DBHCHT Dorong Pangan Lokal Kendal Naik Kelas

Budi Setiyawan • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 05:51 WIB
PRAKTIK: Peserta mengikuti pengolahan pangan lokal dalam pelatihan diversifikasi pangan yang digelar Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kendal. Kegiatan tersebut mendorong pemanfaatan komoditas lokal menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. (BUDI SETIYAWAN/RADARSEMARANG.ID)
PRAKTIK: Peserta mengikuti pengolahan pangan lokal dalam pelatihan diversifikasi pangan yang digelar Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kendal. Kegiatan tersebut mendorong pemanfaatan komoditas lokal menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. (BUDI SETIYAWAN/RADARSEMARANG.ID)

 

RADARSEMARANG.ID, KENDAL– Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) di Kendal tak hanya diarahkan untuk mendukung sektor tembakau, tetapi juga dimanfaatkan mendorong diversifikasi pangan lokal agar bernilai ekonomi lebih tinggi.

Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan pengolahan pangan lokal yang menyasar kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di sejumlah wilayah Kendal.

Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kendal mendorong komoditas seperti ubi, ketela, pisang, dan jagung tidak berhenti sebagai bahan mentah yang dijual setelah panen.

Bahan pangan lokal tersebut dikenalkan untuk diolah menjadi beragam produk seperti tepung, bakpia, brownies, kukis, keripik, hingga bumbu bubuk.

Ketua Tim Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan DPP Kendal Ely Astuti mengatakan diversifikasi pangan menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal.

Menurutnya, bahan pangan yang selama ini memiliki harga relatif rendah dapat memberikan keuntungan lebih besar jika diolah menjadi produk siap jual.

“Padahal bisa diolah beraneka macam makanan dan hasilnya bisa dijual dengan harga tinggi,” ujarnya.

Pelatihan juga tidak hanya berfokus pada keterampilan produksi, tetapi membekali peserta dengan pengetahuan pengemasan, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Peserta dikenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk membuat foto, video, dan materi promosi produk pangan lokal.

Langkah tersebut dinilai penting karena produk berkualitas belum tentu berkembang apabila pelaku usaha tidak mampu memasarkannya secara efektif.

“Kalau produknya bagus, tapi tidak bisa memasarkannya, produknya tidak akan berkembang,” kata Ely.

Ketua KWT Tri Manunggal Desa Pakisan, Widayati, menyebut pelatihan tersebut membuka wawasan baru dalam mengolah bahan pangan yang tersedia di wilayahnya.

Menurutnya, bahan lokal seperti ubi dan pisang selama ini masih banyak dijual mentah atau hanya diolah menjadi makanan sederhana.

“Selama ini hanya dijual beberapa jenis saja, seperti gorengan dan keripik, sama dijual mentah,” ungkap Widayati.

Setelah mengikuti pelatihan, dia mengetahui bahan pangan lokal tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis makanan dengan masa simpan dan nilai jual yang lebih tinggi.

“Bisa dibuat aneka macam roti dan kue,” ujarnya.

DPP Kendal berharap pemanfaatan DBHCHT dapat memberi dampak lebih luas melalui pengembangan usaha pangan lokal berbasis masyarakat.

Diversifikasi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani dan kelompok pengolah pangan.

Dengan pengolahan, pengemasan, dan pemasaran yang lebih baik, komoditas lokal Kendal diharapkan mampu naik kelas dari sekadar bahan baku menjadi produk bernilai ekonomi. (bud)

Editor : Baskoro Septiadi
DBHCHT Kabupaten Kendal Ely Astuti KWT Tri Manunggal Desa Pakisan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal