RADARSEMARANG.ID, KENDAL – Seorang bocah berusia 11 tahun di Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal mengalami luka berdarah saat berada di sekitar pasar malam kompleks Rumah Susun (Rusun) Brimob Batalyon A, Desa Plantaran, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Senin (2/11/2026) malam.
Korban Muhamad Tifal Ardi Irwansyah (MTAI), 11, siswa Kelas IV, SD 2 Magelung.
Korban merupakan warga Dukuh Suropadan, Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Anak dari pasangan Khodiq dan Putut Dewi Andini.
Korban MTAI, diduga terkena proyektil peluru yang bersarang di bagian dadanya.
Dugaan tersebut muncul setelah keluarga mengetahui hasil pemeriksaan rontgen di Rumah Sakit Darul Istiqomah (RSDI) Kaliwungu yang menunjukkan adanya benda menyerupai proyektil di tubuh korban.
Baca Juga: Jejak Listyo Sigit di Balik Penangkapan Buronan Djoko Tjandra Setelah 11 Tahun Kabur
Korban kemudian dirujuk ke RSI Sultan Agung Semarang untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Kapolres Kendal AKBP Ratna Quratul Ainy mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan penyebab luka maupun jenis benda yang melukai korban.
Polisi masih menunggu hasil observasi dan keterangan dokter dari rumah sakit tempat korban menjalani perawatan.
"Petugas telah melakukan olah TKP, meminta keterangan awal, dan berkoordinasi dengan pihak rumah sakit. Sampai saat ini, penyebab luka dan jenis benda yang berkaitan dengan kejadian masih menunggu hasil observasi dan keterangan dokter," kata Ratna, Rabu (4/11/2026).
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun kepolisian, peristiwa bermula ketika korban melintas di sekitar kompleks Rusun Brimob pada Senin (2/11/2026) malam, sekitar pukul 19.30 WIB.
Saat itu, korban tiba-tiba merasakan sakit di bagian belakang ketiak kanan hingga mendapati luka yang mengeluarkan darah setelah diraba.
"Korban kemudian menghampiri petugas jaga di kompleks tersebut untuk meminta pertolongan," ujar Ratna.
Petugas yang mengetahui kondisi korban segera memberikan pertolongan dan mengevakuasinya ke RSDI Kaliwungu untuk mendapatkan penanganan medis.
Karena keterbatasan fasilitas medis, korban kemudian dirujuk ke RSI Sultan Agung Semarang.
Sementara itu, Mujiono, paman korban, menceritakan bahwa sebelum kejadian korban MTAI pergi ke pasar malam bersama seorang temannya Sadam yang masih memiliki hubungan saudara.
Baca Juga: UMP dan UMK Jawa Tengah 2027 Segera Dibahas, Ahmad Luthfi Serap Aspirasi Buruh dan Pengusaha
Keduanya berangkat setelah Magrib dan hendak pulang ketika tiba-tiba terdengar suara seperti tembakan.
"Pas mau pulang, tiba-tiba terdengar suara tembakan, duar. Temannya langsung lari, sedangkan keponakan saya ini masih berjalan. Tidak lama kemudian diketahui ada darah mengucur dari punggung korban," ungkap Mujiono.
Menurutnya, keluarga awalnya mendapat informasi bahwa korban terluka karena terjatuh dan tersangkut kawat.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan rontgen, keluarga mendapat informasi terdapat benda yang diduga proyektil peluru di tubuh korban.
"Awalnya dikira hanya tersangkut kawat, tetapi setelah dirontgen ternyata ada peluru di dalam tubuhnya," jelasnya.
Mujiono menyebut posisi proyektil berada di bagian dada dan mendekati organ vital, sehingga pihak RSDI tidak berani melakukan operasi dan memberikan rujukan ke RSI Sultan Agung.
Setelah mengetahui kondisi korban, keluarga mendatangi pihak Brimob untuk meminta penjelasan mengenai kejadian tersebut.
Namun, menurut Mujiono, saat itu belum ada kepastian mengenai asal proyektil, termasuk apakah berasal dari senjata anggota Brimob atau bukan.
Keluarga kemudian meminta bantuan kerabat yang bekerja di Polres Kendal untuk menyampaikan kejadian tersebut kepada jajaran kepolisian.
Mujiono mengapresiasi respons Kapolres Kendal dan pihak Brimob yang membantu proses penanganan korban hingga dirujuk ke rumah sakit.
"Alhamdulillah, Kapolres Kendal dan pihak Brimob langsung merespons dan membantu proses penanganan ke rumah sakit," katanya.
Meski demikian, keluarga berharap ada kejelasan mengenai penyebab kejadian dan pertanggungjawaban apabila nantinya terbukti proyektil berasal dari senjata aparat.
"Kalau memang peluru itu berasal dari aparat, kami berharap ada tanggung jawab dari pihak terkait karena ini menyangkut keselamatan warga," tegasnya.
Mujiono menambahkan, biaya operasi yang diperkirakan mencapai Rp 30 juta juga menjadi beban tersendiri bagi keluarga apabila harus ditanggung secara mandiri.
Kapolres Kendal menegaskan, keselamatan korban menjadi prioritas utama, sementara penyelidikan terus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kejadian.
Penyidik masih mengumpulkan keterangan serta menunggu hasil pemeriksaan medis dan visum sebagai dasar untuk mendalami peristiwa tersebut.
"Penyidik masih mengumpulkan keterangan dan menunggu hasil pemeriksaan medis serta visum untuk memastikan penyebab luka yang dialami korban," tegas Ratna.
Hingga berita ini ditulis, penyebab luka dan jenis benda yang mengenai korban masih menunggu kepastian hasil pemeriksaan medis dan penyelidikan kepolisian. (bud)
Editor : Baskoro Septiadi