RADARSEMARANG.ID, KENDAL - Guna mendukung visi Indonesia Emas 2045 yang menekankan lahirnya generasi berkompetensi 4C (Critical thinking, Creativity, Communication, Collaboration) dan berkarakter Pancasila, SDN 2 Kutoharjo, Kaliwungu, Kendal menggagas program membaca buku bersama orang tua.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu (4/10) di halaman sekolah.
Kepala SDN 2 Kutoharjo, Normalia Eka Pratiwi, M.Pd, menjelaskan bahwa literasi dan numerasi merupakan pintu masuk untuk mencetak generasi unggul.
Menurutnya, salah satu cara efektif menumbuhkan kemampuan tersebut adalah dengan membiasakan anak mencintai budaya membaca.
“Obat mujarab untuk mengatasi rendahnya literasi dan numerasi adalah mengajak anak mencintai budaya baca. Karena itu, kami melibatkan orang tua dalam program ini. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat,” ujar Normalia.
Lebih lanjut, Normalia menegaskan pentingnya keteladanan dalam membangun kebiasaan membaca.
“Mustahil kita bisa mencetak anak yang cinta membaca tanpa keteladanan. Saya yakin program ini akan memantik orang tua dan guru untuk ikut mencintai membaca sehingga menjadi contoh nyata bagi anak-anak. Seribu ucapan itu tumpul, tetapi satu keteladanan sangat tajam,” imbuhnya.
Salah satu guru SDN 2 Kutoharjo, Novi Endangningrum, S.Pd, menambahkan bahwa kegiatan membaca bersama ini akan digelar secara rutin.
“Saya percaya semua bisa karena terbiasa. Membaca harus dibiasakan agar menjadi habitus. Hal kecil yang dilakukan terus-menerus, ibarat tetesan air yang bisa melubangi batu,” jelasnya.
Dalam rangkaian kegiatan, Normalia terlebih dahulu membacakan buku big book kepada siswa kelas 1.
Selanjutnya, para orang tua membacakan buku kepada anak masing-masing. Setelah itu, anak-anak diminta menceritakan kembali isi bacaan di depan teman-temannya.
Salah satu siswa bahkan bercerita ulang tentang kisah berjudul Sandal Jepit Kulit Sapi Sang Raja dengan penuh semangat. Antusiasme tampak dari siswa maupun orang tua yang terlibat.
Rina Wijayanti, salah satu orang tua murid, mengaku program ini memberi pengalaman baru.
“Program ini revolusioner. Biasanya orang tua hanya mendengarkan sosialisasi, tapi kali ini kami terlibat langsung membacakan buku untuk anak. Saya sadar kalau ingin anak cinta membaca, maka saya sebagai orang tua juga harus memberi teladan,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Shakira Husna Arini, siswa kelas 1.
“Seru sekali, bukunya besar dan penuh gambar, jadi kami lebih mudah memahami isi cerita,” katanya dengan wajah gembira.
Program ini diharapkan dapat menjadi langkah kecil namun berkelanjutan untuk meningkatkan literasi dan numerasi anak-anak Indonesia, sekaligus mempererat kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam mendidik generasi penerus bangsa.(sas)
Editor : Tasropi