RADARSEMARANG.ID - Memesan makanan di restoran atau kafe merupakan salah satu interaksi sosial yang melibatkan orang lain, baik kenal ataupun tidak dalam prosesnya.
Karena perkembangan teknologi, manusia pada masa kini terutama generasi yang lahir dan tumbuh pada masa modern yakni generasi Z banyak yang tidak terbiasa dengan interaksi sosial.
Penemuan telepon genggam serta internet disebut sebagai faktor kurangnya kemampuan generasi ini dalam bersosialisasi.
Meskipun tak semua generasi Z memiliki kecenderungan keengganan bersosialisasi secara langsung, namun banyak dari anak muda ini yang lebih memilij untuk mengedepankan teknologi dalam kehidupan mereka.
Salah satu fenomena terkait kondisi ini adalah Menu Anxiety atau merupakan sebuah kondisi dimana para generasi Z ini memiliki rasa kecemasan berlebih saat memilih menu makanan secara langsung.
Kok bisa? hal ini disebabkan oleh respon dari pikiran terkait kepuasan batin dan ekspektasi yang berlebihan dalam membeli sesuatu, khususnya dalam hal ini memesan makanan.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap responden di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa setidaknya 30% populasi anak muda memiliki kecenderungan kesusahan saat memesan makanan secara langsung.
Disebutkan bahwa selain generasi Z, Menu Anxiety juga menjangkiti beberapa generasi Millenials.
Orang-orang ini merasa kewalahan ketiga disuguhkan menu di restoran ataupun kafe. Kekhawatiran mereka begitu besar sehingga mereka memilih untuk tidak ikut serta dalam situasi apa pun yang melibatkan konfrontasi dengan daftar makanan yang tercetak.
Lebih dari 40% Gen Z dan milenial (berusia 18–43 tahun) mengaku mengalami Menu Anxiety , berbeda dengan hanya 15% Gen X dan generasi baby boomer (berusia 44–77 tahun) yang mengalami hal serupa.
Amit Kumar , asisten profesor pemasaran dan psikologi di Universitas Texas di Austin, mengatakan bahwa Menu Anxiety masuk akal jika dimasukkan ke dalam konteks fenomena yang dikenal sebagai utilitas antisipatif.
Utilitas antisipatif adalah sebuah kesenangan atau kepuasan yang dialami oleh masyarakat dari antisipasi apa yang akan terjadi di masa depan, sedangkan Menu Anxiety merupakan hal yang berlawanan dengan itu,
Baca Juga: Tanggapannya Viral di Sosial Media, Mamah Dedeh Jadi Ikon Feminisme Baru Gen-Z
Bagi sebagian orang, Menu Anxiety disebabkan oleh perkembangan kuliner yang memiliki terlalu banyak pilihan.
Bagi yang lain, menu sulit dipahami karena bahan-bahannya asing atau deskripsinya membingungkan. Lalu ada tekanan untuk membuat pilihan yang “tepat”, namun mereka juga tidak ingin bertanya kepada barista atau cashier menu apa yang menggugah selera menurut lidah mereka.
Source: Psychiatrist.com, Pramita Lab (IG)
Editor : Baskoro Septiadi