RADARSEMARANG.ID, Semarang — Pelari Run for River Gary, Sam, dan Kelly Bencheghib tiba di Kendal (4/1/2026). Ketiga bersaudara pendiri Sungai Watch itu tak memilih jalur utama Pantura.
Mereka mengambil rute alternatif, jalan yang jarang disorot. Di sanalah ironi itu terbuka tanpa sensor.
Saat melintas di Jalan KH Asy’ari, tepat di sisi Sungai Aji, langkah mereka melambat.
Bukan karena lelah, tapi karena pemandangan yang menahan napas.
Ya, sampah memenuhi badan sungai, sebagian membusuk, mengirim bau yang menampar indera.
Ketiganya hanya bisa menggeleng “Saya sudah tanya ke warga sekitar, katanya ini sudah biasa,” ujar Gary setelah berbincang dengan warga bantaran Sungai Aji.
Biasa. Kata yang ringan, tapi jatuh seperti batu. Sam merekamnya dalam vlog. Suaranya terdengar getir. “Ini sungai terkumuh sepanjang yang kami lintasi,” katanya.
Namun perjalanan itu tak sepenuhnya muram. Di sela bau dan tumpukan sampah, ada percakapan yang justru terasa ganjil tentang musik yang menemani perjalanan mereka.
Sepanjang lari, mereka selalu memakai earphone. Musik jadi teman agar langkah tetap ritmis. Sam mengaku menyukai rock dan jazz, terutama band era 80-an seperti AC/DC.
“Tapi kadang juga dangdut. Biar bisa lari sambil bergoyang-goyang, katanya, lalu tertawa lepas dan goyang ala biduan dangdut.
Di tengah sungai yang sekarat, dangdut menemukan panggungnya—sebuah kontras yang nyaris absurd.
Ironi itu belum selesai. Saat tiba di titik pemberhentian, langit runtuh. Hujan turun tanpa kompromi sejak pukul 16.00 hingga menjelang malam.
Musik yang tadi mengalun, mendadak mati. Sepatu dan pakaian berubah basah kuyup.
“Mau dengar musik, hujan. Jadi tidak bisa. Semua basah,” keluh Gary.
Mereka tetap berlari. Tanpa musik. Tanpa ritme. Hanya suara hujan dan langkah yang memecah genangan.
Dari sungai penuh sampah, jalanan yang tak kalah kumuh, hingga hujan yang merampas lagu—Kendal memberi mereka pengalaman yang lengkap, bahkan terlalu lengkap.
Namun di balik itu, keputusan lahir. Mereka sepakat membuka cabang Sungai Watch di Kendal. Seolah ingin mengatakan: dari tempat yang paling bau, selalu ada alasan untuk memulai perubahan. (bud)
Editor : Baskoro Septiadi