Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Banjir di Jateng Meluas, BPBD Bilang Begini Soal Asal Kayu Gelondongan di Banjir Pemalang

Khafifah Arini Putri • Selasa, 27 Januari 2026 | 05:33 WIB
Penanganan banjir di Kawasan Tegal.
Penanganan banjir di Kawasan Tegal.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Banjir di Jawa Tengah (Jateng) terus meluas. Khususnya di wilayah Pantai Utara (Pantura).

Sepanjang Januari 2026 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng mencatat ada 38 bencana dan 297 kejadian. BPBD Jawa Tengah terus melakukan penanganan darurat, membuka akses jalan, serta mengevakuasi warga terdampak pun menjadi prioritas dari BPBD.

Berdasarkan data yang diterima Jawa Pos Radar Semarang periode 25 Januari 2026 masih ada 11 daerah di Jateng yang terdampak bencana. Diantaranya banjir di Kabupaten Demak, Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Jepara, Kota Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Tegal. Kemudian Kabupaten Pekalongan masih terimbas banjir dan tanah longsor. Lalu Kota Tegal terkena cuaca esktrem.

Kini yang terbaru adalah banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah lereng Gunung Slamet yang terjadi pada 23-24 januari 2026 lalu.

Menariknya aliran air itu membawa kayu gelondongan yang turut merusak infrastruktur dan rumah warga. Namun asal usul kayu tersebut belum diketahui.

Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jawa Tengah, Alexander Armin Nugroho, mengaku masih belum mengetahui asal material kayu gelondongan yang tiba-tiba ikut terseret banjir di Kabupaten Pemalang.

Kendati demikian pihaknya mengaku memang ada pohon yang ikut terseret arus banjir.

"Kalau pohon-pohonnya itu memang dari lereng Gunung Slamet. Kalau yang di medsos (ramai kayu gelondongan) sumbernya dari mana belum mengkaji," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (26/1).

Menurutnya wilayah yang paling terdampak di Kabupaten Pemalang ialah Kecamatan Pulosari. Tepatnya di Desa Gunungsari, desa Jurangmangu, dan Desa Penakir. Sementara 2.357 jiwa memilih untuk mengungsi.

Kendati demikian warga memilih pola “siang pulang, malam mengungsi” untuk berjaga-jaga menghadapi kemungkinan banjir susulan.

Selain itu siang hari biasanya warga ini beraktivitas seperti biasa, mereka pulang untuk membersihkan rumah.

"Akses sudah bisa (dilalui). Biasanya warga beraktivitas di siang hari membersihkan rumah," akunya.

Kerusakan akibat banjir cukup parah. Data BPBD menunjukkan, di Desa Penakir terdapat 12 rumah rusak berat dan 7 rumah rusak sedang.

Sementara di Desa Sima, Kecamatan Moga, ada 33 rumah terdampak dan 12 rumah rusak berat.

Infrastruktur juga terdampak, dengan total 16 jembatan putus, termasuk dua jembatan penghubung vital antara Dusun Silegok dan Sipendil di Desa Gunungsari.

“Prioritas utama sekarang adalah pemenuhan kebutuhan dasar di pengungsian, seperti dapur umum di tujuh titik. Sambil itu, kita buatkan jembatan sementara untuk akses,” tegas Armin

Lebih lanjut Armin menyebut pada Minggu (25/1) Kabupaten Pemalang dilanda tanah longsor. Hingga kini masih ada dua orang yang dalam pencarian akibat tertimbun longsor.

Dua warga ini ialah Hamim (60) dan Aksinudin (40). Operaso pencarian pun masih berlangsung di area persawahan Dukuh Siranti, Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul.

"Sekarang lagi di upaya untuk pencarian ya, ada dua orang yang tertimbun longsor tapi lokasinya bukan yang di banjir bandang yang di Kecamatan Pulosari dia di Watukumpul, dia memang lagi berkebun terus kemudian ada longsor dia tertimbun dan hari ini masih dilanjutkan dengan operasi pencaharian," bebernya.

Longsor yang dipicu hujan deras itu menimbun sawah seluas satu hektare dan ternak kambing milik warga.

Pencarian melibatkan Basarnas, Polisi dengan K-9, TNI, dan relawan, namun terkendala medan curam dan hujan yang masih berpotensi deras.

“Tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian dua warga yang hilang di Watukumpul. Medan curam dan cuaca yang masih berpotensi hujan menjadi kendala utama,” terang Armin.

Sementara di Kawasan Guci Kabupaten Tegal objek wisata masih ditutup total. Sebab kerusakannya parah.

"Keselamatan pengunjung adalah prioritas. Guci masih ditutup karena potensi intensitas hujan di Gunung Slamet masih tinggi. Pembersihan juga menunggu cuaca mendukung untuk keselamatan petugas," bebernya.

Sedangkan di Kabupaten Purbalingga, pemerintah daerah bahkan menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari menyusul banjir bandang yang dipicu longsor di lereng Gunung Slamet.

Bencana ini terjadi tiga kali sejak Jumat (23/1) malam dan menimbulkan kerusakan parah pada rumah, infrastruktur, serta mengancam ketahanan pangan. Sekitar 110 hektare lahan pertanian yang mayoritas padi, terancam gagal panen.

"Lumayan dampaknya, dari infrastruktur maupun perumahan. Ada lahan pertanian sekitar 110 hektare yang kemungkinan gagal panen, dan ini kebanyakan padi,” kata Armin.

Data BPBD menunjukkan, 36 rumah rusak berat, 29 rumah rusak ringan, dan 10 titik jembatan rusak di Kecamatan Karangreja dan Mrebet. Satu korban jiwa, Solehah dari Desa Serang, juga dilaporkan meninggal dunia.

Sebanyak 600 jiwa dari 210 rumah terpaksa mengungsi. Beberapa lokasi, seperti Dusun Gunung Malang juga masih terisolir karena jalan putus, listrik padam, dan kekurangan air bersih.

“Kebutuhan mendesak sangat banyak, mulai dari lauk pauk, air mineral, selimut, hingga perlengkapan bayi dan pembalut wanita,” jelas Armin.

Pihaknya pun mengimbau agar warga tetap waspada. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

"Kami harapannya untuk warga masyarakat yang saat ini tinggal di daerah yang memang terdampak atau rawan bencana mohon bersiap-siap, waspada, mematuhi imbauan dari petugas lapangan," tandasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#pantai utara #BPBD Jawa Tengah #kayu gelondongan #Kabupaten Purbalingga #arus banjir #Kabupaten Tegal #Banjir Bandang #JAWA TENGAH #Kabupaten Brebes #Kabupaten Pekalongan #Kabupaten pemalang