Hujan Ekstrem dan Luapan Sungai Jadi Penyebab Utama Banjir Kendal 2026, Ribuan Warga Terdampak
Devi Khofifatur Rizqi• Jumat, 16 Januari 2026 | 17:26 WIB
Situasi banjir di Kaliwungu, Kendal.
RADARSEMARANG.ID, Kendal – Fenomena banjir kembali melanda Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, sejak pertengahan Januari 2026.
Hal itu mengakibatkan beberapa kecamatan terendam dan mengganggu aktivitas masyarakat serta transportasi umum.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal, banjir dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi sejak Kamis (15/1/2026) yang menyebabkan luapan beberapa sungai di wilayah tersebut.
Salah satu sungai yang paling terdampak adalah Sungai Waridin, yang debitnya meningkat tajam hingga meluap ke pemukiman warga.
Wilayah Terdampak dan Dampak Banjir
Enam kecamatan terendam air, yakni Ngampel, Pegandon, Brangsong, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, dan Kendal Kota. Genangan air berkisar 20–60 sentimeter sehingga merendam rumah penduduk dan ruas jalan.
Tercatat ada titik yang airnya mencapai sekitar satu meter, khususnya di kawasan dekat aliran Sungai Waridin, sehingga beberapa warga mulai mengungsi, terutama mereka yang membawa lansia dan anak-anak.
Dampaknya tidak hanya pada permukiman: jalur Pantura Kendal–Semarang terendam, menghambat lintasan lalu lintas utama di pesisir utara Jawa Tengah.
Gangguan Transportasi dan Kereta Api
Banjir ini juga mengganggu moda transportasi. Air yang meluap masuk ke bagian rel kereta di petak Kaliwungu–Kalibodri, sehingga beberapa jadwal kereta api harus ditunda atau dialihkan sementara demi keselamatan penumpang.
Curah Hujan yang Masih Tinggi Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa pada awal Januari 2026, curah hujan di banyak wilayah Jawa Tengah, termasuk Kendal, berada dalam kategori menengah hingga tinggi, yang meningkatkan risiko banjir dan longsor.
Sungai Meluap Karena Volume Air Besar Luapan Sungai Waridin dan sungai lainnya tidak mampu menampung volume air yang besar sehingga meluber ke pemukiman dan jalan.
Pengaruh Pesisir (Rob) Selain hujan, wilayah pesisir Kendal juga berpotensi terdampak banjir rob akibat fase bulan baru pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, yang memperlambat aliran sungai menuju laut dan memperparah genangan di daratan rendah.
Sistem Drainase dan Tata Ruang Meski belum ada laporan resmi detail dari pemerintah daerah, umumnya banjir meningkat di kawasan yang sistem drainasenya belum optimal, serta di dataran rendah yang dekat dengan sungai dan pesisir Pantura—sebagaimana beberapa kejadian banjir sebelumnya di Jawa Tengah.
BPBD Kendal mencatat delapan kejadian bencana alam sejak Desember 2025 hingga Januari 2026, dengan tanah longsor menjadi yang paling sering terjadi, sementara beberapa titik banjir juga tercatat akibat hujan ekstrem.
Petugas BPBD terus berkoordinasi dengan relawan dan instansi terkait untuk melakukan pemantauan kondisi sungai dan titik-titik rawan banjir, serta mengantisipasi jika curah hujan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Terjadinya banjir di Kendal pada awal 2026 adalah hasil kombinasi beberapa faktor meteorologi dan hidrologi, yaitu:
Hujan dengan intensitas tinggi pada musim hujan,
Sungai yang meluap akibat volume air besar,
Potensi banjir pesisir (rob), dan
Konfigurasi drainase serta topografi wilayah yang rentan genangan.
Warga setempat diimbau waspada dan terus memantau informasi cuaca dari BMKG serta himbauan dari BPBD setempat. (dev)