RADARSEMARANG.ID - Jawa Tengah kembali dilirik sebagai basis pengembangan industri nasional. Kali ini datang dari sektor kendaraan listrik.
Hal itu terlihat dari langkah PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang terus mengembangkan investasi dan fasilitas perakitan kendaraan listrik komersial di Jateng dalam acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 yang digelar di Semarang, Senin (11/5). Melalui forum itu, VKTR memaparkan pengembangan investasi kendaraan listrik di Jawa Tengah.
Komisaris Utama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, Anindya N. Bakrie, mengatakan Jawa Tengah dipilih bukan sekadar lokasi investasi. Menurutnya, daerah ini memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi pengembangan industri kendaraan listrik nasional.
“Jawa Tengah bukan hanya lokasi investasi bagi VKTR, tetapi fondasi strategis untuk membangun lokalisasi industri kendaraan listrik nasional. Dengan kesiapan supply chain, khususnya industri karoseri, serta dukungan pemerintah daerah yang kuat, kami melihat potensi besar untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik komersial yang terintegrasi dan berkelanjutan dari Indonesia untuk Indonesia,” ujarnya.
Selain mengikuti forum investasi, VKTR juga menandatangani kerja sama pembangunan berwawasan lingkungan dan ketahanan energi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kerja sama itu mencakup penyusunan roadmap pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan industri hijau terintegrasi di Jateng.
VKTR memilih Magelang sebagai lokasi fasilitas perakitan kendaraan listrik. Salah satu pertimbangannya karena wilayah tersebut telah lama dikenal sebagai sentra industri karoseri nasional. Perusahaan juga menggandeng Karoseri Tri Sakti untuk pengembangan produksi kendaraan listrik komersial.
Saat ini VKTR memproduksi bus listrik tipe 12 meter dan 8 meter dengan kandungan komponen dalam negeri atau TKDN di atas 40 persen. Sementara untuk truk listrik, TKDN sudah melampaui 30 persen berdasarkan self-assessment perusahaan.
Ke depan, perusahaan menargetkan peningkatan TKDN hingga di atas 60 persen, bahkan mencapai 80 persen pada 2030. Di sisi lain, pasar kendaraan listrik komersial di Indonesia dinilai masih sangat terbuka. Dari lebih dari 6 juta unit truk dan sekitar 300 ribu bus yang beroperasi di Indonesia, tingkat elektrifikasinya disebut masih di bawah 0,1 persen.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, VKTR telah membangun fasilitas perakitan di Magelang dengan kapasitas produksi hingga 3.000 unit bus dan truk listrik per tahun. Kapasitas itu ditargetkan meningkat hingga 10 ribu unit pada tahap pengembangan berikutnya.
Perusahaan juga mulai memperkuat layanan pendukung seperti penyediaan suku cadang lokal, layanan perawatan kendaraan, hingga sistem pemeliharaan berbasis data.
Selain penjualan unit, VKTR juga menawarkan skema penyewaan kendaraan listrik agar pelaku usaha tidak perlu mengeluarkan investasi besar di awal. Model tersebut dinilai dapat mempermudah adopsi kendaraan listrik di sektor transportasi dan logistik.
Anindya menambahkan, investasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri pendukung di daerah.
“Investasi ini tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi menciptakan ekosistem yang mencakup penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok lokal, hingga peningkatan nilai tambah industri. Inilah langkah konkret menuju transformasi ekonomi hijau dan kemandirian industri nasional,” tambahnya.
Keberadaan fasilitas perakitan di Magelang disebut telah menyerap ratusan tenaga kerja langsung. Selain itu, industri pendukung seperti karoseri, pemasok komponen, logistik, hingga layanan purna jual juga diperkirakan ikut terdorong seiring pengembangan industri kendaraan listrik di Jawa Tengah.
Sementara Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai masuknya investasi tersebut menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap Jawa Tengah.
“Dengan mengusung semangat kolaborasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terbuka untuk investasi dan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengutamakan penggunaan produksi lokal," ungkapnya.
Menurutnya upaya ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan dampak nyata yang meluas bagi Jawa Tengah, dari meningkatnya peluang kerja bagi masyarakat, tumbuhnya industri lokal, hingga terbentuknya rantai pasok dalam negeri yang semakin kuat dan berdaya saing. (kap/web)
Editor : Baskoro Septiadi