Pantauan Jawa Pos Radar Semarang Minggu (18/6) siang, sejumlah petugas pemadam kebakaran (damkar) tampak sibuk memadamkan titik-titik api di gunung sampah eks TPA Darupono seluas 3 hektare.
Ada juga petugas yang menjalankan ekskavator untuk mengaduk atau membolak-balikkan sampah yang sudah disiram oleh damkar. Sebelumnya, pemadaman api sudah dilakukan pada Kamis (15/6). Namun belum maksimal. Sebab itu, disiapkan dua mobil damkar dan tiga mobil tangki air.
"Sumber airnya dari Kali Blorong. Tiap lima menit itu harus ngisi air untuk penyiraman titik yang ada apinya. Kalau dihitung ya sudah berpuluh-puluh tangki yang digunakan untuk pemadaman," jelas Sekda Kendal Sugiono Minggu (18/6) di lokasi.
Sugiono melanjutkan, sudah sepertiga lahan gunung sampah itu diaduk menggunakan ekskavator. Artinya, masih dibutuhkan tiga hari lagi untuk penanganan secara keseluruhan. Selain penyiraman air, upaya lainnya dengan membuat terasering. Sehingga memudahkan petugas untuk memonitor gunung sampah di TPA yang sudah ditutup sejak 3 tahun lalu itu.
Ada juga dua cerobong udara untuk keluarnya gas metana. Sedikitnya cerobong udara itu membuat proses keluarnya gas metana di dalam tumpukan sampah menjadi tidak maksimal.
"Sebenarnya ada empat. Tapi yang dua hilang. Pokoknya kejadian ini akan kita tuntaskan dan semoga tahun depan tidak ada lagi," lanjutnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kendal Aris Irwanto menambahkan, idealnya cerobong udara itu dipasang tiap lima meter persegi di area gunung sampah. Hal itu untuk penyaluran emisi supaya tidak terjadi ledakan gas metana yang menimbulkan kebakaran.
Aris menegaskan, supaya masyarakat Kendal bisa sadar untuk mengurangi penggunaan sampah dari sumbernya. Pasalnya, hal itu bisa menjadi solusi yang tepat bagi Pemkab dan masyarakat Kendal.
"Kami prihatin, karena TPA Darupono yang baru juga hampir overload. Makanya penanganan harus dilakukan bersama," tegasnya. (dev/bas) Editor : Agus AP