Inovasi Perikanan Undip Tingkatkan Produksi UMKM Lele dan Ikan Pindang di Kendal, Dukung Ketahanan Pangan Desa

Sulistiono • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 10:10 WIB
Tim pengabdian kepada masyarakat Undip bersama mahasiswa KKN tematik dan warga Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. (ist)
Tim pengabdian kepada masyarakat Undip bersama mahasiswa KKN tematik dan warga Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. (ist)

 

RADARSEMARANG.ID, KENDAL – Universitas Diponegoro (Undip) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan ketahanan pangan melalui program pengabdian kepada masyarakat.

Kali ini, Tim Pengabdian Masyarakat skema Iptek Bagi Daerah Binaan Undip (IDBU) melaksanakan program bertajuk "Penerapan Inovasi Bidang Perikanan untuk Meningkatkan Produksi UMKM Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal sebagai Upaya Mendukung Ketahanan Pangan Desa.

Program yang dibiayai melalui dana Selain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Universitas Diponegoro Tahun Anggaran 2026 tersebut diketuai oleh Dr. Ir. Diana Rachmawati, M.Si. dengan anggota Dr. Putut Har Riyadi, S.Pi., M.Si., Adnan Fauzi, S.T., M.Kom., dan Yudi Eko Windarto, S.T., M.Kom.

Ketua tim pengabdian, Dr. Ir. Diana Rachmawati, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk hilirisasi hasil riset Universitas Diponegoro kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor perikanan.

"Kegiatan pengabdian kepada masyarakat skema Iptek Bagi Daerah Binaan Undip (IDBU) ini merupakan hilirisasi iptek dari Universitas Diponegoro kepada UMKM Kelompok Pembudidaya Ikan Lele dan UMKM Kelompok Pengolahan Ikan Pindang untuk membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi kedua UMKM tersebut," ujarnya.

Adapun mitra dalam program ini adalah UMKM Sido Makmur dan Sido Rukun sebagai kelompok pembudidaya ikan lele, serta UMKM Elok Sari Makmur Desa yang bergerak di bidang pengolahan ikan pindang di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal.

Permasalahan Budidaya Lele

Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara, tim menemukan bahwa pembudidaya ikan lele masih menghadapi rendahnya efisiensi pemanfaatan pakan.

Biaya pakan mencapai hampir 60 persen dari total biaya produksi, sementara pertumbuhan ikan relatif lambat akibat formulasi pakan yang belum optimal.

Salah satu penyebab utama adalah rendahnya kandungan asam amino lisin pada bahan baku nabati, khususnya bungkil kedelai, yang menjadi sumber protein utama dalam pakan.

Kekurangan lisin menyebabkan penurunan efisiensi pakan, pertumbuhan ikan terhambat, serta nafsu makan ikan menurun.

Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya produksi ikan lele yang hanya berkisar 1.900–1.950 kilogram per siklus pembesaran dengan ukuran panen 8–10 ekor per kilogram.

Dengan harga jual sekitar Rp20.000 per kilogram, omzet berkisar Rp38–39 juta, sedangkan biaya produksi mencapai sekitar Rp32 juta, sehingga keuntungan yang diperoleh hanya sekitar Rp6–7 juta per siklus budidaya.

Tingkatkan Kualitas Ikan Pindang

Sementara itu, UMKM Elok Sari Makmur menghadapi persoalan pada kualitas produk ikan pindang yang hanya mampu bertahan kurang dari satu hari pada suhu ruang. Kondisi tersebut membatasi kapasitas produksi sekaligus memengaruhi tingkat pendapatan para pelaku usaha.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim pengabdian menerapkan standar Good Manufacturing Practice (GMP), peningkatan higienitas proses produksi, pemilihan bahan baku yang lebih baik, penggunaan garam sesuai standar, serta teknik pengemasan dan penyimpanan yang lebih tepat.

Di sisi budidaya lele, tim menerapkan rekayasa nutrisi melalui suplementasi asam amino lisin pada pakan. Inovasi tersebut terbukti mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan, mempercepat pertumbuhan ikan, meningkatkan aktivitas enzim pencernaan, memperbaiki sintesis protein, serta menekan degradasi protein sehingga pertumbuhan ikan menjadi lebih optimal.

Libatkan 30 Mahasiswa KKN Tematik

Program pengabdian ini juga terintegrasi dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT-IDBU-33) yang melibatkan 30 mahasiswa dari tiga fakultas, yaitu Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB).

Selama satu bulan pelaksanaan KKN yang setara dengan 3 SKS, mahasiswa menjalankan berbagai program multidisiplin, mulai dari pendampingan teknologi budidaya, pengolahan hasil perikanan, hingga pemberdayaan masyarakat dan penguatan manajemen usaha.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam dunia usaha budidaya ikan lele dan pengolahan ikan pindang sekaligus berkontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat desa.

Produksi dan Pendapatan UMKM Meningkat Signifikan

Hasil pelaksanaan program menunjukkan dampak yang sangat positif terhadap kedua kelompok mitra.

Pada UMKM Sido Makmur dan Sido Rukun, efisiensi pemanfaatan pakan meningkat dari 55 persen menjadi 80 persen, pertumbuhan ikan naik dari 2,6 persen menjadi 3,68 persen per hari, sedangkan rasio konversi pakan (FCR) turun dari 1,5 menjadi 1.

Selain itu, biaya pakan berhasil ditekan dari 60 persen menjadi 50 persen dari total biaya produksi.

Produksi ikan lele meningkat menjadi 2.000–2.150 kilogram per siklus, sementara pendapatan anggota kelompok naik dari Rp6–7 juta menjadi Rp8–11 juta setiap siklus budidaya.

Di sisi lain, UMKM Elok Sari Makmur juga mencatat peningkatan yang signifikan.

Daya simpan ikan pindang bertambah dari 1 hari menjadi 3 hari pada suhu ruang. Produksi meningkat dari 100 kilogram menjadi 300 kilogram per siklus, sedangkan pendapatan anggota naik dari sekitar Rp200 ribu menjadi Rp500 ribu setiap proses produksi.

Keberhasilan program ini menjadi bukti bahwa penerapan inovasi teknologi tepat guna dari perguruan tinggi mampu meningkatkan produktivitas UMKM sektor perikanan sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa melalui kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat. (sls/adv)

Editor : Baskoro Septiadi
UniversitasDiponegoro PengabdianMasyarakat budidayalele kendal UNDIP