Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Peringati 77 Tahun Rakyat Pekalongan Rebut Kekuasan Atas Jepang

Agus AP • Rabu, 5 Oktober 2022 | 17:13 WIB
Teatrikal peringatan 3 Oktober, perundingan rakyat Pekalongan dengan penjajah Jepang di Markas Kempetai di Lapangan Kebon Rojo. (Lutfhfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
Teatrikal peringatan 3 Oktober, perundingan rakyat Pekalongan dengan penjajah Jepang di Markas Kempetai di Lapangan Kebon Rojo. (Lutfhfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Senin (3/10) kemarin, tepat 77 tahun rakyat Pekalongan melakukan perundingan dengan pihak Jepang di Markas Kempetai di Lapangan Kebon Rojo, yang kini menjadi kawasan Monumen Djoeang 45.

Di hari yang sama, terjadi penyanderaan beberapa orang Jepang di kantor Syucho Pekalongan. Para pejuang menegaskan akan membunuh para sandera jika perundingan gagal.

Perundingan dimulai pukul 10.00. Pihak Indonesia diwakili oleh Mr Besar, dr Sumbadji, Dr Ma’as, R Suprapto, A Kadir Bakri, dan Jauhar Arifin. Sedangkan pihak Jepang diwakili Tokonami, Kawabata, Hayasi, dan Horiizumi. Dalam perundingan itu, Indonesia meminta tiga tuntutan. Pihak Jepang memahami tuntutan tersebut. Namun karena pihaknya terikat Sekutu, sehingga harus menunggu instruksi dari tentara Jepang di Jakarta agar tetap menjaga status quo Indonesia sebelum Sekutu datang.

Perundingan tidak kunjung usai, karena Jepang mengulur waktu status quo. Para pemuda Pekalongan akhirnya mengepung dan menyerbu tempat perundingan. Hingga akhirnya terjadi aksi tembak-menembak. Lapangan Kebon Rojo pun menjadi saksi pertumpahan darah antara tentara Jepang dan pejuang Indonesia.

Beberapa pemuda juga menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan Merah Putih untuk mengobarkan semangat nasionalisme. Korban berjatuhan baik dari pihak Jepang maupun Indonesia. Sebanyak 37 pejuang yang merupakan warga Kota Pekalongan gugur dalam pertempuran 3 Oktober 1945 silam. Itulah gambaran teatrikal kolosal yang diperankan oleh sejumlah pelajar dan masyarakat di Kota Pekalongan pada Senin (3/10) malam.

Sebelum digelar teatrikal, peringatan tersebut diawali dengan upacara dipimpin Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid, dihadiri jajaran pemkot, serta Forkopimda.

Wali kota menyampaikan, peristiwa 3 Oktober ini menjadi upaya menelusuri kembali nilai-nilai kesejarahan yang telah dilakukan oleh para pahlawan melawan penjajahan. Walaupun setelah peperangan dan runtutan aksi, akhirnya pada 7 Oktober 1945 Pekalongan dinyatakan bebas dari kekuasaan Jepang. “Ini bentuk penghormatan kita atas jasa para pejuang Pekalongan," ujarnya.

Sekretaris Daerah Kota Pekalongan Sri Ruminingsih menambahkan, meletusnya aksi di Lapangan Kebon Rojo, usai berita kekalahan Jepang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai di Pekalongan melalui siaran radio. Yang berhasil diretas oleh beberapa anggota Barisan Pelopor dan seorang kurir Pekalongan dari Jakarta.

Berita itu disambut gembira oleh rakyat Pekalongan. Pada 28 Agustus 1945, dibentuklah KNI Pekalongan yang bertugas mempertahankan kemerdekaan dan mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang. Dan didukung oleh BPKKP dan kelompok pejuang pemuda di Pekalongan.

“Awalnya perundingan akan digelar 1 Oktober 1945 di kantor Karesidenan Pekalongan, memanasnya situasi diundur menjadi 3 Oktober,” terangnya.

Menurutnya, sebagai rasa syukur atas jasa dan pengorbanan pahlawan kusuma bangsa, generasi penerus wajib dan senantiasa meneruskan cita-cita pejuang."NKRI harga mati, perjuangan bangsa kita dulu berat. Momen peristiwa 3 Oktober menjadi pengingatnya,” tandasnya. (han/zal) Editor : Agus AP
#Monumen Djoeang 45