RADARSEMARANG.ID, KENDAL—Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) Kendal kembali membuktikan diri sebagai kampus vokasi paling selektif di Indonesia.
Tahun akademik 2025/2026, Polifurneka hanya menerima 145 mahasiswa baru dari total 2.519 pendaftar.
Artinya, hanya satu dari 20 calon mahasiswa yang berhasil lolos seleksi ketat di kampus industri furnitur ini.
145 Mahasiswa baru yang diterima terdiri dari 48 mahasiswa Teknik Industri Furnitur, 38 mahasiswa Desain Furnitur, dan 59 mahasiswa Manajemen Bisnis Industri Furnitur.
Dengan tambahan ini, jumlah mahasiswa aktif di Polifurneka kini mencapai 568 orang.
Direktur Polifurneka, Peni Shoffiyati mengatakan seleksi tahun ini melibatkan langsung lima perusahaan furnitur besar.
Hal ini ditegaskan kembali oleh Kepala Pusat Pengembangan Vokasi Industri, Wulan Aprilianti Permatasari, bahwa
“Seleksi melibatkan industri agar lulusan Polifurneka benar-benar sesuai kebutuhan dunia kerja,” kata Wulan.
Menurutnya, keberhasilan dunia industri ditentukan tiga faktor utama: investasi, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM).
Ketersediaan investasi tanpa dukungan teknologi dan SDM kompetitif akan sulit menarik minat investor.
Karena itu, Polifurneka menyiapkan mahasiswa agar memiliki kompetensi global dan membantu pemerintah dalam menarik investor.
Visi besar Indonesia Emas 2045 juga menjadi latar belakang penting selektivitas ini.
Indonesia menargetkan masuk lima besar kekuatan ekonomi dunia, dan industri furnitur adalah salah satu sektor strategis yang menopang.
Industri furnitur kini memasuki era digitalisasi 4.0 yang menuntut tenaga kerja dengan keterampilan digital tinggi.
Laporan Future of Jobs Forum Ekonomi Dunia 2023 menyebut, pekerjaan administratif dan repetitif akan hilang, digantikan skill digital.
Teknologi AI sudah masuk ke sekolah dan kampus. Sejalan dengan tema PKKMB 2025 di Polifurneka, Campusverse: Jelajahi Dunia Baru, Bangun Masa Depanmu, dinilai Wulan relevan dengan visi BPSDMI.
“Tema ini memberi semangat baru bagi mahasiswa untuk menjelajahi dunia akademik sekaligus bersiap menghadapi dinamika industri furnitur di masa depan,” tegasnya.
Ia berharap mahasiswa baru tidak menganggap PKKMB sekadar orientasi, melainkan pondasi karakter dan etos kerja.
“Dengan bekal dari PKKMB, saya yakin mereka siap menghadapi tantangan dan mampu berkontribusi nyata bagi industri furnitur nasional maupun global,” tandasnya. (bud)
Editor : Tasropi