RADARSEMARANG.ID, KENDAL—Kemarau panjang tahun ini mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Kendal.
Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Hingga 20 Agustus 2026, sebanyak 393 kepala keluarga (KK) atau 1.310 jiwa di empat desa pada tiga kecamatan harus mengalami kekeringan terparah.
Bahkan warga di empat desa itu kini harus menggantungkan hidup mereka dari bantuan pasokan air bersih, sebab sumur-sumur di daerah tersebut telah mengering.
Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan dan Kesiapsiagaan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo mendata per 20 Agustus 2026, total 150 ribu liter air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Baca Juga: Polres Kendal Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk 99 KK di Sidomakmur
"Tiga kecamatan yang terdampak kekeringan akibat kemarau yakni Ringinarum, Patean, dan Kaliwungu Selatan, dengan empat desa penerima bantuan," kata Iwan.
Di Kecamatan Ringinarum, wilayah terdampak berada di Desa Kedungasri, sedangkan Kecamatan Patean meliputi Desa Sidokumpul dan Desa Sidodadi.
Sementara di Kecamatan Kaliwungu Selatan, wilayah yang terdampak kekeringan tercatat berada di Desa Sidomakmur.
"Dari total bantuan tersebut, BPBD Kendal menyalurkan langsung 40 ribu liter air menggunakan delapan tangka," tuturnya
Sedangkan 110 ribu liter air lainnya berasal dari dukungan lembaga, organisasi, dan CSR yang turut membantu penanganan kekeringan.
Dukungan tersebut antara lain berasal dari Kodim 0715/Kendal sebanyak 10.000 liter, Polres Kendal 10.000 liter, dan PMI Kabupaten Kendal sebanyak 90.000 liter.
Kasi Kedaruratan dan Kesiapsiagaan BPBD Kendal Iwan Sulistyo mengatakan distribusi air dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
“Kami droping air bersih dengan penyediaan tandon, kalau airnya sudah habis, mereka mengabari untuk dropping lagi,” kata Iwan.
Menurut dia, air yang dikirim kemudian ditampung dalam tandon untuk digunakan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kapasitas tandon sekitar 5.500 liter biasanya hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 40 hingga 50 KK selama dua sampai tiga hari.
“5.500 liter biasanya dua sampai tiga hari untuk kebutuhan sekitar 40–50 KK,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat warga di wilayah terdampak masih membutuhkan distribusi air secara berulang selama sumber air belum kembali mencukupi.
Sebelumnya, data awal BPBD menyebut sekitar 150 KK terdampak di tiga wilayah, namun data terbaru per 20 Agustus menunjukkan cakupan penanganan telah mencapai 393 KK di empat desa.
Besarnya jumlah penerima bantuan tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih akibat kekeringan di Kendal terus mendapat perhatian dan membutuhkan penanganan berkelanjutan.
BPBD Kendal bersama unsur pemerintah, TNI, Polri, PMI, organisasi, dan pihak swasta terus melakukan distribusi air untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terdampak. (bud)
Editor : Baskoro Septiadi