RADARSEMARANG.ID, - Setiap tahun setelah Hari Raya Idul Fitri, di Kaliwungu Kendal terdapat sebuah tradisi yang kental dengan nilai budaya kearifan lokal.
Namanya tradisi Syawalan yang selalu dilestarikan dan dikabarkan selalu ramai dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai daerah.
Tradisi Syawalan di Kaliwungu ini diketahui sudah berlangsung selama puluhan tahun, dan menjadi salah satu tradisi Syawalan yang paling populer di Jawa Tengah.
Namun demikian, tak jarang tradisi ini disalahartikan sebagai ajang hura-hura semata.
Lantas, apa makna Tradisi Syawalan di Kaliwungu Kendal yang sebenarnya?
Berikut ini penulis mencoba mengupasnya secara mendalam agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Berdasarkan informasi dari warga asli Kaliwungu, tradisi Syawalan ini bukan hanya tentang keramaian dan kemeriahan.
Tradisi Syawalan di Kota Santri ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat setempat, dan diagendakan pada setiap tanggal 7 atau 8 Syawal, atau tepatnya satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri.
Pada awalnya, tradisi Syawalan di Kaliwungu merupakan kegiatan ziarah berdoa di makam ulama besar Kaliwungu, Kyai Asy'ari, yang dilakukan oleh keluarga, santri, dan keturunan Kyai Asy'ari.
Lambat laun, tradisi ini berkembang dan diikuti oleh masyarakat luas dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan sekitarnya.
Tujuan utama tradisi ini adalah untuk menghormati dan mendoakan arwah para leluhur Waliyullah khususnya Kyai Asy'ari, dan para ulama lain yang telah wafat di Kaliwungu.
Itu artinya, makna inti sebenarnya dari tradisi Syawalan di Kaliwungu ini adalah berziarah kubur dengan melakukan tahlil dan doa bersama.
Selain itu, tradisi ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga, kerabat, dan masyarakat, serta melestarikan budaya lokal.
Dari cerita warga asli Kaliwungu mengungkapkan bahwa, dahulunya sepulang berziarah, para peziarah disajikan dengan berbagai kuliner dan cinderamata dari penjual luar kota yang mengais rezeki di Kaliwungu ini.
Baca Juga: Kendalikan Pola Makan Saat Lebaran, Ini Rekomendasi Buah Penurun Kolesterol, Gula Darah dan Lemak
Biasanya mereka menjual berbagai macam kerajinan tangan yang beraneka ragam, seperti kerajinan gerabah dari tanah liat dengan berbagai bentuk, kain, mainan, dan masih banyak lagi.
Banyak juga yang mengatakan, jika tidak mampir di kota Kaliwungu saat momen Syawalan seperti ada yang kurang.
Seiring berkembangnya jaman, tradisi Syawalan di Kaliwungu diwarnai dengan berbagai kegiatan. Seperti berbagai pertunjukan seni dan budaya, rebana, hadroh, dan wayang kulit pada saat pembukaan.
Selain itu juga ada pasar malam dengan berbagai spot arena bermain untuk anak-anak dan dewasa, seperti komedi putar, kora2, dan lainnya.
Kemudian juga terdapat berbagai jajanan dan kuliner khas lokal yang dijajakan oleh para pedagang kaki lima.
Bagi orang Kaliwungu, tradisi Syawalan merupakan tradisi yang kaya akan nilai budaya dan sejarah yang harus dilestarikan, meski suasana sedikit berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, karena adanya pemugaran pada bagian alun-alun.
Namun demikian, tradisi Sywalan tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Kaliwungu, dan juga memiliki peran utama dalam menjaga kelestarian budaya lokal.
Selain itu, tradisi budaya ini juga merupakan wujud rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Hal ini dapat menjadi momen tersendiri untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Editor : Tasropi