Tradisi Tingkeban Pari ini digelar di jalan persawahan di Desa Laban Rabu (2/7). Tradisi itu sudah turun temurun. Kali ini para petani mayoran kambing dan ingkung ayam dalam musim tanam kedua.
Dalam tradisi ini, beberapa warga tampak menggotong jajanan pasar untuk disajikan di persawahan Desa Laban.
Seperti lopis gupak, dawet cendol beras, pisang, jadah pasar, dan nasi kluban. Kemudian, jajanan itu ditata rapi sebelum didoakan.
"Jajanan pasar itu sebagai syarat dalam tradisi. Dan ini wujud syukur kami para petani setiap musim padi berbuah. Semoga mendapat keberkahan dan panen yang melimpah," jelas Kepala Desa Laban Adibul Farah usai melaksanakan tradisi.
Adib mengatakan, makanan khas dan syarat tradisi itu didoakan bersama sesepuh dan tokoh masyarakat. Selanjutnya makanan itu disajikan di atas daun pisang. Kemudian puluhan warga yang mayoritas petani ini duduk memanjang dan makan bersama.
"Kami sekaligus nguri-uri tradisi gotong royong. Warga juga patungan bersama untuk menambah keguyuban," ujarnya.
Adib berharap, tradisi Tingkeban Pari ini terus dilestarikan warganya. Lantaran hal itu menjadi wujud syukur agar panen padi nantinya bisa melimpah dan berkah. Pihaknya juga berupaya supaya dana desa mendapat prioritas untuk pengembangan sektor pertanian.
"Kami harap ada suport lebih. Seperti dana desa yang bisa digunakan untuk membangun akses pertanian. Karena mayoritas warga sini berprofesi petani," harapnya.
Sementara Ketua Paguyuban Kelompok Tani, Wawan mengatakan, tradisi ini menambah guyub rukun para petani khususnya di Desa Laban, Kecamatan Kangkung. Dia berharap, panen padi tahun ini bisa melimpah.
"Nantinya ada tradisi megono. Itu dilaksanakan setiap hendak panen. Semoga hasilnya baik agar kerja keras para petani bisa bermanfaat untuk lainnya," katanya. (dev/bas)
Editor : Baskoro Septiadi