RADARSEMARANG.ID, Kendal – PAC GP Ansor Kecamatan Kaliwungu menggelar Camp Asta Bisa 2026 sebagai upaya memperkuat kaderisasi sekaligus menyiapkan generasi muda Nahdlatul Ulama menghadapi pesatnya industrialisasi di Kabupaten Kendal.
Kegiatan yang dikemas dalam Rapat Kerja (Raker) II itu berlangsung di The Full Pinusan Nglimut, Desa Gonoharjo, Kecamatan Limbangan, dengan mengusung tema "Merawat Khidmah, Meneguhkan Militansi".
Ketua PAC GP Ansor Kaliwungu, Budi Setyawan, mengatakan perubahan besar yang dipicu berkembangnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dan kawasan industri harus dijawab dengan penguatan kualitas sumber daya manusia, terutama kader Ansor.
Menurutnya, organisasi kepemudaan tidak cukup hanya menjalankan kegiatan seremonial, tetapi harus mampu melahirkan kader yang siap memimpin, adaptif terhadap perubahan, serta mampu mengambil peran dalam pembangunan daerah.
"Industrialisasi akan membawa peluang sekaligus tantangan. Ansor harus menyiapkan kader agar mampu menjadi pelaku perubahan, bukan sekadar menjadi penonton. Karena itu Camp Asta Bisa kami desain sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar untuk masa depan organisasi dan masyarakat," ujarnya.
Baca Juga: Pabrik Kemasan Premium Resmi Beroperasi di Kendal, Jadi Langganan Nike hingga Adidas
Sebanyak 50 peserta mengikuti kegiatan tersebut yang terdiri atas Pengurus Harian PAC GP Ansor Kaliwungu, Ketua Ranting GP Ansor, Ketua MDS Rijalul Ansor, Kasatkorkel Banser, serta unsur pengurus ranting se-Kecamatan Kaliwungu.
Selain menyusun program kerja, peserta juga mengikuti diskusi strategis, stadium motivation, outbound, api unggun, hingga renungan malam yang bertujuan memperkuat soliditas dan semangat pengabdian kader.
Dalam sesi Stadium Motivation, Ketua PC GP Ansor Kendal Ali Nurudin mengajak seluruh kader menjadikan Ansor sebagai rumah pengabdian yang melahirkan generasi pemimpin, bukan sekadar tempat berorganisasi.
Menurut Ali, jabatan dalam organisasi memiliki batas waktu, tetapi nilai pengabdian dan manfaat yang ditinggalkan kepada masyarakat akan menjadi warisan yang terus hidup.
"Ansor bukan sekadar organisasi, tetapi rumah pengabdian. Di sinilah kita belajar memimpin, belajar melayani, belajar bertanggung jawab, dan belajar mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi. Rumah ini harus terus kita rawat agar mampu melahirkan kader-kader yang lebih baik daripada generasi sebelumnya," tegasnya.
Ali menilai tantangan Ansor ke depan semakin kompleks seiring berkembangnya kawasan industri di Kendal yang akan membawa perubahan sosial, ekonomi, dan budaya di tengah masyarakat.
Karena itu, ia meminta seluruh kader tidak hanya memperkuat militansi, tetapi juga meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan, keterampilan, literasi digital, serta kemampuan beradaptasi agar mampu menjadi pemimpin di berbagai bidang.
"Ansor harus menjadi tempat lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan. Kita ingin kader Ansor menjadi ulama, pengusaha, profesional, birokrat, pendidik, maupun tokoh masyarakat yang tetap membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Jangan puas hanya menjadi pengurus, tetapi jadilah kader yang mampu memberi manfaat seluas-luasnya," katanya.
Ali juga mengingatkan bahwa organisasi hanya akan besar apabila seluruh kader mampu menjaga kekompakan dan mendukung keputusan bersama.
"Dalam organisasi boleh berbeda pendapat saat musyawarah. Tetapi setelah keputusan diambil, seluruh kader harus berjalan dalam satu barisan. Kekompakan itulah yang akan melahirkan organisasi yang kuat dan mampu menjawab tantangan zaman," tandasnya.
Sementara itu, Kasatkorcab Banser Kendal Komandan Primardiyanto mengingatkan bahwa tantangan terbesar kader saat ini adalah menjaga api pengabdian di tengah perubahan zaman.
"Api unggun malam ini suatu saat akan padam. Tetapi api pengabdian seorang kader Ansor dan Banser tidak boleh ikut padam. Itulah yang harus terus kita jaga," ujarnya.
Menurutnya, militansi bukan diukur dari siapa yang paling lantang berbicara, melainkan dari kesediaan untuk tetap hadir, bekerja, dan mengabdi ketika organisasi membutuhkan.
"Militansi adalah tentang siapa yang tetap hadir, tetap bekerja, dan tetap mengabdi, meski tidak selalu terlihat dan tidak selalu mendapat penghargaan," katanya.
Budi berharap Camp Asta Bisa tidak hanya menghasilkan program kerja tahunan, tetapi juga melahirkan gerakan nyata yang mampu memperkuat kaderisasi serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kami ingin setiap pengurus pulang bukan hanya membawa hasil rapat, tetapi juga membawa semangat baru, gagasan baru, dan komitmen baru untuk menghidupkan ranting, memperkuat kaderisasi, serta melahirkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat," pungkasnya. (bud)
Editor : Baskoro Septiadi