Kemarau, Luas Tanam Padi di Jateng Menurun, Ada Enam Wilayah Rawan Kekeringan

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 19:19 WIB
Kepala Distanak Jateng Defransisco Dasilva Tavares.
Kepala Distanak Jateng Defransisco Dasilva Tavares.

 

RADARSEMARANG.ID - Musim kemarau mulai berdampak terhadap luas tanam padi di Jawa Tengah. Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jateng mencatat luas tanam padi mengalami penurunan sekitar 20 persen.

Kepala Distanak Jateng Defransisco Dasilva Tavares mengatakan ada enam wilayah di Jateng yang menjadi perhatian karena rawan kekeringan. Diantaranya Wonogiri, Blora, Rembang, Grobogan, Jepara, dan sebagian wilayah Cilacap.

"Itu beberapa lokasi yang kita pantau karena kekeringannya lebih dulu," kata Frans saat dikonfirmasi, Kamis (27/8).

Ia menjelaskan luas tanam padi hingga Juli 2026 lalu mengalami penurunan 20 persen. Kendati demikian para petani masih melakukan penanaman meskipun luas lahan yang bisa ditanami berkurang karena keterbatasan air.

Baca Juga: Tergelincir di Tikungan Taman Pierre Tendean, Pemotor Masuk ke Kolong Trans Semarang

"Turun sekitar 20 persen, tapi itu laporan yang angkanya masih bisa berbeda, karena penyuluh juga di lapangan, ini laporan dari Kabupaten per bulan lalu (Juli)," tegasnya.

Menurutnya wilayah yang terdampak kekeringan juga tidak seluruhnya mengalami kondisi yang sama. Upaya penyediaan air terus dilakukan untuk mempertahankan produksi padi.

Pihaknya bersama pemerintah kabupaten, Kementerian Pertanian, penyuluh, Bank Indonesia, dan BBWS berupaya menjaga pasokan air ke lahan pertanian.

Untuk daerah yang sulit mendapat air, pemerintah menyiapkan sumur dalam dan sumur dangkal. Air kemudian dialirkan menggunakan pompa dan pipa menuju lahan pertanian.

Selain menjaga pasokan air, pemerintah juga menyiapkan perlindungan bagi petani melalui asuransi. Tahun 2026, asuransi pertanian disiapkan untuk 10.400 hektare lahan padi yang tersebar di 29 kabupaten dan Kota Semarang.

Petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan atau serangan hama bisa mengajukan klaim. Syaratnya, kerusakan lahan mencapai 75 persen dan telah melalui pemeriksaan.

"Kalau gagalnya 75 persen, kondisinya tidak bisa diselamatkan dari luasan itu, otomatis diganti, biasanya Rp 6 juta per hektar untuk mengganti kerugiannya," jelasnya.

Meski luas tanam menurun, Distanak tetap menargetkan produksi gabah kering giling 10,5 juta ton pada 2026. Salah satu strategi yang didorong yakni meningkatkan produktivitas lahan melalui pertanian modern.

“Sekarang dicoba dengan metode PMAAS namanya, jadi Pertanian Modern-Advanced Agriculture System, itu dia model tanamnya seperti jajar legowo, tapi dia tanamnya justru lebih banyak benihnya, karena langsung tidak pakai model pembibitan dulu terus bisa dipindahkan ke lahan, sehingga menghemat wajtu dua minggu untuk persemaian, karena tanam langsung terus hasilnya (produksi padi) lebih tinggi," pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
luas tanam padi dinas pertanian dan peternakan rawan kekeringan MUSIM KEMARAU JAWA TENGAH