RADARSEMARANG.ID - Kinerja PT Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah (Jateng) terus merugi. Kendati demikian Pemerintah Provinsi Jawa Tenga (Jateng) belum ada niatan untuk menutup Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut kondisi keuangan PRPP yang terus merugi sudah terjadi sejak ia menjabat pada 2024 lalu.
"Sejak saya masuk (PRPP) sudah rugi," kata Luthfi usai Rapat Paripurna di Gedung Berlian, Kamis (2/7).
Meski terus merugi, pihaknya belum berniat menutup PRPP. Justru, berbagai upaya tengah digalakkan untuk menyehatkan kembali BUMD yang dinilai memiliki aset strategis tersebut.
Baca Juga: Satpol PP Demak Bongkar Warung Miras Es Moni di Turitempel Guntur
"Belum (kita tutup), masih kita sehatkan. Kita lagi upaya untuk kita sehatkan kembali dengan cara yang bikin tata kelola, kemudian bikin event, kemudian kita bangun lagi terkait dengan velodrome atau Jawa Tengah Sport Center di sana," tegasnya.
Menurutnya ke depan, PRPP tidak hanya akan difungsikan sebagai tempat gelaran event seperti Jateng Fair atau kawasan Maerokoco. Pemprov Jateng saat ini tengah serius mencari investor untuk menggarap lahan 20 hektare yang dimiliki PRPP. Rencananya, di kawasan tersebut akan dibangun velodrome yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai cabang olahraga, mulai dari basket, futsal, hingga sport center yang akan terintegrasi dengan kawasan Pearl of Java (POJ).
"Memang sekarang lagi kita carikan investor untuk menjadi legacy-nya Provinsi Jawa Tengah. Kita akan bangun velodrome baik itu untuk basket, kemudian futsal, kemudian kegiatan-kegiatan lain termasuk sport center-nya yang nanti akan kita connect-kan dengan POJ. Dan ini lagi kita jaring investor sehingga PRPP nanti tidak rugi-rugi terus," ungkapnya.
Terpisah, Anggota Komisi C DPRD Jateng, Dwi Yasmanto, turut menyoroti kondisi PRPP yang merugi. Menurutnya, BUMD tidak bisa terus-menerus mengandalkan suntikan dana dari APBD untuk bertahan. Apalagi, saat ini Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) juga tengah dipangkas untuk berbagai program prioritas lainnya.
"Harus ada improvisasi dari BUMD bagaimana bisa menggandeng investor-investor terutama PRPP secara lokasi, secara tempat, itu sangat strategis. Kalau memungkinkan bisa mendapat investor yang bagus, insyaallah PRPP itu bisa berkembang lebih baiklah. Tapi kalau mengandalkan APBD memang jelas berat," ujarnya.
Menurutnya, selain mencari investor, pembenahan internal juga harus dilakukan. Mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia hingga mempertajam rencana bisnis agar tidak tumpang tindih dengan BUMD lainnya.
"Untuk permodalan wajib investor. Kemudian banyak PR kita ya, termasuk pembenahan SDM, sumber daya manusianya. Kemudian rencana bisnisnya itu harus dipertajam lagi," katanya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi