecuali jika anda seseorang yang memiliki penyakit jantung.

Baca Juga: Menu Anxiety, Rasa Cemas Berlebih yang Dialami Sebagian Besar Gen-Z Saat Memesan Makanan Secara Langsung

Oleh kebanyakan ilmuwan, mereka setuju dalam opini bahwa pareidolia mampu mengembangkan fungsi otak untuk bekerja lebih optimal.

Menurut Berkeley Education, mengalami fenomena Pareidolia justru bisa menjadi cara untuk lebih kreatif. Disebutkan bahwa Paul Klee, seorang pelukis menjadikan Pareinolia yang ia lihat di permukaan meja restoran pamannya sebagai stimulus untuk seni yang ia buat.

Lain kisah, Salvador Dali pelukis populer dari Spanyol kerap menatap langit-langit kelasnya untuk berimajinasi dalam pemandangan yang dihasilkan oleh pareidolia di plester kelas yang bernoda.

Bahkan Leonardo da Vinci saat menjadi guru bagi para pelukis muda pernah menyarankan kepada anak muridnya untuk mencoba mencari inspirasi lewat awan dan bebatuan, ataupun formasi alam lainnya.

Source: National Institutes Of Health, Psychology Today

Editor : Baskoro Septiadi
#Objek Visual Berbentuk Makhluk Hidup #Memiliki Visual Makhluk Hidup #Kondisi Psikologi Manusia #Fenomena Pareidolia #Penjelasan Pareidolia