Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Gus Yusuf Ajak Santri Manfaatkan Teknologi untuk Alat Berjihad

Miftahul A’la • Rabu, 22 Oktober 2025 | 12:10 WIB
Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, KH M Yusuf Chudlori Bincang Media Santri: Membangun Peran Santri dalam Era Dunia Digital
Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, KH M Yusuf Chudlori Bincang Media Santri: Membangun Peran Santri dalam Era Dunia Digital

 

RADARSEMARANG.ID - Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang KH M Yusuf Chudlori mengajak para santri untuk menggunakan gadget yang dimiliki sebagai salah satu alat jihad.

Hal itu diungkapkannya saat menjadi narasumber dalam Bincang Media Santri: Membangun Peran Santri dalam Era Dunia Digital di rumah dinas Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah di Semarang, Selasa (21/10).

"Kalau dulu jihad dengan pedang atau senjata, saat ini gadget bisa digunakan sebagai alat untuk menegaskan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah," ujarnya.

Pelatihan yang digelar Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) ini menghadirkan ratusan santri dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Baca Juga: Gus Yusuf Terima Penghargaan Tokoh Pamomong

Pria yang akrab disapa Gus Yusuf ini menegaskan santri harus selalu menjadi benteng bagi pesantren dan kiai yang selama ini memuliakan ilmu.

Menurut Gus Yusuf, tayangan dalam sebuah stasiun televisi belum lama ini sudah mengarah kepada sebuah framing negatif.

"Memang kita harus terus menjelaskan tanpa henti, karena itu butuh pejihad-pejihad media," jelas Gus Yusuf.

Gus Yusuf mengakui untuk menjelaskan kepada yang belum paham pesantren masih bisa dipahamkan. Namun kepada pihak yang tidak suka pesantren butuh kerja keras.

"Karena untuk menjelaska kepada yang tidak suka, bisa kita ibaratkan menjelaskan indahnya pelangi kepada orang yang buta," bebernya.

Namun upaya itu, katanya, tak boleh berhenti. Utamanya untuk menangkal framing-framing jahat yang ditujukan kepada pesantren.

"Karena sebuah kebenaran jika diframing bisa akan dianggap sebagai sebuah kesalahan, begitu pula sebaliknya," jelasnya.

Gus Yusuf mengakui, pesantren tetap butuh kritik, seperti meningkatkan kebersihan dan kesehatan.

"Tapi kemudian ada tayangan di televisi dengan gambar simbah War (KH Anwar Manshur pengasuh Ponpes Lirboyo), dan diframing bahwa gara-gara terima amplop kiai menjadi kaya raya, maka kita harus jelaskan tanpa henti," tegasnya.

Baca Juga: Pindah Haluan Dukung Luthfi-Taj Yasin, Gus Yusuf Ungkap Alasan Batal Maju Pilgub Jateng

Gus Yusuf menambahkan saat dirinya nyantri di Lirboyo sekira tahun 1985, Kiai Anwar sering dia lihat menjemur gabah setelah menegaji. Kemudian mengurusi pabrik tahu dan es batu.

"Minggu lalu saya sowan, rumahnya juga tidak berubah. Mbah War sudah selesai dengan urusan keduniaan," terangnya.

Atas dasar itu, jelas Gus Yusuf, tayangan itu membuat para santri marah besar.

"Lalu ada soal kerja santri yang kalau di pesantren dikenal dengan roan. Itu bukan kerja paksa tapi tabarukan mencari berkah," terangnya.

Baca Juga: Lautan Santri Tumpah di Kendal! Ribuan Ikuti Jalan Sehat Hari Santri Nasional 2025

Saat roan, seperti dirinya pernah lakukan, santri selalu menyambut dengan gembira. Karena sudah pasti kegiatan mengaji libur dan mendapatkan makanan bergizi.

"Roan itu juga tidak setiap hari, bisa hanya sebulan sekali," katanya.

Tradisi roan, jelas Gus Yusuf, juga mendidik santri agar tidak jumud atau statis. Bahkan menjadi sebuah inspirasi.

"Bahwa santri melihat sawahnya kiai, melihat usaha kiainya, maka setelah selesai mondok kita juga setidaknya meniru berbagai usaha yang dilakukan kiai itu," paparnya.

Roan juga memunculkan sikap kepedulian bersama, dan tanggap lingkungan. "Mosok santri hanya tengak tenguk saja di kamar saat ada kerja bakti," tandasnya. (fth)

Editor : Baskoro Septiadi
#HARI SANTRI #Yusuf Chudlori #gus yusuf