Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kontroversi Penyebaran Nyamuk Wolbachia di Indonesia, Siti Fadilah: Apa Ada Agenda Terselubung?

Aris Hariyanto • Senin, 20 November 2023 | 07:08 WIB
Penampakan nyamuk nakal yang di klaim sebagai nyamuk Wolbachia.
Penampakan nyamuk nakal yang di klaim sebagai nyamuk Wolbachia.

RADARSEMARANG.ID, - Siti Fadilah, mantan Menteri Kesehatan, kembali menyuarakan tentang program penyebaran nyamuk Wolbachia di Indonesia.

Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP (K) menuturkan, “Saya masih mau bicara tentang nyamuk Wolbachia karena nampaknya sudah menjadi polemik sangat luas di masyarakat”.

Hal tersebut ia sampaikan pada unggahan video di channel YouTube miliknya, Siti Fadilah Supari Channel, pada Jum’at (17/11).

Pada video tersebut, ia menyampaikan untuk berpikir secara logis dan obyektif. Apakah nyamuk Wolbachia benar-benar berbahaya dan apa manfaatnya bagi masyarakat?

Menurut Siti, Nyamuk Wolbachia ditemukan oleh orang Australia pada 2011. Kemudian ada peneliti dari Indonesia yang tertarik hal ini.

Selanjutnya, peneliti tersebut bekerja sama dengan World Mosquito Program (WMP), yang diketahui penyandang dananya adalah Bill Gates.

Kemudian, Siti menerangkan tentang peneliti tersebut ingin mengelaborasi dari temuan nyamuk itu untuk diujikliniskan.

Oleh karena itu, barangkali bisa menjadi alternatif, dikarenakan Indonesia banyak yang demam berdarah.

Selanjutnya, peneliti yang diklaim dari UGM tersebut mendapatkan dana dari salah satu konglomerat Indonesia.

Dalam keterangannya, Siti menyebutkan nama konglomerat tersebut adalah Tahija, yang menurutnya salah satu pemilik saham Freeport, setelah ia baca tulisannya Dahlan Iskan.

“Nah, itu jadi yang membiayai itu pemilik Freeport. Kemudian WMP yang di belakangnya ada Bill Gates dan kemudian peneliti dari Gajah Mada,” Kata Siti.

Baca Juga: 5 Wisata Baru ini Bakal Dipromosikan Disparbud Wonosobo Bareng Media Massa, Salah Satu Portalnya di Semarang

Selanjutnya Siti menjelaskan, proses penelitian tersebut dilakukan dengan menyebarkan nyamuk yang sudah diselipin Wolbachia di dalam selnya.

“Prosesnya, nah ini ya prosesnya apa sih? Prosesnya menyelipkan bakteri Wolbachia itu pada nyamuk,” kata Siti.

Kemudian peneliti tersebut akhirnya menemukan bahwa, nyamuk yang di sebar tersebut adalah nyamuk yang sudah diberikan Wolbachia dan disebar di Yogyakarta, Sleman Bantul.

Siti menuturkan, penyebaran nyamuk Wolbachia yang terjadi di Yogyakarta itu kira-kira pada 2017 sampai 2020, dan hasilnya luar biasa.

Dikabarkan dapat menurunkan angka demam berdarah 77% di lapangan dan 86% di rumah sakit.

Kemudian ia mengatakan, “That's it, itu hasilnya tapi saya enggak tahu apakah si peneliti membandingkan dengan pencegahan konvensional?”.

“Apakah dia hanya menyebarkan dan kemudian menghitung jumlah demam berdarah?,” lanjut ucap Siti.

Menurut penjelasannya, ia tidak terlalu ngerti hal tersebut dan memang hasilnya adalah seperti itu. Kemudian hasilnya dipublikasikan di New England Journal of Medicine dan itu dianggap valid.

“Sampai di situ It's ok, Profesor U’ut dan dan kemudian menjadi profesor karena hasil penelitiannya, itu oke-oke saja, tidak ada masalah sampai di situ, itu kegiatan penelitian akademis,” ucap Siti.

Selanjutnya Siti mengatakan bahwa, pada 2002 Menteri Kesehatan membuat suatu SK dengan nomor 1341 Tahun 2022.

Menteri Kesehatan akan menerapkan inovasi tersebut di lima daerah yaitu Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Bontang, Kupang, dan Bali.

“Kenapa kok diterapkan? nah itu yang saya pertanyaannya yang Anda harus kritis,” tegas Siti.

Kemudian, ia menuturkan soal penelitian tersebut, it's oke, bahwa itu dibuktikan bisa menurunkan. “Tapi apakah kita butuh itu di Indonesia? Nah itu butuh pengkajian lagi,” tandasnya.

Menurut Siti, yang ingin menyebarluaskan hasil itu adalah WMP (World Mosquito Program) yang merupakan programnya.

Selanjutnya mereka ingin menyebarkan hasil penelitian tersebut ke berbagai negara. “Apakah Indonesia perlu?” ucapnya.

Siti kembali menjeskan, “Selama ini tidak ada itu berita yang demam berdarah melonjak, itu enggak ada, dan kemudian, apakah ada berita tentang rumah sakit membludak, kayak zaman saya jadi menteri tahun 2007 demam berdarah luar biasa,” tegasnya.

Sementara itu, dikutip dari Radar Bali dikabarkan bahwa, Pemkab Buleleng memilih menarik dukungan terhadap program penyebaran nyamuk Wolbachia.

Saat ini Pemkab Buleleng menyatakan menolak program tersebut. Dia menyatakan bahwa, alasannya hanya terkait dengan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan.

Sebagai lembaga pemerintah, Buleleng menegaskan bahwa tak akan melepaskan nyamuk ber-Wolbachia sebelum dapat instruksi dari pihak kementerian.

Mereka mengatakan, “Kalau belum ada kebijakan resmi dari pusat, lebih baik tidak. Manusia jangan dipakai uji coba.”

“Kalau toh ada instruksi dari pusat dan ada rekomendasi menjalankan program, kami pun harus mencermati kondisi lapangan dulu. Kondisi lokal juga harus diperhatikan,” ucapnya.

Editor : Agus AP
#menteri kesehatan #WMP #bali #nyamuk #siti fadilah #wolbachia #pemkab buleleng