RADARSEMARANG.ID – Karimunjawa memiliki sederet hewan asli salah satunya adalah jenis ular tanah yang masyarakat setempat menyebut ular Edor.
Ular Edor termasuk pada golongan ular tanah yang amat berbisa. Menurut warga sekitar ular Edor matanya buta dan bertubuh pendek.
Ada juga cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Karimunjawa tentang sosok ular Edor tersebut.
Dikutip dari berbagai sumber, konon ceritanya, tokoh masyarakat setempat yaitu Sunan Nyamplungan atau Amir Hasan tiba di daratan pulau sepi dan masih banyak tumbuhan liar, dia dan dua orang santri yang menemaninya dihadang oleh kawanan perampok yang ganas dan beringas.
Mereka bermaksud menyerang dan melukai Amir Hasan dan dua orang santri itu. Namun, dengan mudah Amir Hasan dan dua orang santrinya berhasil mengalahkan dan menjadikan kawanan perampok itu mengikuti ajaran Amir Hasan.
Kawanan perampok yang awalnya jahat itu berubah menjadi alim dan bijaksana semenjak menjadi murid Amir Hasan. Mereka selalu patuh akan perintah Amir Hasan.
Suatu ketika, Amir Hasan dan para muridnya melakukan perjalanan untuk mencari lokasi yang layak dan pantas untuk didirikan masjid dan tempat menyebarkan agama Islam.
Pulau sepi yang berpenghuni tidak seberapa itu memang memiliki struktur alam yang masih hutan belantara saat itu.
Baca Juga: Tak Perlu Panik, Begini Langkah Pertolongan Pertama Jika Digigit Ular Edor di Karimunjawa
Di tengah perjalanan, Amir Hasan melewati sebuah hutan yang sangat lebat dan banyak semak belukar.
Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang mengenai kakinya. Dengan menggunakan tongkat kayu pemberian ayahnya, Amir Hasan menyibak belukar yang menyelubungi kakinya.
Ternyata ada seekor ular bertubuh pendek dan bercorak padi mematuk kakinya. Dilihat dari bentuk kepala ular yang segitiga, Amir Hasan mengetahui bahwa ular itu sangat berbisa.
Namun, ternyata patukan ular tersebut tidak mampu melukai kulit Amir Hasan sedikit pun. Kejadian itu diabaikan oleh Amir Hasan.
Dia berpikir tidak akan melukai ular tersebut karena ular juga makhluk Tuhan yang tidak selayaknya disakiti. Dia dan rombongan santrinya kembali melanjutkan perjalanan.
Belum lama dia melakukan perjalanan, dia merasakan kakinya dipatuk lagi oleh ular tersebut. Rupanya, ular tadi mengikuti langkah Amir Hasan.
Namun, Amir Hasan mengabaikannya lagi dengan cara mencongkel tubuh sang ular dan membuangnya ke arah semak-semak yang lebih rimbun.
Kemudian, dia dan rombongan melanjutkan perjalanan lagi. Dan akhirnya, untuk ketiga kalinya Amir Hasan dipatuk lagi oleh ular kecil, pendek, dan berbisa itu.
Habislah kesabaran Amir Hasan akan kelakuan ular tersebut. Meskipun tidak terluka karena patukan ular itu, Amir Hasan merasa ular tersebut mengganggu perjalanannya bersama rombongannya.
"Wahai muridku, lihat dan jadilah saksi akan perbuatan ular ini. Aku kutuk ular ini menjadi buta karena selalu mengganggu perjalananku mencari tempat berdakwah." ucap Amir Hasan.
Setelah berucap demikian, tiba-tiba ular tersebut menjadi buta dan sedikit sekali bergerak. Ular itu terlihat melingkarkan badannya seolah ketakutan pada Amir Hasan.
Ular tersebut tidak dapat bergerak di siang hari dan akan terlihat lebih aktif pada malam hari. (bas)
Editor : Baskoro Septiadi