RADARSEMARANG.ID, Semarang —Open house saat hari Raya Idul fitri identik dengan kegiatan silaturahmi dan halal bihalal.
Kegiatan tersebut membawa manfaat bagi terciptanya masyarakat Indonesia yang harmonis, ruku, dan memiliki toleransi tinggi.
Kata open house berasal dari bahasa Inggris yang artinya membuka rumah.
Baca Juga: 7 Artis Perdana Rayakan Lebaran Sebagai Mualaf di 2025, Dokter Richard Lee hingga Ruben Onsu
Dalam konteks Lebaran, open house merupakan istilah yang merujuk pada kebiasaan membuka rumah untuk menyambut tamu saat hari Raya Idul fitri.
open house merupakan istilah keren dari kebiasaan berkunjung ke sanak saudara maupun teman pada saat hari raya Idulf tiri tiba.
Kebiasaan umum orang-orang melakukan open house ini dilakukan sebagai sarana untuk menyambung tali silaturahmi pada bulan Syawal.
Baca Juga: Ruben Onsu Mengaku Sudah Mualaf, Salat Id Perdana Bersama Ivan Gunawan
Saat open house tuan rumah akan membuka rumahnya dan mengajak orang sekitar untuk berkunjung.
Mulai dari keluarga, kerabat, teman, hingga tetangga. Terdapat beberapa kegiatan yang bisa dilakukan saat open seperti mengobrol santai, makan-makan, dan bermain games.
Kegiatan open house tidak dilakukan oleh masyarakat umum saja. Para pejabat negara seperti walikota hingga presiden juga mengadakan kegiatan tersebut.
Manfaat open house
Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan open house Lebaran di antaranya sebagai berikut.
1. Mempererat Silaturahmi
Melalui open house, keluarga dan teman-teman bisa saling bertemu. Momen ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang mungkin tidak terjalin dengan baik. Mengingat dalam agama Islam, menjaga tali persaudaraan merupakan hal yang sangat dianjurkan.
2. Menjalin Keharmonisan
Open house menjadi kesempatan bagi tetangga dan masyarakat sekitar untuk saling mengunjungi. Dengan begitu, kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat bisa terjadi. Ini membantu menciptakan keharmonisan dan rasa kebersamaan dalam lingkungan sekitar.
3. Meningkatkan Rasa Toleransi
Tidak hanya umat muslim saja, seringkali open house juga dihadiri oleh tetangga atau teman beda agama. Hal ini menjadi momen untuk saling berbagi budaya dan tradisi. Kegiatan tersebut menjadi contoh nyata dari toleransi sosial yang tinggi.
Baca Juga: Daftar 14 Tempat Wisata Gratis di Yogyakarta, Cocok Buat Healing Lebaran Idul Fitri 2025
4. Membuat Lebaran Lebih Bermakna
Open house memungkinkan tuan rumah untuk menyambut siapa saja yang datang. Menjadikan Lebaran terasa lebih bermakna dan penuh dengan kebersamaan. Berbagi kebahagiaan dengan orang lain merupakan bagian dari inti dari perayaan Lebaran itu sendiri.
Profil Gus Miftah
KH Miftah Maulana Habiburrahman, atau yang lebih populer disapa dengan Gus Miftah, lahir di Lampung 5 Agustus 1981.
Gus Miftah memiliki nama kecil Miftah‟in An‟am Maulana Habiburrahman, beliau dikenal sebagai sosok kyai nyentrik asal Yogyakarta.
Baca Juga: Aneka Hidangan Makanan Khas Jawa Cocok Buat Sajian Tamu Lebaran Idul Fitri 2025
Beliau juga merupakan keturunan ke-9 Kyai Ageng Hasan Besari, pendiri Pondok Pesantren Tegalsari di Ponorogo.
Gus Miftah juga dikenal sebagai dai muda Nahdlatul Ulama (NU) yang dakwahnya berfokus pada kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar pondok pesantren.
Selain itu sosok Gus Miftah juga menjadi kontroversi, setelah video dirinya tengah berceramah di salah satu club malam tersebar di media sosial dan menjadi viral.
Tidak sedikit yang mencibir, namun tidak sedikit pula yang memberikan pujian atas aksinya yang tidak biasa tersebut.
