RADARSEMARANG.ID - Kemoterapi merupakan salah satu cara untuk mengobati kanker. Tapi biaya untuk pengobatan ini terhitung mahal.
Kini sedang diteliti penggunaan bahan alam untuk kemopreventif.
Dosen Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip) Mohamad Endy Julianto bersama tim mengembangkan kemopreventif kanker dari bahan-bahan alam.
Bahan-bahan tersebut meliputi senyawa bioaktif shogaol jahe, linamarin dari daun singkong, gaultherin dari gandapura, hesperidin kulit jeruk nipis dan epigalokatekin galat (EGCG) teh hijau.
Senyawa-senyawa bioaktif tersebut terenkapsulasi dalam membrane cair emulsi nano liposom, sehingga ketika menggunakan obat ini bisa sampai ke target yang dituju.
“Pengembangan produk ini didorong atas keprihatinannya terhadap biaya kemoterapi yang sangat mahal dan harus ditanggung penderita kanker di Indonesia. Selain mahal, bahan baku yang dipakai pada proses penanganan pasien kanker 90 persen masih harus diimpor," jelas dosen yang memperoleh total publikasi 71 paper internasional bereputasi terindeks Scopus ini.
Ia mengungkapkan persoalan krusial untuk menyiapkan bahan baku berupa senyawa bioaktif linamarin dan gaultherin.
Terletak pada kesulitan dalam mengekstrak akibat enzim linamarase dan gaultherase dalam sitoplasma daun yang mulai aktif ketika membran tonoplas terkoyak.
Oleh karenanya, teknik ekstraksi dan inaktivasi enzimatis terjadi secara simultan. Sedangkan senyawa bioaktif shogaol dapat diperoleh dari dehidrasi gingerol jahe melalui air subkritis.
Endy memaparkan, untuk komersialisasi obat kanker, aspek terpenting yang harus dilalui diantaranya uji praklinis dan klinis produk nano.
Pengujian adaptasi dan evaluasi penerapan unit proses di industri mitra, penyusunan dokumen hasil pengujian skala produksi, dokumen standarisasi serta sertifikasi, dokumen alih teknologi dan audit teknologi.
Di sisi lain, Ketua Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) ini telah berhasil mengantongi enam paten granted, lima hak cipta dan enam publikasi internasional bereputasi dalam kurun waktu 1 semester atau enam bulan saja. (ifa/ton)
Editor : Baskoro Septiadi