RADARSEMARANG.ID, TEMANGGUNG-Sendok di tangan Muhammad Rhizky bergerak cepat. Nasi di piringnya hampir habis. Sesekali ia melirik teman di sebelahnya, lalu kembali fokus pada makan siang yang tersaji di hadapannya.
“Makanannya enak. Nasinya tidak keras. Saya suka,” kata siswa kelas VII SMP Negeri 6 Temanggung itu polos.
Kalimat sederhana tersebut menjadi gambaran bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diterima para siswa. Di sekolah yang berada di Kabupaten Temanggung itu, waktu istirahat siang tak sekadar jeda belajar. Ia berubah menjadi momen makan bersama yang dinanti.
Rhizky bukan satu-satunya. Ratusan siswa tampak menyantap menu dengan lahap. Makan bersama kawan-kawan membuat suasana terasa lebih akrab. Piring-piring yang semula penuh perlahan kosong.
Program MBG di Temanggung terus berjalan. Hingga kini, sebanyak 14.098 siswa telah menerima manfaat makanan bergizi gratis. Angka itu masih jauh dari target keseluruhan sekitar 156 ribu siswa di wilayah tersebut.
Untuk mengejar target, pemerintah menambah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dapur-dapur ini menjadi tulang punggung penyediaan makanan bergizi bagi pelajar, mulai dari sekolah umum hingga pesantren.
Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Kodim 0706/Temanggung, Kapten Cba Muhabib, menyebut penambahan dapur terus dilakukan agar jangkauan program semakin luas.
“Yang sudah menerima MBG masih sekitar 14 ribu siswa. Masih banyak yang belum terlayani. Untuk pesantren saja jumlah santrinya sangat besar,” ujarnya.
Sebagai bagian dari pengembangan program, empat dapur baru mulai melakukan uji coba pada 10–13 Juni 2025. Salah satu titik uji coba berada di SMP Negeri 6 Temanggung. Saat itu, 761 siswa menerima makan bergizi gratis. Namun, menu lengkap berupa nasi dan lauk diprioritaskan untuk siswa kelas VII dan VIII.
Pantauan di sekolah menunjukkan menu yang disajikan cukup beragam. Siang itu, siswa menerima nasi, sayur, ayam balut tepung, buah jeruk, serta susu. Menu sederhana, namun memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah.
Respons siswa pun positif. Mereka makan tanpa paksaan. Beberapa bahkan meminta tambahan lauk.
Di balik lancarnya distribusi makanan, aspek kualitas dan keamanan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Wakil Bupati Temanggung, drg Nadia Muna, mengingatkan agar penyajian MBG dilakukan secara teliti dan sesuai standar.
Menurutnya, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima, tetapi juga dari mutu makanan dan tata kelola pelaksanaannya.
“Semua harus sesuai SOP. Mulai dari kualitas SDM, dapur, bahan pangan, sampai tata kelola anggarannya. Tidak boleh ada pemotongan di luar ketentuan, karena itu akan berdampak pada kualitas menu yang diterima anak-anak,” tegas Nadia.
Ia juga menekankan pentingnya pemilihan bahan makanan, terutama sayuran dan daging yang mudah rusak. Bahan-bahan tersebut tidak boleh dimasak terlalu awal agar tetap segar dan aman dikonsumsi.
Karena itu, proses penyediaan bahan, pengolahan, hingga distribusi melibatkan pengawasan dari Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Temanggung, dr Intan Pandanwangi, menyebut saat ini terdapat 41 dapur MBG yang telah beroperasi. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring perluasan program.
Di tingkat provinsi, program MBG di Jawa Tengah diproyeksikan menjadi percontohan nasional. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, aktif turun langsung ke lapangan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar.
Belum lama ini, Gubernur Luthfi meninjau pelaksanaan MBG di Solo. Ia mengecek proses penyiapan makanan hingga pendistribusiannya. Menurutnya, program ini berdampak positif bagi konsentrasi belajar dan pemenuhan gizi anak-anak.
Gubernur juga menegaskan setiap dapur SPPG wajib memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) serta didukung posko pengawasan 24 jam. Sertifikat tersebut, kata Luthfi, bukan sekadar formalitas, melainkan jaminan keamanan pangan bagi penerima manfaat.
Bagi Rhizky dan teman-temannya, semua kebijakan itu bermuara pada satu hal sederhana: makan siang yang layak. Sepiring nasi hangat, lauk yang enak, dan perut yang kenyang menjadi bekal untuk kembali ke kelas.
Di Temanggung, program MBG tak hanya bicara angka dan target. Ia hadir dalam cerita-cerita kecil anak sekolah—tentang nasi yang tidak keras, lauk yang enak, dan senyum puas di waktu istirahat siang. (dev/ap)
Editor : Agus AP