RADARSEMARANG.ID, KENDAL — Industri di Kendal mulai tersedak. Antrean kapal berhari-hari di Pelabuhan Tanjung Emas membuat arus ekspor-impor macet, memicu ancaman serius terhadap produksi dan kepercayaan investor.
Pelaku industri menyebut, kapal kini harus menunggu 3–7 hari untuk bisa sandar, kondisi yang berbanding terbalik dengan beberapa tahun lalu saat bongkar muat bisa dilakukan tanpa antre panjang.
Presiden Direktur PT Indonesia BTR New Energi, Wu Lei, mengungkapkan bahan baku nikel dari Sulawesi Tengah yang menjadi inti produksi baterai harus tertahan di laut berhari-hari sebelum bisa dibongkar.
Baca Juga: Lakukan Clean Energy Day, Langkah Nyata Sinergi Insan PLN UID Jateng Dukung Ketahanan Energi
“Sekarang harus menunggu berhari-hari. Produksi kami jelas terdampak karena bahan baku terlambat masuk,” ujarnya.
Tak hanya impor, ekspor produk jadi juga ikut tersendat karena kontainer harus antre hingga 5–7 hari untuk masuk kapal tujuan luar negeri seperti Tiongkok, Hongkong, dan Taiwan.
“Kalau ini terus terjadi, kami khawatir kepercayaan buyer menurun,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan Executive Vice President PT Matahari Tire Indonesia (MTI), Wu Yuejun, yang menyebut antrean kapal berdampak langsung pada kelangsungan produksi pabrik.
“Dampaknya langsung ke produksi. Padahal kebutuhan bahan baku sangat tinggi,” katanya.
Baca Juga: PT Polygroup Manufaktur Indonesia Resmi Beroperasi, Indonesia Kini Miliki Pabrik Pohon Natal Pertama
General Manager PT Polygroup Manufaktur Indonesia, Nicholas Lau, menambahkan tekanan semakin terasa saat puncak produksi pada Juni hingga September, ketika arus barang bisa mencapai ratusan kontainer per hari.
“Kalau antrean seperti ini terus terjadi, target ekspor sulit tercapai. Biaya logistik juga ikut naik,” ungkapnya.
Saat ini, perusahaan-perusahaan di Kendal mencatat volume ekspor hingga ribuan kontainer per bulan, namun kapasitas pengiriman tersendat karena keterbatasan slot kapal di pelabuhan.
Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri mulai melirik Pelabuhan Niaga Kendal yang hingga kini belum optimal dimanfaatkan.
“Kalau Pelabuhan Kendal bisa diaktifkan, ini akan sangat membantu. Setidaknya ada alternatif jalur logistik,” ujar Nicholas.
Wu Lei mendesak pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah konkret agar tidak terus bergantung pada satu pelabuhan.
“Dengan pertumbuhan industri yang cepat, infrastruktur harus mengikuti. Kalau tidak, ini bisa jadi hambatan besar ke depan,” tandasnya.
Pelaku usaha pun mengingatkan, jika persoalan ini dibiarkan, bukan hanya produksi yang terganggu, tetapi juga potensi investasi baru yang bisa berpaling dari Kendal bahkan Indonesia. (bud)
Editor : Tasropi