Baca Juga: Jadwal Open House Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Lebaran Idul Fitri 2025
Setelah berdakwah dengan keluar masuk di tempat-tempat hiburan malam, Gus Miftah akhirnya berinisiatif mendirikan pondok pesantren yang nantinya berisi kaum marjinal yang ingin lebih mengenal Allah.
Pondok Pesantrennya di namakan Pesantren Ora Aji yang bertempat di Tudan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta dan didirikan tahun 2011.
Nama pesantrennya memang berbeda dengan kebayakan pondok pesantren pada umumnya.
Kata “Ora Aji‟ diambil dari bahasa Jawa yang memiliki arti tidak berarti atau tidak berharga.
Maknanya, tidak ada yang berharga di mata Allah selain iman dan ketakwaan yang ada pada dirinya sendiri.
Baca Juga: Jadwal Open House Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Lebaran Idul Fitri 2025
Jalan dakwah yang dilakukan beliau memang banyak menuai pro dan kontra, tapi menurutnya, selalu ada hal baik dibalik sesuatu yang terlihat buruk.
Gus Miftah memutuskan menjadi dai di dunia malam karena beliau prihatin akan kurangnya kebutuhan rohani bagi mereka yang sebenarnya ingin mendapatkan, tapi sulit untuk memulainya.
Baginya masih banyak masyarakat yang melabelkan dirinya paling suci, sehingga melihat mereka yang belum mendapat jalan hidayah sebagai manusia kotor dan hina.
Dengan cara dakwah yang dilakukannya ini, beliau memiliki keinginan dengan menyapu tempat yang kotor menjadi bersih dan menghidupkan lampu di tempat yang gelap.
Baca Juga: Klaim Kode Redeem FF Free Fire Sekarang Juga, Hadiah Eksklusif Spesial Idul Fitri 2025
Dakwah yang dilakukan Gus Miftah juga terinspirasi dari salah satu kyai kondang berasal dari Kediri, yaitu KH Hamim Tohari Djazuli atau yang lebih akrab dipanggil Gus Miek.
Penyebaran dakwah yang dilakukan Gus Miek bisa dikatakan merambah ke semua kalangan, tak terkecuali para preman, pejudi, dan para pekerja dunia malam.
Tidak hanya Gus Miftah yang menuai kotroversi, dakwah yang dilakukan Gus Miek juga mendapat reaksi yang sama pada masanya.
Namun dengan sikap tenang, Gus Miek berkomentar, “Biar nama saya tercemar di mata manusia, tapi tenar di mata Allah, lagi pula Kyai mana yang mau masuk ke tempat-tempat seperti itu?
Padahal mereka juga menginginkan surga, bukan hanya jamaah yang berpeci dan bersarung saja yang menginginkannya.”
Baca Juga: Terbaru ChatGPT Bisa Ubah Foto Lawas Jadi Animasi Gaya Studio Ghibli Begini Caranya
Penampilan Gus Miftah pun juga menyesuaikan tempatnya memberi dakwah, dengan celana jeans, baju hem bertuliskan Harley Davidsion, kaca mata hitam, menggunakan sepatu dan tidak memakai peci melainkan memakai blangkon sebagai salah satu ciri khasnya.
Selain itu dakwah yang disampaikan juga menyesuaikan dengan kondisi jamaahnya.
Dalam dakwahnya, Gus Miftah selalu mengajak para jamaah untuk bersholawat bersama, mengajak mengaji bersama, serta tak jarang mengajak sholat berjamaah.
Itulah salah satu strategi yang digunakan Gus Miftah agar mereka para pekerja dunia malam bisa kembali bermesraan dengan Tuhan-Nya tanpa harus menghakimi dan memperdebatkan status mereka.
Baca Juga: Pejuang NIP Wajib Tahu, Daftar 22 Kementerian Baru Membuka Lowongan CPNS 2025
Nama Panggilan: Gus Miftah
Tempat tanggal lahir: Lampung Timur, 5 Agustus 1981
Pekerjaan: Mubaligh, Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji
Pendidikan: Sarjana Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung Semarang
Agama: Islam
Zodiak: Leo
Orang Tua : M. Murodhi bin M. Boniran bin Kyai Usman (Ayah)
Baca Juga: Jay Idzes Kapten Timnas Indonesia Pemain DIaspora Ternyata Mbahne Wong Semarang, Ini Profilnya
Pasangan: Dwi Astuti Ningsi
Anak:
Atqiya Maulana Habiburrohman
Mufti Nabil Ulayya Mekkah
Akun Instagram: @gusmiftah
Baca Juga: Agar Siap Kerja Luar Negeri, Pemerintah Merubah Masa Belajar Siswa SMK Jadi 4 Tahun
Namanya semakin dikenal publik setelah sering memberikan ceramah di klub malam.
