RADARSEMARANG.ID, KENDAL– Bermula dari hanya tujuh pekerja, PT Auri Steel Metalindo kini berhasil membawa produk baja ringan buatan Kendal menembus pasar Australia.
Ekspor perdana tersebut dilakukan Jumat (2/10/2026), dengan pengiriman sekitar 60 ribu batang produk jadi baja ringan atau flat steel ke Negeri Kanguru.
Tak sekadar membuka pasar internasional, langkah tersebut mencatatkan Auri Steel sebagai perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) pertama di Kawasan Industri Kendal (KIK) yang mengekspor produk jadi baja ke luar negeri.
Potensi pasar Australia juga cukup besar dengan proyeksi ekspor mencapai sekitar 6.000 ton per tahun dan nilai Rp132 miliar.
Direktur PT Auri Steel Metalindo, Auripallas Pramana, yang akrab disapa Pallas, mengatakan ekspor perdana tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan perusahaan yang telah memasuki usia 10 tahun.
Menurut Pallas, Auri Steel dibangun dari skala kecil dengan mimpi agar perusahaan nasional mampu berkembang menjadi perusahaan bertaraf global.
“Sepuluh tahun perjalanan PT Auri ini sungguh-sungguh penuh perjuangan dan pencapaian. Dari sebuah mimpi yang tak masuk akal, tidak terbayangkan berawal dari empat orang dengan tujuh personal, dan saat ini berkembang menjadi 480 orang,” ujarnya.
Pallas mengatakan, keyakinan untuk membawa produk lokal ke pasar global semakin kuat ketika perusahaan mulai beroperasi di kawasan industri Kendal.
Saat itu, pihaknya melihat banyak perusahaan penanaman modal asing mampu memasarkan produknya ke berbagai negara.
Dari kondisi tersebut, muncul pertanyaan apakah perusahaan lokal seperti Auri juga mampu melakukan hal serupa.
“Hari ini mimpi itu menjadi kenyataan. Untuk pertama kalinya PT Auri Steel Metalindo melakukan ekspor produk barang jadi baja ringan atau flat steel ke Australia,” katanya.
Menurut Pallas, capaian tersebut menjadi pembuktian bahwa produk manufaktur yang diproduksi tenaga kerja Indonesia di Kendal mampu memenuhi standar dan kebutuhan pasar internasional.
Terlebih, Australia dikenal memiliki tuntutan tinggi terhadap kualitas produk yang masuk ke pasarnya. “Produk yang dibuat oleh tenaga kerja Indonesia di Kendal, Jawa Tengah, akhirnya bisa diterima di pasar Australia. Tentu ini menjadi kebanggaan besar bagi seluruh keluarga besar Auri,” ujarnya.
Auri Steel didirikan pada 28 September 2016 dengan kegiatan awal memproduksi baja ringan dan atap galvalum untuk kebutuhan konstruksi.
Saat memulai produksi, kapasitas perusahaan sekitar lima ton per hari.
Kapasitas tersebut kemudian berkembang hingga mencapai 120 ton per hari pada akhir 2022. Nilai investasi juga meningkat dari sekitar Rp180 miliar menjadi Rp1 triliun.
Pertumbuhan perusahaan turut berdampak pada penyerapan tenaga kerja, dari sekitar tujuh pekerja pada 2016, jumlahnya meningkat menjadi 100 orang pada 2022 dan kini mencapai 480 orang.
Auri Steel menargetkan jumlah tenaga kerja sekitar 1.500 orang pada 2028.
Pallas menegaskan, keberhasilan menembus pasar ekspor bukan semata hasil kerja perusahaan.
Dukungan pemerintah, termasuk pembinaan Kementerian Perindustrian serta dukungan dan fasilitas dari BKPM, administrator KEK, dan Kementerian Keuangan, turut menjadi bagian dari perjalanan perusahaan.
Ia berharap ekspor perdana tersebut menjadi pijakan bagi Auri Steel untuk memperluas pasar internasional.
Sekaligus menjadi motivasi bagi perusahaan PMDN lainnya agar berani membawa produk Indonesia ke pasar global.
Executive Director Kawasan Industri Kendal Juliani Kusumaningrum mengatakan, capaian Auri Steel menunjukkan perkembangan industri manufaktur dalam negeri dalam menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
“Pencapaian hari ini merupakan buah dari kerja keras, komitmen terhadap kualitas, dan visi strategis Auri Steel,” ujarnya.
Menurut Juliani, ekspor Auri Steel memiliki arti penting karena selama ini ekspor sektor baja Indonesia banyak didominasi bahan mentah atau setengah jadi.
Dengan mengekspor produk jadi, Auri menunjukkan industri manufaktur dalam negeri memiliki kapasitas dan standar mutu untuk bersaing di pasar global.
Kementerian Perindustrian turut mengapresiasi ekspor perdana tersebut.
Langkah Auri Steel dinilai sejalan dengan upaya mendorong industri manufaktur berorientasi ekspor, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, serta memperkuat daya saing industri logam nasional.
Ekspor tersebut juga diharapkan memberikan efek berganda bagi perekonomian, mulai dari penyerapan tenaga kerja, penguatan rantai pasok lokal, hingga pergerakan sektor logistik dan industri pendukung. (bud)
Editor : Baskoro Septiadi