Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

18 Daerah di Jateng Terancam Kekeringan, Hutan Kunci Selamatkan Sumber Air

Khafifah Arini Putri • Rabu, 8 Juli 2026 | 11:12 WIB
Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah, Sholeha Kurniawati
Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah, Sholeha Kurniawati

 

RADARSEMARANG.ID - Memasuki puncak musim kemarau 2026, ancaman kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Tengah (Jateng). Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, hingga akhir Juni 2026, sudah ada delapan daerah yang menetapkan status siaga darurat kekeringan.

Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Sukoharjo, Demak, Temanggung, Brebes, Kendal, Sragen, serta Kota Tegal dan Kota Salatiga.

Sementara potensi kekeringan tahun ini diperkirakan masih mengancam sedikitnya 18 kabupaten/kota lainnya. Mulai dari Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Sragen, Brebes, Tegal, Pemalang, Boyolali, Kabupaten Semarang, Cilacap, Purbalingga, Purworejo, Klaten, Jepara, hingga Banjarnegara.m

Menyikapi kondisi ini, Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah, Sholeha Kurniawati, menekankan pentingnya mitigasi kekeringan yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga pencegahan yang dilakukan jauh-jauh hari. Menurutnya, kunci utama untuk mengatasi kekeringan adalah dengan menjaga kelestarian hutan sebagai paru-paru dan penyimpan sumber daya air.

Baca Juga: Wali Kota Agustina Perluas Perhatian bagi Penggerak Keagamaan, Penerima Bisyaroh di Kota Semarang Hampir Tembus 10.000 Orang

"Jadi konservasi hutan (langkah mitigasi) karena sesungguhnya yang menyimpan atau yang bisa menyelamatkan sumber air itu adalah hutan," jelas Sholeha kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (7/7).

Ia menjelaskan, keberadaan pohon dengan sistem perakaran yang baik mampu meningkatkan daya serap air ke dalam tanah. Selain mengurangi risiko banjir, cadangan air tanah juga dapat dimanfaatkan masyarakat saat musim kemarau.

Menurutnya untuk mitigasi jangka pendek, Sholeha menyebut BPBD harus segera menyiapkan distribusi air bersih ke daerah-daerah yang membutuhkan. Namun, untuk solusi jangka panjang, Komisi B DPRD Jateng mendorong program konservasi air melalui pembuatan sumur resapan.

Karena itu pembangunan sumur resapan perlu diperluas. Program yang dijalankan bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) tersebut telah menunjukkan hasil positif di sejumlah daerah.

"Kita bisa memanen air, membuat tampungan air hujan kemudian kita salurkan ke bawah melalui sumur resapan. Di beberapa wilayah yang diuji cobakan sudah berhasil cukup baik. Di Senjoyo, debit airnya meningkat cukup signifikan dengan adanya pembuatan sumur-sumur resapan," bebernya.

Pihaknya pun mendorong sosialisasi budaya hemat air kepada masyarakat agar penggunaan air lebih bijak ketika musim kemarau tiba. Di sisi lain, pembangunan sumur air tanah juga perlu terus diperkuat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Jadi mungkin sumur resapan, kemudian sosialisasi, penggunaan air, hemat air untuk warga itu harus digalakkan supaya nanti perilaku hemat air pada saat kekeringan itu sudah terbiasa. Itu salah satu mitigasi,” pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#mitigasi kekeringan #sholeha kurniawati #MUSIM KEMARAU #JAWA TENGAH #Komisi B DPRD Jateng