Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sosok Bersejarah Dibalik Patung Nyi Pandansari yang Gantikan Tugu Jamban di Boja, Kabupaten Kendal

Aby Genta Putra Prasetya • Selasa, 17 Desember 2024 | 17:16 WIB
Potret: Patung Nyi Pandansari di Boja Kendal serta Proses Pembuatannya
Potret: Patung Nyi Pandansari di Boja Kendal serta Proses Pembuatannya

RADARSEMARANG.ID - Tugu atau monumen merupakan sebuah penanda penting tentang peristiwa bersejarah yang terjadi di wilayah tersebut pada masa lalu.

Selain sebagai pengingat, biasanya tugu juga memiliki unsur nilai aspek-aspek lokal yang diperlihatkan dari moralitas dan tujuan baik masyarakat di daerah yang terkait.

Di Kendal, tepatnya di Blora baru baru ini dibangun sebuah tugu bernama Tugu Nyi Pandansari. Tugu ini dibangun menggantikan Tugu Jamban yang juga sebelumnya berdiri di tempat tersebut.

Pembangunan patung Nyi Pandansari menggantikan Tugu Jamban menurut Pemerintah Kabupaten Kendal dinilai akan menjadi ikon Desa Boja yang kaya akan historis serta nilai budaya setempat.

Patung ini adalah manifestasi dan rasa hormat masyarakat Boja terhadap salah satu tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut yang bernama Nyai Pandansari/Nyi Pandansari.

Siapakah Nyi Pandansari?

Nyi Pandansari merupakan adik perempuan dari Kyai Pandan Arang; seorang tokoh yang disebut sebagai orang yang menemukan serta memberi nama kepada Kota Semarang.

Sepeninggal sang kakak yang sudah menjadi Bupati di wilayah baru tersebut, Nyi Pandansari juga ingin menyusul jejak sang kakak sebagai penyebar agama Islam di daerah lainnya.

Bersamaan dengan para pengawal serta abdi kinasihnya yang bernama Wonobodro dan Wonosari, Nyi Pandansari menuju selatan ke daerah yang kini bernama Sekaran. Disana ia mempelajari agama islam di sebuah Pondok Pesantren asuhan Ki Jiwaraga.

Saat menjadi santriwati, kemudian ia bertemu dengan Ki Dhapuraja yang masih keturunan dari Kesultanan Cirebon. Timbullah benih-benih cinta diantara keduanya, lalu secara sah pasangan ini dinikahkan oleh Ki Jiwaraga.

Keduanya bersama dengan para pengawal dan pengikutnya kemudian berpamitan untuk hidup mandiri di daerah lainnya sembari menyebarkan agama Islam. Dari situlah mereka berangkat ke daerah yang kini dikenal dengan nama Kabupaten Kendal.

Di tempat baru tersebut, Nyi Pandansari melalui karomah yang dimilikinya membuat saluran air yang diambil dari Sendang Sembrayut. Aliran air ini kemudian diberi nama Sedapu, karena ini pula Nyi Pandansari juga dikenal warga sekitar sebagai Nyai Sedapu.

Baca Juga: Jendral Hoegeng, Sosok Polisi Paling Berani dan Jujur Dibuatkan Monumen di Kota Pekalongan

Suatu hari, tiba-tiba Ki Dhapuraja memiliki keinginan kuat untuk pergi ke suatu daerah meninggalkan istrinya. Saking semangatnya, ia tidak mengindahkan nasihat istrinya dan lebih memilih meninggalkan wanita tersebut.

Tak kuasa menahan kesedihan paska ditinggal sang suami, Nyi Pandansari kini hidup bersama dengan abdi kinasihnya yang setia, yakni Ki Wonobodro dan Ki Wonosari. Kelak Ki Wonosari juga pindah ke tempat baru yang kini disebut sebagai Dusun Pilang, Desa Boja.

Dari kepindahannya tersebut, Ki Wonosari memiliki seorang anak bernama Kyai Bojo. Ia juga merupakan penerus yang menyebarkan agama Islam di kemudian hari. Kyai Bojo inilah yang kemudian dikenal menjadi lurah pertama Desa Boja dari namanya tersebut.


Source: Budaya Indonesia Org, NU Online, Ini Boja (IG)

Editor : Baskoro Septiadi
#Nyi Pandan Sari Boja #Kisah Sosok Bersejarah #Kisah Nyi Pandan Sari Boja #Patung Nyi Pandan Sari #Sosok Nyi Pandan Sari