Adalah Sulton, 55, salah satu pelatih sepak takraw di Desa Jungsemi. Ia menceritakan, saat ini ada 60-an atlet sepak takraw di desanya. Dalam berlatih fisik, para atlet memanfaatkan fasilitas yang dipinjam dari PSTI KONI Kendal. Seperti barbel, leg press, sand sack, dan lainnya.
Menurutnya, perlengkapan latihan maupun sarana dan prasarana atlet sepak takraw masih kurang. Bahkan minim untuk mencukupi kebutuhan atlet. Terlebih, saat ini belum ada lapangan indoor sebagai tempat berlatih para atlet. "Itu kadang menjadi kendala. Apalagi kalau hujan membuat waktu latihan bergeser dan tidak sesuai target," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Biasanya, atlet takraw di Desa Jungsemi berlatih di halaman SD N 2 Jungsemi dan Pantai Indah Kemangi. Dua tempat itu adalah wilayah krusial yang harus dijamah para atlet. Berlatih di pantai mampu meningkatkan kekuatan fisik. Sehingga atlet bisa lebih lincah, gesit, dan cepat saat menerima bola takraw. Hal itu juga menjadi strategi khusus dalam proses latihan yang membedakan dengan daerah lain.
"Kan ada tambahan beban kalau latihan di atas pasir. Nantinya pas di lapangan asli jadi lebih lincah. Itu salah satu strateginya," beber pendiri Klub Sepak Takraw Citra Kartika ini.
Rupanya, strategi itu mampu membawa beberapa atlet binaannya berhasil dalam ajang sepak takraw di kancah internasional. Seperti Hadi Mulyono (juara SEA Games Jakarta 2003) Nur Kholis (juara Asian Games Qatar), dan Anwar Budiyanto (peraih emas dalam Asian School Games 2019 dan SEA Games Kamboja 2023).
"Selain strategi, pelatih juga melakukan inovasi dan teknik latihan baru. Biar apa? Biar atletnya berkembang. Karena saya fanatik menang," jelas Sulton.
Kiprah Desa Jungsemi sebagai desa penghasil atlet sepak takraw dimulai sejak tahun 1982. Saat itu, banyak terjadi kenakalan remaja. Karenanya, dibentuk Klub Citra Kartika yang mewadahi minat anak-anak di bidang sosial, olahraga, dan lainnya. Kemudian, pada 1987 klub sepak takraw resmi berdiri.
Sulton membeberkan, meski menjadi desa penghasil atlet, rupanya kesejahteraan atlet sepak takraw di Kendal belum mendapat perhatian maksimal. Terlebih, para atlet tumbuh dari lingkungan sederhana. Ditambah, atlet di Jungsemi banyak lahir dari keluarga petani.
Karena itu, untuk pendanaan atlet ditanggung mandiri melalui perhimpunan dana abadi. Yakni atlet yang sudah senior dan menjadi pegawai, harus ikut iuran Rp 50 ribu per bulan untuk pendanaan latihan. Dari hal itu, tak jarang anak didiknya ditarik ke Puslatkab, PPLP, hingga ke Pelatnas.
"Di sini tidak punya dana berlimpah. Intinya kami membentuk atlet takraw itu sebagai karakter petarung mulai dari nol. Artinya, mulai dari memilih bibit, membentuk mental bertanding, memotivasi, dan menjadi juara murni itu tanpa dana yang memadai," jelasnya.
Dengan kondisi yang sederhana, Sulton berharap ada perhatian lebih layak untuk para atlet di Kabupaten Kendal. Termasuk tempat latihan. Pihaknya juga sudah berusaha untuk mencari gedung ke pemerintah desa. Bahkan lapangannya sudah disiapkan.
"Tapi sampai selarang banyak alasan-alasannya. Katanya dulu tanahnya berubah hijau," jelasnya.
Sulton berharap, bisa memiliki gedung latihan khusus latihan atlet sepak takraw. Sehingga, tidak perlu repot mengganti waktu latihan. Serta mampu mencapai target yang telah direncanakan.
"Saya mengharapkan kepada pemangku kepentingan, mereka yang sudah mengorbankan masa kecilnya dihargai sebagaimana layaknya. Dan ke depannya saya punya mimpi membuat sekolah sepak takraw. Dan itu akan berjalan ketika nanti kalau sudah memiliki gedung sendiri," tandasnya. (dev/ton) Editor : Agus AP