Proses renovasi untuk mewujudkan ruang pamer blangkon baru tengah digarap sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata budaya yang melibatkan kolaborasi antara akademisi dan komunitas perajin.
Program renovasi ini dijalankan oleh tim dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang didanai oleh Kemendiktisaintek.
Tim pelaksana dipimpin oleh Nadia Sigi Prameswari, dengan anggota Ratih Ayu Pratiwinindya, Maria Krisnawati, dan Muhammad Nasirul Umam. Pelaksanaan program dilakukan bersama Paguyuban Maju Utomo, komunitas perajin blangkon yang menjadi penggerak utama kawasan tersebut.
Ketua Paguyuban Maju Utomo Ananta Karyana menjelaskan, paguyuban yang telah berdiri sejak 20 tahun lalu tersebut selalu memiliki visi untuk menghadirkan ruang pamer yang layak di Kampung Blangkon.
“Keberadaan ruang pamer sangat penting sebagai wadah untuk menampilkan sejarah, proses, dan keunikan blangkon kepada para pengunjung,” ujarnya.
Langkah awal mewujudkan visi tersebut dimulai dengan merenovasi bagian rumah milik perajin blangkon Jazuli yang telah bersedia berbagi ruang pribadinya demi kemajuan komunitas.
Rumah tersebut selama ini menjadi lokasi produksi sekaligus tempat kunjungan wisata, namun belum memiliki tata pamer yang memadai.
Anggota tim PISN Ratih Ayu Pratiwinindya menekankan pentingnya penataan ruang yang mampu membantu pengunjung memahami nilai budaya blangkon.
“Ruang pamer ini tidak hanya menjadi tempat memajang karya, tetapi juga media edukasi. Kami ingin setiap sudut ruang mampu menjelaskan cerita di balik tradisi pembuatan blangkon,” jelasnya.
Anggota tim lainnya, Maria Krisnawati menyoroti pentingnya keterlibatan komunitas agar ruang pamer memiliki karakter yang kuat.
“Yang terpenting adalah ruang ini merefleksikan identitas para perajin. Karena itu, kami bekerja bersama mereka untuk menentukan apa yang ingin ditampilkan dan bagaimana cara menyampaikannya,” ungkapnya.
Muhammad Nasirul Umam yang terlibat sebagai dosen sekaligus praktisi desain grafis menambahkan perspektif terkait strategi kreatif yang diterapkan dalam pengembangan ruang pamer.
“Pendekatan visual harus mampu menangkap karakter budaya blangkon, tetapi tetap relevan bagi pengunjung masa kini. Strategi kreatif kami adalah memadukan elemen tradisional dengan desain yang simpel dan mudah dicerna, sehingga informasi budaya dapat tersampaikan tanpa menghilangkan identitas lokal,” bebernya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi langsung dengan perajin dalam menentukan elemen visual yang akan ditampilkan.
Saat ini renovasi sedang berjalan, mencakup perbaikan struktur bangunan, penataan interior, serta persiapan sistem display berkonsep living museum.
Ketua tim Nadia Sigi Prameswari menyebutkan, ruang pamer ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman budaya langsung kepada pengunjung.
“Pengunjung tidak hanya melihat produk blangkon, tetapi dapat mengalami suasana, cerita, dan proses pembuatannya,” ujarnya.
Setelah renovasi rampung, program akan dilanjutkan dengan workshop kolaboratif yang melibatkan perajin dan komunitas kreatif untuk menyusun
kurasi display, narasi ruang, dan alur kunjungan.
“Workshop ini menjadi tahap penting untuk memastikan ruang pamer mampu menghadirkan pengalaman wisata budaya yang informatif, menarik, dan berkelanjutan,” katanya.
Dikatakan, program ini diyakini membawa dampak besar bagi kemajuan Paguyuban Maju Utomo.
Kehadiran ruang pamer yang representatif tidak hanya memperluas peluang pemasaran, tetapi juga memperkuat identitas kampung sebagai pusat produksi dan edukasi blangkon.
Perajin setempat menilai bahwa fasilitas baru tersebut akan meningkatkan kepercayaan diri komunitas, memperluas jaringan kunjungan wisata, serta membuka ruang kolaborasi baru yang sebelumnya sulit diwujudkan.
Melalui rangkaian kegiatan PISN yang sedang berjalan, mulai dari renovasi rumah perajin Jazuli hingga penyusunan display berkonsep living museum, Kampung Blangkon Potrojayan semakin mendekati visinya sebagai destinasi wisata budaya yang hidup, autentik, dan berakar pada tradisi lokal. (web/aro)
Editor : H. Arif Riyanto