RADARSEMARANG.ID, Semarang - Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menyebut balita tidak di anjurkan untuk mengonsumsi kental manis.
Hal ini berkorelasi pada penyebab stunting.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Jateng Yuni Rahayuningtyas mengatakan saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) gencar melakukan program untuk menekan angka stunting di Jateng yang saat ini masih di angka 20,8 persen.
Diharapkan tahun 2024 mendatang dapat mencapai 14 persen.
Berdasarkan data Elektronik-Pencatatan dan Laporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPBGM), jumlah anak stunting di Jawa Tengah pertengahan bulan Oktober 2023 lalu mencapai 160.963 jiwa.
Sementara pemberian pangan tinggi gula seperti kental manis pada balita di Provinsi Jawa Tengah menjadi persoalan yang serius.
Kebiasaan konsumsi yang salah ini bisa mengancam kualitas SDM dimasa depan.
Terlebih kental manis menjadi momok penyebab anak stunting. Ia menambahkan ketika anak-anak menyukai makanan manis dipastikan mereka akan susah makan dan kekurangan gizi.
Pihaknya pun mengimbau pada masyarakat terutama orang tua yang punya balita untuk aware terhadap kesehatan anaknya.
Penerapan pola asuh juga harus diperhatikan. Kata dia, para orang tua itu masih menganggap kental manis adalah susu.
Padahal kental manis ini bukan susu dan malah banyak mengandung gula.
“Saya mash melihat persepsi yang keliru dari masyarakat terkait kental manis yang dianggap seperti susu formula. Tugas kita adalah mengurai memberikan edukasi kepada masyarakat untuk meluruskan hal tersebut,” kata Yuni usai memberikan sosialisai pada PP Aisyiyah di GKB 1, Unimus, Rabu (15/11).
Pihaknya menjelaskan bahwa kandungan gizi kental manis itu tidak sama dengan susu dan jika ingin dikonsumsi, maka kental manis bukan untuk balita. Pemakaiannya juga harus dibatasi.
“Kental manis itu kandungan gulanya sangat tinggi dan tidak sama dengan susu. Maka tidak boleh dikonsumsi oleh balita. Hanya boleh dikonsumsi sebagai topping untuk orang dewasa,” tambahnya.
Karena itu Dinkes Jateng terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya dengan PP Aisyiyah.
Harapannya mereka bisa menularkan ilmunya pada keluarga di lingkungan masing-masing.
Ahli gizi dari UNIMUS, Purwanti Susanti menjelaskan meski kental manis ada kandungan susu tetap tidak dapat memenuhi kecukupan gizi (AKG).
Penyebabnya ada pada proses pembuatannya. Kandungan susu pada kental manis dikeringkan hingga kandungan susunya hilang.
Setelah kering, kental manis ditambah gula dengan porsi yang sangat banyak sehingga membuat kandungan gulanya menjadi tinggi. Sehingga hal ini dapat memicu stunting dan diabetes.
“Jangan diberikan ke anak-anak karena dapat memicu banyak penyakit seperti obesitas, karies gigi, diabetes, memicu jantung tidak sehat dan yang terpenting membentuk pola maka yang kurang baik,” ungkapnya.
Pada kegiatan tersebut juga dihadiri Kordiv Pemberdayaan Masyarakat Majelis Kesehatan PP Aisyiyah yang mengajak anggotanya untuk aware terhadap lingkungan sekitar.
“Kita harus siapa menyeberkan edukasi yang baik pada masyarakat. Sehingga kasus stunting ini bisa mengalami penurunan,” akunya. (kap)
Editor : Agus AP