Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ayah Tak Cukup Hanya Cari Nafkah, Kades Sokawera Contohkan Pengasuhan Setara Lewat Keluarga Harmonis

Khafifah Arini Putri • Kamis, 4 Juni 2026 | 11:05 WIB
Kepala Desa Sokawera, Mukhayat saat melihat kondisi pelatihan stimulasi dini pada anak-anak di desanya. (DOK Tanoto Foundation)
Kepala Desa Sokawera, Mukhayat saat melihat kondisi pelatihan stimulasi dini pada anak-anak di desanya. (DOK Tanoto Foundation)

 

RADARSEMARANG.ID, Banyumas - Tak hanya ibu, peran ayah dalam pengasuhan anak juga sangat menentukan tumbuh kembang anak. Di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, kesadaran ini mulai tumbuh. Bahkan, Kepala Desa Sokawera, Mukhayat, menjadi contoh nyata bagaimana seorang ayah dapat hadir penuh untuk keluarga di tengah kesibukannya memimpin desa.

Momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) pada bulan Juni kembali menjadi pengingat pentingnya peran keluarga dalam membentuk generasi yang sehat dan berkualitas. Desa Sokawera, yang berada di lereng Gunung Slamet, terus berbenah. Bukan hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga dalam pola pengasuhan anak.

Upaya tersebut turut membuahkan hasil. Belum lama ini, Pemerintah Desa Sokawera meraih penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Banyumas atas keberhasilannya menekan angka stunting secara signifikan.

Kepala Desa Sokawera, Mukhayat, menjelaskan bahwa kunci keberhasilan tersebut berada pada kolaborasi dan edukasi. Desa Sokawera juga mendapat pendampingan dari Tanoto Foundation melalui program Rumah Anak SIGAP, yang berfokus pada penguatan layanan stimulasi dini bagi anak usia dini.

“Penurunan angka stunting ini kami lakukan bersama-sama, mulai dari pemerintah desa, kader posyandu, tim percepatan penurunan stunting, puskesmas, hingga berbagai pihak lainnya. Salah satu caranya adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat,” kata Mukhayat.

Edukasi tersebut mencakup berbagai hal, mulai dari pola asuh, pola pemberian makanan, hingga pemenuhan gizi seimbang untuk anak. Tidak hanya ibu, para ayah pun mulai dilibatkan dalam proses pengasuhan.

Mukhayat mengakui, pada awalnya kegiatan parenting lebih banyak diikuti oleh ibu-ibu. Namun, kini para ayah mulai menyadari bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama.

“Alhamdulillah, sejak ada pendampingan dari Tanoto Foundation, kami bersama para kader terus mengedukasi masyarakat agar pola pikir tentang pengasuhan anak bisa berubah menjadi lebih baik,” imbuhnya.

Menurut Mukhayat, saat ini para ayah mulai menyadari bahwa pengasuhan anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada ibu. Sejumlah praktik baik pun mulai terlihat. Beberapa ayah mulai terlibat langsung, seperti mengantar anak ke Rumah Anak SIGAP, menemani belajar, menjemput anak, memandikan anak, mengantar ke sekolah, hingga meluangkan waktu untuk bermain bersama.

“Ayah-ayah ini mulai sadar bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya ibu, tetapi ayah juga ikut berkontribusi besar. Bahkan, kehadiran ayah bisa mendukung motivasi agar anak tumbuh dan berkembang dengan sehat,” jelasnya.

Edukasi kepada para ayah biasanya Mukhayat sampaikan saat ada pertemuan warga. Menariknya, ia tidak sekadar memberi arahan. Ia juga memberikan contoh nyata dari keluarganya sendiri.

Sebagai kepala desa yang memiliki kesibukan mengurus sekitar 10.000 jiwa warganya, Mukhayat tetap berusaha meluangkan waktu untuk buah hatinya.

“Anak-anak kami sekarang memang sudah mulai besar. Anak ketiga saya sudah kelas 2 SD. Tapi sejak dulu, kami berusaha terus menemani dan mendampingi mereka. Bahkan, waktu istri saya hamil, saya rutin ikut mengantar kontrol ke bidan desa,” ungkapnya.

Setiap malam, ia mendampingi anak-anak belajar dan mengaji bersama. Saat memiliki waktu luang, ia juga mengajak keluarga berwisata sederhana untuk mempererat hubungan emosional.

“Kami berusaha memberikan kasih sayang penuh dan terus memotivasi anak-anak untuk belajar. Sesekali, kami juga mengajak mereka berjalan-jalan, sekadar ke taman atau makan di luar,” ujarnya.

Menurutnya, kebersamaan sederhana justru mampu membangun kedekatan yang kuat antara orang tua dan anak. Bahkan, keluarganya memiliki grup komunikasi bernama “Keluarga Harmonis” yang digagas oleh anak bungsunya.

“Ini akan menciptakan nuansa keluarga yang harmonis, dan anak akan selalu ingat,” katanya.

Ia juga membiasakan pelukan, menyapa anak sebelum berangkat sekolah, hingga meluangkan waktu untuk berbincang bersama keluarga. Cara sederhana itu, menurutnya, membuat hubungan antara orang tua dan anak semakin dekat.

“Alhamdulillah, anak-anak dekat dengan kami. Mereka tidak segan bercerita ketika menghadapi kesulitan, berdiskusi, dan mencari solusi bersama,” tuturnya.

Pengalaman tersebut kemudian ia bagikan kepada masyarakat dalam berbagai kesempatan. Ayah dari tiga anak ini memilih untuk memberi contoh terlebih dahulu sebelum mengajak warga melakukan hal yang sama.

“Jadi ya dari saya dulu, baru saya memberikan edukasi kepada yang lain. Bukan untuk pamer, tetapi untuk mencontohkan kepada warga saya,” tegasnya.

Melalui momentum Harganas 2026, Mukhayat berharap semakin banyak ayah yang menyadari bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama.

“Biar ayah-ayah ini benar-benar memahami tanggung jawabnya. Walaupun ada ungkapan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak, bukan berarti ayah boleh lepas tangan. Justru ayah dan ibu harus bekerja sama dalam pengasuhan,” tandasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#desa sokawera #peran ayah #Stimulasi Dini #tanoto foundation