Talut bagian timur di Desa Lanji kritis karena tanggul darurat berupa bronjong batu bocor, akibat tergerus arus sungai. Sedangkan tujuh titik talut kritis lainnya mengalami longsor.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kendal, Sugiono, menjelaskan, penyebabnya longsor karena kondisi tanah labil. Saat kemarau tanah sangat kering dan mengeras. Namun saat terkena air hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan berat jenis tanah bertambah. Akibatnya kohesi atau daya rekat menjadi nol persen.
“Sehingga dengan beban air sungai yang bertambah dan arus yang begitu deras mengakibatkan talut sedikit demi sedikit terkikis dan mengalami kelongsoran,” terangnya usai menyusuri Sungai Bodri kemarin (2/2/2021).
Kondisi talut yang kritis mengancam permukiman warga. Terutama talut di Dukuh Pilangsari, Desa Pidodo Kulon. Sebab sudah ada yang jebol. “Bahkan banjir pekan lalu, Desa Pidodo Kulon dan Desa Margorejo kebanjiran selama dua hari, setinggi satu meter akibat limpasan air sungai,” tambahnya. Pihaknya mengimbau warga waspada.
Dijelaskan, kewenangan pembangunan talut Sungai Bodri adalah Pemerintah Provinsi Jateng. Pihaknya segera berkoordinasi untuk perbaikan.
Sementara ini, Pemkab Kendal bersama warga melakukan penanganan darurat. Seperti di Desa Lanji dan Kumpulrejo, mengokohkan talut dengan tumpukan karung yang berisi tanah liat.
Warga Dukuh Pilangsari, Desa Pidodo Kulon Abdul Hamid mengatakan, talut jebol terjadi pada Jumat (29/1/2021). Akibatnya dua desa yakni Desa Pidodo Kulon dan Margorejo terendam air setinggi satu meter. Aktivitas warga selama dua hari pun lumpuh.
Tidak hanya permukiman warga, puluhan hektare sawah dan perkebunan warga juga diterjang banjir. “Kami minta agar pemerintah segera memperbaiki talut yang jebol, sebab jika tidak ditangani maka akan semakin lebar,” harapnya. (bud/zal) Editor : Agus AP