Gaya bicaranya yang santai, humoris, dan mudah dicerna membuat ceramahnya banyak disukai oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda.
Dengan memanfaatkan media sosial, Gus Miftah berhasil menjangkau audiens yang lebih luas.
Video-video ceramahnya viral dan membuatnya menjadi salah satu tokoh agama yang paling populer di Indonesia.
Bahkan, ia sempat mendampingi Deddy Corbuzier dalam membaca dua kalimat syahadat.
Sejak saat itu, Gus Miftah sering tampil di berbagai stasiun televisi swasta untuk memberikan dakwah.
Pendidikan Gus Miftah
Gus Miftah pernah berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tetapi tidak selesai di tahun keempat.
Namun, karena merasa bahwa pendidikan itu wujud tanggung jawabnya kepada orangtuanya dan anak-anak yang mengidolakannya ia melanjutkan studinya di Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang dan lulus pada Februari 2023 lalu.
Gus Miftah mengambil penelitian terkait pendidkan Islam berwasan kebangsaan dengan judul skripsinya “Pendidikan Islam Berwawasan Kebangsaan Berbasis Al Mizah dan Al Miftahiyyah”.
Baca Juga: Klaim Sekarang Kode Redeem Free Fire Indonesia Menang vs Bahrain Dapatkan Hadiah Voucher Incubator
Bahkan, Gus Miftah juga mendapat Letter of Acceptance untuk melanjutkan kuliah S2 di Unissula.
Semasa kuliah, Gus Miftah juga aktif di di organisasi kemahasiswaan seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berfiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).
Gus Miftah juga mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Ora Aji di Sleman, Yogyakarta pada 2011.
Alasannya tidak menggunakan bahasa Arab untuk nama ponpesnya karena Ponpesnya berbeda dari Ponpes lain.
Ora Aji juga memiliki makna yang mendalam yang artinya “tidak berarti”.
Nama Ponpes Ora Aji mengandung fislosofi bahwa tidak ada seorang pun yang berarti di mata Allah selain ketakwaan.
Di ponpesnya ini, Gus Miftah menampung para santri yang sebagian di antaranya adalah anak-anak jalanan, anak punk, dan mantan preman.
Baca Juga: Cara Cek dan Top Up Saldo e-Toll dengan HP untuk Perjalanan Mudik Balik Lebaran Idul Fitri 2025
Gus Miftah juga mulai dikenal luas oleh publik ketika video dirinya saat memberikan pengajian di salah satu kelab malam di Bali, viral di media sosial (medsos) pada September 2018 lalu.
Kunci sukses yang lain pada diri Gus Miftah karena sang Istri selalu membaca Sholawat 15.000 kali setiap harinya.
Hal ini disampaikan saat acara Sholawat dan Ngaji Kebangsaan Bersama Gus Miftah serta Habib Zaidan bin Haidar bin Umar Bin Ali bin Hasyim bin Yahya tanggal 8 Oktober 2024.
Jadwal Open House Gus Miftah
Hari Jum’at, Sabtu, Minggu
Tanggal 4, 5, 6 April 2025
Lokasi: Joglo Ponpes Ora Aji Jalan Werkudara, Tundan, Purwomartani, Kec. Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55571
Dan acara ini terbuka untuk jamaah umum, silahkan menghadiri.
Baca Juga: Harga dan Cara Sewa Iphone di Semarang Ramai Buat Bisnis Hampers Hingga Mudik Lebaran 2025
“Ilmu itu bagaikan binatang buruan, sedangkan pena adalah pengikatnya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.” - Imam Syafi’i.
Sebarluaskan, ajaklah teman, kerabat, dan keluarga menghadiri majelis yang penuh berkah ini. (fal)
Editor : Tasropi